Skip to main content

Sumber Epistemologi dalam Perspektif Islam

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: December 27, 2012

Sumber epistemologi dalam perspektif Islam adalah al-Quran dan al-Hadis. Sumber-sumber pengetahuan (epistemologi) dalam Filsafat Islam dapat diklasifikasikan menjadi tiga grand point:
Wujud (Wujudiyah)
Sumber epistemologi dalam perspektif Islam yang pertama, adalah wujud (wujudiyah). Teori ini disampaikan oleh Mulla Shadra, Mulla Shadra membedakan antara wujud dan mahiyah, eksistensi dan esensi sebagai tesis-tesis filosofis yang paling mendasar dan dominan dalam pemikiran Islam. Persoalan di atas memicu untuk menentukan manakah yang asli (aşl) dan i’tibari. Konsepsi Sadra berpijak pada pola pikir filsafatnya al-Kindi. Al-Kindi menerangkan tentang subtansi antara kulliyah (mahiyah) dan juziyah (aniyah). Aniyah adalah benda-benda partikuler dan mahiyah adalah subtansi universal yang bersifat genus dan spesis.
Konsepsi kebenaran wujudiyah dalam sumber kebenaran Islam baik al-Quran maupun Hadis dapat dijelaskan pada konteks ayat-ayat kauniyah dan dalil-dalil empirik. Ayat al-Quran yang berbicara pada konteks ini banyak sekali.
Teori ini menjadi berkembang (dinamis) oleh aliran eksistensialisnya Soren Kierkegard. Dan beberapa kritik yang dilakukan oleh Heidegger dengan teori analisis eksistensialis. Teori eksistensi Heidegger banyak berafiliasi tentang das sein manusia. Eksistensi tidak hanya diorientasikan pada hal-hal yang metafisis,
Wujud tidak hanya dimaknai sebagai fakta yang riil semata, namun wujud juga berafiliasi dengan fakta yang unik dan sukar dianalisis. Ia merupakan realitas konkrit yang tidak pernah hadir dalam pikiran. Contoh, cahaya sebagai suatu abstraksi yaitu bersinar. Ia tidak memiliki wujud di dunia eksternal, namun sebagai suatu fakta, cahaya merupakan sesuatu yang ada secara eksternal. Ia ada dalam dirinya sendiri dan menjadikan yang lain terlihat oleh penyinarannya. Aliran (kebenaran) ini sama dengan aliran empirisme dalam perspektif barat.
Isyraq (Isyraqiyah)
Isyraqiyah sebagai sumber epistemologi dalam perspektif Islam yang kedua disampaikan oleh Suhrawardi. Konsepsi isyraqiyah yang dibangun oleh Suhrawardi menekankan pada filsafat intuisi (hikmah iauqiyah) ilmu hudhuri (al-‘ilm al-huduri) dan ilmu penyaksian (al-‘ilm as-syuhudi).
Filsafat isyraqiyah menekankan unsur-unsur intuisi yang melampaui pemikiran diskursif (hikmah bahyah). Akan tetapi, ia bukanlah filsafat yang bertolak belakang pada filasafat paripatetik dan ajaran-ajaran Aristoteles. Sebenarnya filsafat paripatetik yang dikaji oleh Suhrawardi adalah titik tolak dan unsur yang tidak terpisahkan dari metodologi illuminasi, karena dengan berpijak pada filsafat paripatetik seseorang dapat menyadari bagaimana sebenarnya tujuan dari filsafat illuminasinya Suhrawardi.
Suhrawardi dalam menjelaskan prinsip-prinsip teorinya menggunakan tahapan (station). Pertama, ditandai (signed) dengan aktifitas sebagai filosof ia harus memisahkan dunia materi. Kedua, mengindikasikan pada pengalaman tertentu. Filosof akan sampai pada tingkatan pancaran cahaya Tuhan (an-nur al-ilahi). Ketiga, ditandai (signed) dengan pencapaian dan perolehan yang tidak terbatas dan tidak terikat yaitu konstruksi pengetahuan illuminasi (al ‘ilm al isyraqiyyah).
Menurutnya, jenis pengetahuan yang paling valid adalah jenis pengetahuan yang dialami oleh subyek tentang apa yang disebut cahaya-cahaya apokaliptik (asy-syawanih al-nuriyah). Secara general ini adalah pengetahuan yang diperoleh dengan model kognisi yang disebut pengalaman mistik. Pengalaman-pengalaman itu sebagai dasar sementara filsafat diskursif secara sistemik dibangun lewat metode demonstrasi.
Meskipun demikian, filsafat isyraqiyyah Suhrawardi berbeda dengan hasil yang dicapai oleh filsafat demonstrasi (burhant). Jika filsafat demonstrasi (burhant) dalam analisisnya berpijak pada metode konsepsi-konfirmasi (tasawwur-tasdiq) dan silogisme, maka filsafat isyraqiyyah dalam analisisnya berangkat pada tangkapan intuisi atas segala realitas yang banyak mengandalkan pada pengalaman mistik dan bukan didasarkan pada pendefinisian.
Dalam ungkapan yang lain, ia sepakat dengan formulasi paripatetik yang menegasikan bahwa konsepsi bentuk pencapaian dalam pikiran selama sesuatu itu being dan bersifat inderawi. Ia tidak puas dengan konsepsi paripatetik, jika sesuatu dipahami bukan berwujud dan tidak menjadi bagian dari data inderawi. Maka pada kasus ini illuminasi dinyatakan sebagai pengetahuan yang didasarkan pada korelasi (idafah), yang diperoleh dalam pikiran, antara realitas (hakekat) sesuatu dengan sesuatu itu sendiri. Paparan di atas, menunjukkan bahwa ide wujud inderawi adalah sama, tetapi tidak demikian halnya pada ide wujud non inderawi. Tempat idenya dihubungkan dengan persepsinya dan karena itu secara epistemologi lebih dahulu.
Masya’i (Masya’iyah)
Sumber epistemologi (epistemological resources) yang ketiga yaitu Masya’iyah. Aliran masydiyah sebagai bagian dari aliran filsafat yang menginduk pada Aristoteles. Filsafat Masya’iyah (hikmah al-masyaiyah) dalam Islam dipelopori oleh al-Kindi dan diteruskan oleh Ibn Sina. Filsafat Masya’iyah berasal dari filsafat paripatetik yang diasosiasikan kepada Aristotelianisme dan Platonisme yang diintegrasikan dengan ajaran Islam yakni wahyu. Islam tidak akan merasa malu untuk mengakui dan mengambil kebenaran dari mana saja ia datang, Walaupun bukan berasal dari sumber Islam sendiri. Meskipun ada pendapat lain mengungkapkan bahwa Filsafat Masya’iyah itu murni filsafat diskursif dan konfirmatis yang diasosiasikan kepada karya-karya Aristotelianisme yang monumental dan bersifat demonstratif.
Masya’iyah adalah filsafat yang mengagungkan rasio. Bagi aliran masya ’iyah konsepsi adalah pencapaian bentuk sesuatu dalam pikiran (verstand) baik sesuatu itu wujud (being) atau tidak berwujud yang dapat di inderawi. Pijakan aliran ini adalah terletak pada pemaknaan esensi atau wujudiyah (aniyah) dan hakekat (mahiyah) dan substansi universal dan partikuler. Menurut paripatetik esensi itu bersifat universal dan partikuler (ai-iati al ‘amum wa al khayah), esensi universal berkenaan dengan realitas universal (al-haklkat al-kulliyah) yang disebut “jenus”. Esensi khusus disebut “differensia” (al-fayl) dan berkorelasi dengan sesuatu yang spesifik. Filsafat paripatetik berpandangan bahwa definisi tersusun dari genus dan differensia dari sudut pandang (weltanschaung) yang berbeda. Pada hakekatnya aliran ini hampir sama dengan aliran rasionalisme Barat dalam mencapai hakekat kebenaran.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Syafan Nur, Filsafat Wujid Mulla Sadra, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002). Hussein Ziai, Knowledge and Illumination: A Study of Suhrawardi ’s Hikmah al-Isyraq, Terj. ‘Afif Muhammad dan Munir, Suhrawardi dan Filsafat Illuminasi Pencerahan Ilmu Pengetahuan, (Zaman Wacana Mulia, Bandung, 1998). Harun Nasution, Filsafat Islam, (Bulan Bintang, Jakarta, 1973). Sudarsono, Filsafat Islam, (Rineka Cipta, Jakarta, 1997). Zainal ‘Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia melalui Filsafat, (PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000). Ahmad Fuad al-Ahwani, Filsafat Islam, (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991). Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (1992).
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar