.

Gaya Pernikahan Ali dan Fatimah

 

Tidak lama setelah pulang dari perang Badar, Nabi sudah dapat memastikan bahwa sudah tiba waktunya untuk membicarakan pernikahan Ali (baca Ali bin Abi Thalib) dengan Fatimah, bahwa Ali harus menyampaikan lamarannya kepada Fatimah terlebih dahulu secara resmi. Tetapi Ali sendiri masih ragu-ragu dan bersikap maju mundur, hal ini disebabkan keadaan Ali yang sangat miskin. Ia hanya punya hati, tetapi tidak punya harta. Ia tidak dapat menerima warisan sedikitpun dari ayahnya. Hukum agama yang diatur dalam islam melarang orang beriman menerima warisan dari orang musyrik.
Tak lama sesudah mendirikan rumah tak jauh dari mesjid, ia memberanikan diri untuk melamar Fatimah. Ada hadis menyebutkan, bahwa sebelum bergaul seorang istri harus menerima sesuatu dari suaminya, dalam artian pihak suami harus memberikan sesuatu kepada istrinya. Rasulullah saw memerintahkan kepada Ali untuk memberikan sesuatu kepada istrinya. “tetapi saya tidak punya apa-apa” kata Ali. “mana baju besimu?”, Tanya Nabi. Ali lalu memberikan baju besinya kepada istrinya (Fatimah).” Sesudah segalanya disiapkan, dilangsungkanlah pernikahan keduanya. Dalam perhelatan ini disembelihlah seekor domba, dan beberapa orang dari golongan Anshar yang menyediakan makanan.
Seperti halnya suaminya Ali, Fatimah pun seorang sosok yang sederhana. Beberapa sumber menyebutkan, bahwa perlengkapan yang ada di rumahnya dan yang menjadi miliknya untuk memperiapkan pernikahan, sangat bersahaja, terdiri dari baju, khimar (tutup kepala), baju bulu, handuk, dua alas tidur, satu dari alat serabut, empat buah tempat sandaran yang diisi rumput kering, tempat tidur yang terbuat dari pelepah daun kurma, kulit domba, tikar, tabir dari bulu domba, gelas dari kayu, penggiling tepung, pasu tembaga untuk mengadon dan mencuci pakaian, dua buah kirbat besar dan kecil, sebuah tempat air dari daun kurma yang direkat, guci berwarna hijau, dua kendi dari tembikar, dan sebuah ayakan.
Pernikahan tersebut berlangsung dalam bulan Zulhijjah tahun ke-dua setelah Hijrah sekitar juni 624 M. Pernikahan dilangsungkan dengan mahar 400 Misqal (1 misqal= 1. 3/7 Dirham uang perak. Nilai ini bervariasi sesuai dengan jamannya).. Untuk hadiah pernikahan putrinya Nabi memberikan selembar permadanai putih. Perempuan-perempuan Anshar yang kaya pun turut memberikan hadiah kepada kedua mempelai berupa pakaian, wangi-wangian, dan beberapa keluarga anshar meminjamkan perhiasan emas untuk digunakan dalam perhelatan tersebut.
Selesai perhelatan itu, dan tamu pada mulai pulang, tinggal hanya Ali seorang diri. Rasullah pergi menemui Fatimah putrinya. Ketika itu Fatimah tinggal hanya dengan seorang perempuan. Nabi bertanya kepada perempuan itu, kenapa masih tinggal di sana, sementara tamu sudah mulai pulang. “saya akan menjaga putri anda”, jawab perempuan itu. “pada malam pertama seorang pengantin perempuan perlu ditemani oleh seorang perempuan lain, siapa tahu mempelai itu memerlukan sesuatu atau hendak membicarakan sesuatu”. Ketika itu Rasulullah saw mendoakan perempuan tersebut, “semoga Allah selalu menjagamu dari gangguan syaithan.” Perempuan itu adalah Asma binti Umais, istri Ja’far bin Abi Thalib ra.
Tak berselang lama, mempelai perempuan datang, mengenakan pakaian baru, dan wangi-wangian yang diterimanya sebagai hadiah, disamping perhiasan mahal yang akan dikembalikan keesokan harinya karena hanya pinjaman. Melihat pengantin laki-laki, Ali bin abi thalib yang duduk di samping ayahnya, tiba-tiba Fatimah menangis. Ayahandanya (rasulullah) bertanya kenapa putrinya menangis???,
Insya Allah, akan kami lanjutkan (jawab) pada edisi berikutnya…
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Ali Audah, Ali bin Abi Thalib Sampai kepada Hasan dan Husain. Pustaka Lentera Antarnusa, 2008. Muahmmad Jawad Mughniyyah, al-Imam Ali.tt. jalaluddin as-Suyuthi, Tarikh Khulafa. Tt.
Gaya Pernikahan Ali dan Fatimah 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Tak lama sesudah mendirikan rumah tak jauh dari mesjid, ia memberanikan diri untuk melamar Fatimah. Ada hadis menyebutkan, bahwa sebelum bergaul seorang istri harus menerima sesuatu dari suaminya, dalam artian pihak suami harus memberikan sesuatu kepada istrinya. Tidak lama setelah pulang dari perang Badar, Nabi sudah dapat memastikan bahwa sudah tiba waktunya untuk membicarakan pernikahan Ali (baca ...


Advertisement
Post a Comment