.

Hermeneutika Teoritis (hermeneutical theory)

 

Dalam hermeneutika teoritis (hermeneutical theory) problem hermeneutis-nya adalah metode, yakni mempersoalkan metode apa yang sesuai untuk menafsirkan teks sehingga mampu menghindarkan seorang penafsir dari kesalahpahaman, dus menemukan makna objektif dengan metode yang valid pula.
Menurut Schleiermacher, ada dua bagian penafsiran yang perlu diperhatikan dalam paradigma hermeneutika teoritis ini; pertama, penafsiran gramatikal. Dalam penafsiran ini mengandung prinsip: 1). “segala sesuatu yang membutuhkan ketepatan (makna); 2). “Makna dari sebuah kata dari sebuah batang tubuh teks ditetapkan dengan merujuk pada koeksistensinya dengan kata-kata lain”.
Jadi penafsiran selalu bersifat holistik dan parsial, sekaligus. Seorang penafsir tidak mungkin memahami suatu objek, seperti teks atau kalimat, sebagai sebuah bagian partikular tanpa merujuk kepada keseluruhan konteksnya. Sebaliknya, kita juga tidak dapat memahami keseluruhan tanpa merujuk kepada bagian-bagiannya. Konsep ini oleh Schleiermacher disebut sebagai “lingkaran hermeneutis” yang tampaknya tidak ditemukan ujung pangkalnya. Menurutnya, lingkaran hermeneutis memang tidak dapat dipecahkan oleh logika struktural, tapi harus diatasi secara intuitif atau penafsiran psikologis. Untuk yakin dengan kebenaran penafsiran kita harus “melompat” ke dalam lingkaran hermeneutis tersebut, seperti lompatan kepada keyakinan.
Penafsiran gramatikal bagi Schleiermacher, tidak akan valid kecuali dilanjutkan dengan penafsiran yang kedua, psikologis, seperti lompatan keyakinan tadi. Dengan menggunakan pengetahuan linguistik dan sejarah kebahasaan yang diperoleh sebelumnya, seorang mufasir harus merekonstruksi secara imajinatif (psikologisasi) suasana batin pengarang, dan inilah yang disebuah oleh Bleicher sebagai penafsiran psikologis.
Ringkasnya, Schleiermacher membawa penafsiran gramatikal pada titik tolak wacana umum tentang suatu (bahasa), kebudayaan, dan penafsiran psikologis didasarkan pada subjektivitas pengarang. Pembaca berupaya merekonstruksi subyektivitas tersebut sehingga dapat memahami maksud pengarang, bahkan sampai pada keyakinan lebih baik dari bagaimana ia mengerti karyanya sendiri.
Dilthey yang mengembangkan hermenutika teoritis memiliki pandangan yang hampir serupa. Namun demikian berbeda dengan psikologisme Schleiermacher, proses penafsiran digambarkan sebagai peristiwa sejarah, dan bukan peristiwa mental. Penafsiran dipahami secara konseptual sebagai verstehen (memahami) yang dibedakan dari erkleren (menjelaskan). Menafsirkan dalam pengertian verstehen ini adalah proses untuk memahami teks sebagai bagian dari ekspresi sejarah. Karena itu, yang perlu direproduksi bukan kondisi batin pengarangnya, tapi makna­makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.
Dapat dikatakan bahwa pengarang tidak mempunyai otoritas atas makna teks, tapi sejarahlah yang menentukan maknanya. Idealisme dan intensi pengarang direduksi menjadi refleksi atau dominasi kekuatan­kekuatan dalam sejarah yang menentukan penulisan teks. Istilah “seseorang adalah anak zamannya” mungkin tepat untuk menggambarkan pandangan ini. Tentu saja, pandangan semacam ini bersifat totaliter, mengandaikan bahwa tidak ada pemikir atau teksnya yang mampu keluar dari belenggu sejarah, dus merubah sejarah.
Tokoh pelopor yang mem-back up perspektif ini diantaranya adalah: Schleiermacher, W. Dilthey dan juga Emilio Betti. Kelemahan dari perspektif ini adalah pengandaikan akan adanya makna awal atau makna sejati yang dapat direproduksi (reliving masa lalu), yang kemudian menjadi obyek kritik bagi perspektif selanjutnya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Fahrudin Faiz, Hermeneutika al-Qur’an: Tema-tema Kontroversial, (Yogyakarta: eLSAQ, Press, 2005). Ilham B. Saenong, Hermeneutika Pembebasan, Metodologi Tafsir Al-Qur’an Menurut Hasan Hanafi, (Jakarta: Teraju, 2002). Fahruddin Faiz, Hermeneutika Al-Qur’an; Tema-tema Kontroversial, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005).
Hermeneutika Teoritis (hermeneutical theory) 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Dalam hermeneutika teoritis (hermeneutical theory) problem hermeneutis-nya adalah metode, yakni mempersoalkan metode Dalam hermeneutika teoritis ( hermeneutical theory ) problem hermeneutis-nya adalah metode, yakni mempersoalkan metode apa yang sesuai untu...


Advertisement
Post a Comment