.

Biografi KH. Noor Ahmad

 

KH. Noor Ahmad lahir di Jepara pada hari Kamis Kliwon 14 Desember 1932 M/ 19 Rajab 1351 H. dari pasangan KH. Shiddiq bin Saryani dan Hj. Sawinah.
Pejalanan intelektual KH. Noor Ahmad, dimulai dari pendidikan madrasah yang ada di kampung halamannya sendiri, sebelum melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Tasywiq al-Thullab Salafiyah (TBS) Kudus.
KH. Noor Ahmad menekuni Ilmu Falak ketika duduk di bangku Madrasah TBS. Noor Ahmad muda belajar ilmu Falak menggunakan kitab Falak karangan Kiai Mawardi Solo. Pada masa itu, dia menyalin kitab tersebut dengan tinta tutul yang digunakan santri zaman dahulu untuk memberi makna kitab kuning.
Keistimewaan cara belajar Noor Ahmad kepada Mbah Toor (sapaan akrap K H. Turaichan Adjhuri asy-Syarofi) adalah, ia belajar langsung tanpa memakai kitab panduan.
Setelah menamatkan pendidikannya di Kudus, Noor Ahmad remaja kemudian berkelana ke pesantren-pesantren lain di Jawa. Di antara pesantren yang pernah disinggahi ialah Tebuireng Jombang, Langitan, Lasem dan Salatiga. Pejalanannya menuntut ilmu Falak ini dilakukan setelah mendapatkan restu dari gurunya, KH. Turaichan. Yaitu setelah Noor Ahmad dianggap telah cukup menguasai dasar-dasar Falakiyah dan membutuhkan bersilaturrahim (mengaji) kepada guru-guru lain. Dari sinilah Noor Ahmad menguasai banyak metode dalam perhitungan Falakiyah.
Selama di Salatiga, Noor Ahmad belajar kepada Kiai Zubair Umar al-Jaelani, pengarang kitab al-Khulashah al-Wafiyah. Adapun selama di pesantren Langitan, Noor Ahmad mengaji kepada Kiai Abdul Hadi dan akrab dengan Kiai Abdullah Faqih yang merupakan teman satu angkatannya.
Selain belajar secara jasmaniah, KH. Noor Ahmad juga diperintahkan oleh gurunya, KH. Turaichan, untuk berguru secara ruhaniah. Cara berguru ini berupa pejalanan ziarah kepada para ulama ahli Falak yang telah wafat. Noor Ahmad sering mendapat perintah untuk berziarah ke makam-makam ulama Falak, seperti Raden Dahlan, Semarang, seorang ulama ahli falak pada zamannya,
Setelah sekian lama belajar kepada Kia Turaichan, Noor Ahmad pun muncul sebagai salah satu ulama ahli Falak di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Awalnya, Kiai Turaichan Adjhuri asy-Syarofi, sebagai ketua Markaz penanggalan Jawa Tengah, diminta untuk menjadi anggota Lajnah Falakiyah di PBNU dari perwakilan Jawa Tengah. Akan tetapi dia tidak berkenan. Lalu Kiai Turaichan diminta untuk menunjuk perwakilannya. Maka sang guru pun menunjuk KH. Noor Ahmad sebagai wakilnya.
Salah satu barometer yang digunakan untuk mengukur kualitas keilmuan seseorang ialah seberapa banyak dan berkualitas karyanya. Dari segi ini KH. Noor Ahmad memenuhi kriteria tersebut, karena telah menelurkan karya-karya yang berkualitas dalam bidang ilmu Falak. Diantara karya beliau ialah; pertama. Syams al-Hilal. Kitab ini terdiri dari dua jilid, yakni jilid pertama berbahasa Arab yang menjelaskan hisab Jawa Islam, hisab Istilahi tahun Hijriyah dan Masehi, dan konversi dari tahun Hijriyah ke Masehi atau sebaliknya.
Karya yang kedua ialah Syawariq al-Anwar. Kitab ini juga terdiri dari dua jilid. Jilid pertama menjelaskan perhitungan arah kiblat dan waktu Shalat dengan beracuan tabel Logaritma. Sedangkan jilid keduanya sama menjelaskan perhitungan arah Kiblat dan waktu Shalat, akan tetapi sudah menggunakan alat bantu kalkulator.
Karya ketiganya ialah Taufiq al-Rahman. Kitab ini merupakan kitab pertama KH. Noor Ahmad yang masuk dalam katagori Haqiqi bi al-Tahqiq. Di dalamnya dijelaskan hisab awal Bulan Qamariyah, Gerhana Bulan, dan Gerhana Matahari. Namun kitab ini sudah tidak dipakai lagi setelah dibuatnya karya yang keempat, yakni Nur al-Anwar. Kitab Nur al-Anwar ini menjelaskan hisab awal bulan Kamariyah metode Haqiqi bi al-Tahqiq, Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Abu al-Faidh Muhammad Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki, al-Fawaid al-Janiyah, (Damaskus: Dar al-Basyair al-Islamiyah, 1996).
Biografi KH. Noor Ahmad 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh KH. Noor Ahmad menekuni Ilmu Falak ketika duduk di bangku Madrasah TBS. Noor Ahmad muda belajar ilmu Falak KH. Noor Ahmad lahir di Jepara pada hari Kamis Kliwon 14 Desember 1932 M/ 19 Rajab 1351 H. dari pasangan KH. Shiddiq bin Saryani dan Hj. Sa...


Advertisement
Post a Comment