Skip to main content

Analogi Dosa; Ular dan Pemain Sirkus

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: September 07, 2011

Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular yang akan dilatih bermain sirkus. Beberapa hari kemudian, ia menemukan beberapa anak ular memilih yang terbaik dari anak ular itu dan mulai melatihnya. Latihan yang diajarkan adalah latihan membelit mangsa dengan harapan tetap jinak pada tuannya. Mula-mula anak ular itu dibelitkan pada kakinya. Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan yang lebih berbahaya bagi pemain sirkus sendiri, di antaranya membelit tubuh pelatihnya. Sesudah menganggap berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. Uang yang diterimanya semakin besar.
Suatu hari, ketika diadakan sirkus besar-besaran, dan permainan segera dimulai. Atraksi demi atraksi silih berganti. Semua penonton tidak putus-putusnya bertepuk tangan menyambut setiap pertunjukkan. Akhirnya, tibalah acara yang dinantikan oleh pemain sirkus untuk melihat jerih payahnya selama ini. Permainan mendebarkan, yaitu permainan ular. Pemain sirkus memerintahkan ular itu untuk membelit tubuhnya. Seperti biasa, ular itu melakukan apa yang diperintahkan. Ia mulai melilitkan tubuhnya sedikit demi sedikit pada tubuh tuannya. Makin lama makin keras lilitannya. Pemain sirkus kesakitan. Oleh karena itu ia lalu memerintahkan agar ular itu melepaskan lilitannya, tetapi ia tidak taat. Sebaliknya ia semakin liar dan lilitannya semakin kuat. Para penonton menjadi panik, ketika jeritan yang sangat memilukan terdengar dari pemain sirkus itu, dan akhirnya ia terkulai mati.
Sebuah analogi tentang dosa coba diutarakan penulis. Dosa diibaratkan seekor ular, terkadang dosa terlihat tidak membahayakan, terkadang kita merasa tidak terganggu dan dapat mengendalikannya, terkadang bahkan kita merasa bahwa kita sudah terlatih untuk mengatasinya, terkadang kita yang mencarinya untuk sebuah keuntungan, kita yang “melatih’ dosa itu untuk ramah dengan kita, terkadang kita mempertontonkan dosa itu, terkadang kita bangga dengan dosa itu, terkadang orang lain suka dan memberi tepuk tangan dosa itu, dan bahkan kita tidak sadar, dosa itulah yang membuat kita “mati”. Wallahu a’lam.
Surga Makalah®
Sebagian dikutip dari http://iphincow.wordpress.com/2010/08/11/pertunjukkan-akhir/
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar