.

Moral menurut Pemikir Barat

 

Para pemikir barat telah menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang moral. Adapun pemikiran-pemikiran filsuf barat tentang moral dibagi dalam tiga periode (masa), yakni periode klasik, periode pertengahan, periode modern.
Periode Klasik
Pada masa klasik tidak dapt terlepas dari para pemikir-pemikir Yunani yang mengkonsep pemikirannya terutama dibidang moral yang masih dalam tahapan yang sangat sederhana. Dalam masa ini, tokoh yang banyak membukukan karya-karyanya secara lengkap adalah Plato.
Menurut Plato, orang itu baik apabila ia dikuasai oleh akal budi, perilaku buruk apabila ia dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu oleh karena itu apabila ingin mencapai suatu hidup yang baik, yang tenang, bersatu, terasa bernilai, hal pertama yang perlu usahakan adalah membebaskan diri dari kekuasaan irrasional, hawa nafsu dan emosi serta mengarahkan diri menurut akal budi.
Menurut Plato orang yang mengikuti akal budi adalah orang yang berorientasi kepada realitas yang sebenarnya, akal budi adalah kemampuan untuk melihat dan mengerti, apabila kita dikuasai akal budi, tindakan kita juga berubah dan menjadi terarah.
Idea tertinggi adalah idea sang baik, untuk mencari kebenaran menurut Plato adalah cinta, cinta terhadap yang abadi sekaligus akan membahagiakan semakin seseorang berhasil melepaskan diri dari keterikatan pada dunia jasmani indrawi, semakin kita akan abadi.
Sang baik adalah dasar dari segala-galanya, manusia yang baik pada dasarnya adalah manusia yang seluruhnya terarah kepada sang baik, segala kebaikan yang ditemukan di dunia merupakan cerminan kebaikan yang dasariah itu, hidup manusia akan semakin bernilai bila terarah kepada nilai dasar, yaitu sang baik.
Manusia dapat membebaskan jiwanya, bila ia telah cukup mendapat pengetahuan sehingga mampu melihat ke atas, kedunia idea orang yang telah mengisi hidupnya dengan berusaha mendapatkan pengetahuan akan dunia idea, setelah meninggal jiwanya akan kembali memperoleh kebahagiaan melihat ideal seperti sebelum terpenjaranya dalam tubuh. Menurut Plato, hidup manusia di dunia ini hanya sementara saja dan mempunyai tujuan yang lebih luhur, yaitu untuk membebaskan jiwanya agar memperoleh kebahagiaan. Tetapi manusia seringkali lebih tertarik pada dunia materi, hanya mereka yang sungguh-sungguh berusaha sekuat tenaganya untuk bisa berhasil naik kedunia ideal.
Plato membedakan empat keutamaan paling utama, yaitu kebijaksanaan, keberanian, sikap tahu diri dan keadilan sebagai keutamaan yang mengembangkan keutamaan dan lain dan mempersatukannya. Orang yang mengusahakan keempat keutamaan ini juga menciptakan kondisi agar rohnya dapat diangkat ke alam rohani, dengan demikian, ia dapat mencapai suatu hidup yang utuh dan bernilai, karena itulah Plato selalu menegaskan bahwa jiwa itulah hakikat manusia sesungguhnya.
Periode Pertengahan
Dalam periode ini dianggap sebagai zaman kegelapan zaman tanpa budaya dan tanpa rasionalitas karena pada masa ini merupakan masa kegelapan pada ilmu pengetahuan karena pada masa ini para filsuf tidak berani, mengeluarkan idea-ideanya.
Tokoh yang mewakili abad ini adalah Thomas Aquinas (1225- 1274) dilahirkan di Italia dan ia meninggal dunia pada usia 49 tahun ia meninggalkan karya tulisan yang merupakan suatu edisi modern yang mengumpulkan semua karyanya, yang terdiri dari 34 jilid.
Manusia menurut Thomas Aquinas, adalah satu substansi saja oleh karena itu jiwa manusia tidak merupakan suatu substansi lengkap sebagaimana yang dipikirkan oleh Plato, jiwa adalah bentuk yang menjiwai materi, yaitu badan, tetapi jiwa menjalankan aktifitasnya yang melebihi aktifitas badan, maka setelah manusia mati jiwanya akan hidup terus dengan demikian Thomas Aquinas mempertahankan kebakaan jiwa dan ia mengakui bahwa jiwa sesudah kematian akan hidup terus sebagai bentuk,hal itu cocok dengan ajaran Kristian mengenai kebangkitan badan, walaupun seorang filsuf atas dasar insani belaka tidak mampu membenarkan agama tersebut.
Menurut Thomas Aquinas, kebenaran teologis yang diterima oleh kepercayaan melalui wahyu tidak dapat ditentang oleh suatu kebenaran filsafat yang dicapai dengan akal manusia, karena kedua kebenaran tersebut mempunyai sumber yang sama pada Tuhan, filsuf bebas menyelidiki dengan metode yang rasional, asalkan kesimpulannya tidak bertentangan dengan kebenaran yang tetap dari teologi.
Etika hukum kodrat dapat mengizinkan sebuah pluralisme moralitas yang mutlak tidak berubah hanyalah prinsip dasar bonum Esast Fuciendum Et Prosepuendum, Et Malum Vitandum (yang baik harus dilakukan dan diusahakan dan yang buruk harus dihindari) yang baik adalah apa yang ditujui oleh semua, maka yang baik adalah apa yang mengarahkan makhluk apapun pada tujuannya. Tujuan itu ditentukan oleh kodrat, terutama kodrat manusia tetapi kodrati itu bukan sesuatu yang kaku maka kebanyakan hukum moral berlaku Ut In Pluribus, (hanya dalam kebanyakan kasus), jadi bukan selalu dan dimana-dimana kodrat itu dimodifikasi oleh kekhasan situasi dan kondisi.
Etika Thomas Aquinas sangat berpengaruh dalam filsafat Kristiani terutama yang Katolik. Thomas Aquinas memahami moralitas sebagai ketaatan terhadap hukum kodrat, hukum kodrat dimaksudkan sebagai keterarahan kodrat manusia, bersama dengan kodrat alam semesta pada perwujudan hakekatnya. Hidup menurut hukum kodrat berarti hidup sedemikian rupa sehinga kita mencapai tujuan kita dan menjadi bahagia. Tetapi karena kodrat semua mahluk diciptakan oleh kebijaksanaan Allah, artinya hukum kodrat dalam pengertian Thomas Aquinas adalah partisipasi dalam hukum yang abadi, maka apabila manusia taat kepada hukum kodrat ia sekaligus mencapai kesempurnaanya, menjadi bahagia dan memenuhi kehendak Allah.
Periode Modern
Seorang filsuf Jerman yang mempunyai kedudukan tersendiri oleh sejarah filsafat abad 19 Friedrich Nietzsche yang lahir di Rocken di Saksonia, Jerman, pada tahun 1844-1900 ayahnya adalah seorang pendeta Luthrearan, ia dibesarkan di lingkungan orang-orang religius sehingga ia dididik secara sangat religius.
Also Sparch Zarathustra merupakan salah satu karya terbesarnya yang mengungkapkan filsafat Nietzsche, menurut pendapatnya dalam tingkah laku manusia satu-satunya yang menentukan adalah daya pendorong hidup atau nafsu.
Salah satu ajaran Nietzsche yang terkenal adalah pendirinya tentang del libermanch (manusia atas) atau manusia super, manusia atas adalah manusia yang mengetahui bahwa Tuhan sudah mati, Dan tidak ada sesuatupun yang melebihi mengetahui dunia ini, manusia atas mengakui dunia ini seratus persen, menerima secara konskuen bahwa ia sendiri merupakan kehendak untuk berkuasa di sini menurut dia manusia atas adalah kaisar romawi yang mempunyai jiwa Kristus. Karena manusia atas adalah yang kuat, berani berbudi luhur, berbudaya, estetik, bebas yang tidak dihadang oleh belas kasih dengan yang lemah, dan yang seperlunya berani bertindak kejam.
Hidup baginya adalah kehendak untuk berkuasaan segala yang hidup mencari kekuaasan, bahkan hanya mencari keuasaan karena hidup adalah nilai tertinggi, manusia yang betul-betul menjadi diri, manusia yang mencari identitasnya harus mengatasi cita-cita kemanuisaan yang ditentukan oleh moralitas lama dan mewujudkan kehendak untuk berkuasa. Di sini kehendak berkuasa berarti membebaskan diri dari belenggu dan psikis. Seperti ketahutan, kasih sayang, perhatian terhadap orang lemah, dan segala macam aturan yang mengerem nafsu.
Nietzsche membedakan dua macam moralitas, yang dalam kenyataan tidak muncul secara murni, melainkan masih bergelut satu sama lain, yaitu moralitas budak dan moralitas tuan, moralitas budak adalah moralitas orang kecil, lemah, moralitas orang yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri, moralitas budak lahir dari sentimen orang lemah terhadap orang kuat dalam merasa iri terhadap mereka yang mampu, yang kuat sedangkan moralitas Tuhan membenarkan kekuatan dan kekuasaan untuk mengikuti kepentingannya sendiri.
Paham moralitas Nietzsche merupakan contoh jelas relativisme moral yang normatif, dia menolak secara implisit anggapan bahwa norma-norma moral berlaku mutlak dan universal, setiap golongan orang yang moralitasnya sendiri, baik itu moralitas tuan maupun moralitas budak.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Bernard Delfgauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, Terj, Soejono Soemargono, (Tiara Wacana Yogyakarta, Yogyakarta, 1992). Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Kanisius, Yogyakarta, 2001). K Berntens, Ringkasan Sejarah Filsafat, (Kanisius, Jakarta, 1979). Frans Magnis Suseno, 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani, Sampai Abad Ke 19, (Kanisius Yogyakarta, 2000). C.A. Van Peursen, Menjadi Filsuf Suatu Pendorong Kearah Berfilsafat Sendiri, (Qalam, Yogyakarta, 2003). Franz Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Kanisius, Yogyakarta, 1992).
Moral menurut Pemikir Barat 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Adapun pemikiran-pemikiran filsuf barat tentang moral dibagi dalam tiga periode (masa), yakni periode klasik, periode pertengahan, periode modern. Para pemikir barat telah menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang moral. Adapun pemikira...


Advertisement
Post a Comment