.

Kronologi Muculnya Aliran Syi’ah Zaidiyah

 

Kronologi muculnya aliran Syi’ah Zaidiyah, dimulai sejak peristiwa Karbala. Dengan meninggalnya Husain pada tanggal 10 Muharram 68 H (687 M), maka timbullah perpecahan. Mayoritas dari penganut Syi'ah, mengangkat ‘Ali Zain al-Abidin al-Sajjad (putera Husain) sebagai imam keempat. Sementara sebagian kecil dari mereka ada yang memilih Muhammad bin Hanafiah sebagai imam keempat. Kelompok terakhir ini disebut dengan Kaisaniyah.
Sepeninggal imam al-Sajjad (94 H), terjadi lagi perpecahan. Ada kelompok yang memilih Muhammad al-Baqir (putera al-Sajjad) sebagai imam kelima. Sementara itu ada pula kelompok yang memilih Zaid al-Syahid (putera al-Sajjad lainnya) sebagai imam kelima. Kelompok terakhir ini disebut dengan Syi’ah Zaidiyah, karena dinisbahkan kepada Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Ia dilahirkan pada tahun 80 H di Madinah dan wafat pada tahun 122 H.
Pada tahun 121 H (737 M), Zaid memberontak kepada khalifah Hisyam bin ‘Abd al-Malik (dari Dinasti Bani Umayyah), dan sekelompok masyarakat yang menyatakan bai’at kepadanya. Dalam pemberontakan tersebut, Zaid tewas di tangan pasukan khalifah.
Dalam perjalanan selanjutnya, Syi’ah Zaidiyah selalu mengalami tekanan dari pihak penguasa. Yahya bin Zaid yang diangkat sebagai imam keenam, memberontak kepada Khalifah Walid bin Yazid, yang pada akhirnya tewas. Setelah Yahya, Muhammad bin ‘Abd Allah dan Ibrahim bin ‘Abd Allah, mengangkat senjata melawan khalifah ‘Abbasiyyah, Manshur al-Dawaniqi, yang juga terbunuh.
Untuk beberapa waktu, Syi’ah Zaidiyah mengalami kegoncangan hingga munculnya Nazhir al-Urusy, salah seorang dari putra saudara Zaid di Khurasan. Oleh karena dikejar-kejar oleh penguasa, maka ia lari ke Mazandran (Tibristan) yang penduduknya belum bergama Islam. Setelah 13 tahun berdakwah, ia berhasil menarik sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam yang beraliran Syi‘ah Zaidiyah. Kemudian pada tahun 301 H (913 M), dengan dukungan pengikutnya, ia berhasil menaklukkan daerah Mazandaran dan mengangkat dirinya sebagai imam.
Menurut ‘Ali ‘Abd al-Wahid Wafi, Syi’ah Zaidiyah adalah mazhab terbesar di Yaman Utara. Imam yang diikutinya adalah Yahya Hamid al-Din, salah seorang khalifah yang diyakininya sebagai keturunan Zaid. Selanjutnya keimaman itu berpindah kepada puteranya Ahmad, kemudian kepada puteranya al-Badr. Sampai saat ini, mayoritas penduduk Yaman Utara adalah pengikut Syi’ah Zaidiyah, terutama dari golongan terkemuka.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Ali Musthafa al-Gurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyyah wa Nasy’ah ‘ilm al-Kalam, (Kairo : Muhammad ‘Ali Sabih, tth.). Ali ‘Abd al-Wahid Wafi, Gurabat al-Islam dan Aimmah al-Arba’ah wa al-Mazahib al-Islamiyyah al-Ukhra al-Baqiyyah wa al-Manq­dat, diterjemahkan oleh Rifyal Ka’bah dengan judul “Perkembangan Mazhab dalam Islam”, (Jakarta : Minaret, 1987).
Kronologi Muculnya Aliran Syi’ah Zaidiyah 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Pada tahun 121 H (737 M), Zaid memberontak kepada khalifah Hisyam bin ‘Abd al-Malik (dari Dinasti Bani Umayyah), dan sekelompok masyarakat yang menyatakan bai’at kepadanya. Dalam pemberontakan tersebut, Zaid tewas di tangan pasukan khalifah. Kronologi muculnya aliran Syi’ah Zaidiyah, dimulai sejak peristiwa Karbala. Dengan meninggalnya Husain pada tanggal 10 Muharram 68 H (687 M...

Gunakan Browser Super Kencang Gratis, Klik di Sini


Advertisement

No comments:

Post a Comment