.

Teori Nilai dalam Filsafat

 

Setiap ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang kemudian akan diterapkan pada masyarakat. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah teknologi yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat tentu tidak terlepas dari si ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuan serta masalah bebas nilai. Untuk itulah tanggung jawab seorang ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral. Hal inilah yang menjadi dasar pengenalan teori nilai.
Menurut Jujun S. Suriasumantri, istilah aksiologi diartikan sebagai teori nilai, berkaitan dengan kegunaan pengetahuan yang diperoleh. Secara teori, aksiologi dibagi kepada tiga bagian, yaitu: (1) Moral Conduct (tindakan moral), (2) Esthetic Expression (Ekspresi Keindahan), dan (3) Sosio Political Live (Kehidupan Sosial Politik).
Terkait dengan nilai etika atau moral, sebenarnya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral, namun dalam perspektif yang berbeda. Teori nilai menyangkut sikap manusia untuk menyatakan baik atau jelek, benar atau salah, diterima atau ditolak. Dengan demikian manusia memberikan konfirmasi mengenai sejauh mana manfaat dari obyek yang dinilainya. Demikian juga terhadap ilmu.
Ilmu dan moral memiliki keterkaitan yang kuat. Ilmu bisa jadi malapetaka kemanusiaan jika seseorang yang memanfaatkannya “tidak bermoral” atau paling tidak mengindahkan nilai-nilai moral yang ada. Namun sebaliknya, ilmu akan menjadi rahmat bagi kehidupan manusia jika dimanfaatkan secara benar dan tepat,tentunya tetap mengindahkan aspek moral. Berbicara moral sama artinya berbicara masalah etika atau susila, mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan lurus.Karena moral umum diukur dari sikap manusia pelakunya,timbul pula perbedaan penafsiran .
Dalam teori nilai, masalah etika atau susila mengakibatkan berbagai pendapat tentang etika tergantung citra dan tujuannya. Ada etika individual dan sosial, ada etika situasi dan esensial. Dua pertentangan dalam etika modern, yaitu etika yang memperhatikan faktor psikologi secara nilai kebahagiaan, dan etika situasi atau historisme yang berpendapat bahwa ukuran baik dan jahat ditentukan oleh situasi atau keadaan zaman.
Adapun teori nilai dari sisi estetika, titik tekannya adalah pada penilaian subjek terhadap objek, atau berusaha memilah dan membedakan suatu sikap atau perbuatan objek. Penilaian ini, kadang objektif dan kadang subjektif tergantung hasil pandangan yang muncul dari pikiran dan perasaan manusia. Penilaian menjadi subjektif apabila nilai sangat berperan dalam segala hal. Mulai dari kesadaran manusia yang melakukan penilaian sampai pada eksistensinya dalam lingkungan. Untuk itu, makna dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek pada objek yang dinilai tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau fisik. Artinya, penilaian subjektif akan selalu memperhatikan akal budi manusia, seperti perasaan dan intelektualitas. Makanya, hasil dari penilaian ini selalu mengarah pada suka atau tidak sukanya subjek, atau senang dan tidak senang. Seperti, keindahan sebuah karya seni tidak dikurangi dengan selera (perasaan) rendah orang yang menilai.
Lain halnya pelacakan teori nilai melalui kacamata sosial, penilaian ini berangkat dari penilaian pola tingkah laku, pola berfikir, dan interaksi Objek dengan lingkungannya. Sehingga titik tekannya pada cara mengamati kecenderungan objek dalam lingkungan. Menurut Ambroise seperti yang dikutip oleh Rahmat Mulyana, menekankan bahwa dalam pengamatan ketiga realitas nilai itu terdapat perbedaan kultural antara suatu masyarakat atau bangsa dengan yang lainnya.
Untuk itu, dapat difahami bahwa ketiga teori nilai tersebut di atas, terdapat prinsip-prinsip relatifitas dalam penilaiannya. Tapi walaupun demikian, kata kunci ialah dibalik relatifitas nilai tersebut setiap orang yang menggunakan ilmu harus mengembalikan kepada tujuan awal dari ilmu tersebut, yaitu ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau bahkan mengubah hakikat kemanusiaan.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Rahmat Mulyana, Mengartikulasikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta, 2004. Riseiri Frondiz, What Is Value?, Yogyakarta: Pustaka Pelajaran, 2001. Irmayanti M. Budianto, Filsafat dan Metodologi Ilmu Pengetahuan; Refleksi Kritis Atas Kerja Ilmiah, Depok: Fakultas Sastra UI, 2001. Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997. Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer,Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003. Soetriono & Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Yogyakarta: Andi, 2007.
Teori Nilai dalam Filsafat 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Terkait dengan nilai etika atau moral, sebenarnya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral, namun dalam perspektif yang berbeda. Teori nilai menyangkut sikap manusia untuk menyatakan baik atau jelek, benar atau salah, diterima atau ditolak. Setiap ilmu pengetahuan akan menghasilkan teknologi yang kemudian akan diterapkan pada masyarakat. Proses ilmu pengetahuan menjadi sebuah t...



Advertisement

No comments:

Post a Comment