.

Konstruktivisme dalam Pembelajaran

 

Konstruktivisme (construktivism) dalam pembelajaran, adalah landasan berpikir pembelajaran kontekstual yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong atau insidentil.
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Konstruktivisme dalam pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengonstruksi” bukan “menerima” pengetahuan dalam proses pembelajaran peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar.
Peserta didik menjadi pusat kegiatan, bukan pendidik. Pandangan konstruktivisme “strategi memperoleh”, lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Oleh karena itu, tugas pendidik adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relefan bagi peserta didik (2) memberi kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan idenya sendiri (3) menyadarkan peserta didik agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Batasan konstruktivisme dalam pembelajaran tersebut, memberikan penekanan bahwa konsep menjadi penting sebagai bagian integral dari pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik, akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang dimiliki peserta didik itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap peserta didik untuk di aktualisasikan dalam kondisi nyata.
Selanjutnya Nurhadi dalam Kunandar, menyebutkan ciri-ciri pendidik yang telah mengajar dengan pendekatan kontruktivisme adalah sebagai berikut: 1) Pendidik adalah salah satu dari berbagai macam sumber belajar, bukan satu-satunya sumber belajar. 2) Pendidik membawa peserta didik masuk kedalam pengalaman-pengalaman yang menentang konsepsi pengetahuan yang sudah ada dalam diri mereka. 4) Pendidik membiarkan peserta didik berpikir setelah mereka disuguhi beragam pertanyaan-pertanyaan pendidik. 5) Pendidik menggunakan teknik bertanya untuk memncing peserta didik berdiskusi satu sama lain. 6) Pendidik menggunakan istilah-istilah kognitif, seperti klasifikasikan, analisislah, dan ciptakanlah ketika merancang tugas-tugas. 7) Pendidik membiarkan peserta didik untuk membiarkan secara otonom dan berinisiatif sendiri. 8) Pendidik menggunakan data mentah dan sumber primer bersama-sama dengan bahan-bahan pelajaran yang dimanipulasi. 9) Pendidik tidak memisahkan antara tahap “mengetahui” dari proses “menemukan”. 10) Pendidik mengusahakan agar peserta didik dapat mengomunikasikan pemahaman mereka karena dengan begitu mereka benar-benar sudah belajar.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1997). Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (Cet. IV; Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2008).
Konstruktivisme dalam Pembelajaran 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, Konstruktivisme (construktivism) dalam pembelajaran, adalah landasan berpikir pembelajaran kontekstual yang menyatakan bahwa pengetahuan di...


Advertisement

No comments:

Post a Comment