.

Pengantar Hermeneutika Teks Hadis

 

Sebagai sebuah teks hadis menghadapi problem yang sama sebagaimana yang dihadapi teks-teks lainnya, yakni teks pasti tidak bisa mempresentasikan keseluruhan gagasan dan setting situasional sang empunya. Begitu pula teladan Nabi sebagai wacana yang dinamis dan kompleks dituliskan, maka penyempitan dan pengeringan makna dan nuansa tidak bisa dihindari.
Berdasarkan struktur berfikir yang seperti ini, maka perumusan metodologi pemahaman dan penafsiran hadis menjadi sangat urgen dalam rangka “pencairan” kembali teks-teks hadis sehingga menjadi wacana yang hidup dan mampu berdialog dengan situasi zaman yang selalu berubah. Di sinilah hadis harus bersinggungan dengan problem hermeneutika.
Istilah hermeneutika dalam pengertian sebagai ilmu tafsir, muncul pada sekitar abad ke-17. Mula-mula istilah ini diperkenalkan oleh seorang teolog asal strabunrg, Jerman bernama Johann Kontad Dannhauer (1603- 1666) melalui karyanya, Hermeneutica Sacra: Sive Methodus Exponendarums Sacracum Litterarum yang ia tulis pada tahun 1654. Istilah ini kemudian tumbuh merambah ke perbincangan epistemologi dalam ranah keilmuan yang beragam termasuk teologis, yuridis dan filosofis. Hanya saja, berbeda dengan lingkup studi kontemporer mengenai hermeneutika, ide Dannhauer tersebut terbatas pada pembicaraan mengenai metode menafsirkan teks-teks Bibel.
Kaitannya dengan hadis, pembedaan antara makna teks dan signifikasi konteks dapat diupayakan dengan melakukan analogi historis-kontekstual secara kritis antara dunia Muhammad saw yang Arabik dengan umat Islam lain yang hidup di zaman serta wilayah yang berbeda sama sekali. Penggunaan teori-teori hermeneutik dalam studi hadis sebenarnya memiliki akar-akar historis yang kuat dalam hasanah pemikiran Islam. Adanya teori asbab al-Wurud merupakan salah satu bukti tak terelakkan dalam hal ini, meskipun teori tersebut belum terintegrasikan dalam metodologi pemahaman hadis secara sistematik.
Ini berarti, bahwa dalam hermeneutika hadis, teks hadis yang merupakan produk masa lalu selalu berdialog dengan penafsir dan audiensnya yang baru di sepanjang sejarah. Hermeneutika hadis bukannya pemindahan teks-teks hadis ke dalam konteksnya yang baru secara semena-mena, karena jika ini yang terjadi maka teks seakan diasumsikan turun dalam masyarakat yang statis dan vakum perubahan. Hermeneutika hadis juga bukan penenggelaman teks dalam konteks kekiniannya secara semena-mena, karena pengabaian teks akan menggugurkan hermeneutika itu sendiri.
Hermeneutika teks hadis mensyaratkan adanya dialog secara intensif antara teks-teks hadis sebagai warisan masa lalu dengan penafsir dan audiensnya masa kini. Ibarat gerakan, maka hermeneutika hadis bergerak dari masa kini dengan horizon kekinian ke masa lalu dimana teks hadis muncul dengan horizon masa lalunya. Selanjutnya masa lalu dengan horisonnya bergerak kemasa kini dengan horizon kekiniannya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutika, (Jakarta: Paramadina, 1996). Mustafid (ed), Kontekstualisasi Turats; Telaah Regresif dan Progresif, (Lirboyo: Pustaka De-Aly dan Purna Siswa Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, 2009). Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani: Antara Teks, Konteks dan Kontekstualisasi, (Yogyakarta: Qolam, 2003). Musahadi HAM, , Hermeneutika Hadis-Hadis Hukum; Mempertimbangkan Gagasan Fazlur Rahman, (Semarang: Walisongo Press, 2009). Hasan Hanafi, Dialog agama dan Revolusi, terj. Pustaka Pirdaus, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994).
Pengantar Hermeneutika Teks Hadis 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Ini berarti, bahwa dalam hermeneutika hadis, teks hadis yang merupakan produk masa lalu selalu berdialog dengan penafsir Sebagai sebuah teks hadis menghadapi problem yang sama sebagaimana yang dihadapi teks-teks lainnya, yakni teks pasti tidak bisa mempresenta...


Advertisement
Post a Comment