.

Asumsi Penyusunan Desain Pembelajaran

 

Pada saat menyusun desain pembelajaran, ada beberapa asumsi yang harus dipahami oleh guru.
Pertama, asumsi desain pembelajaran dirancang untuk membantu peserta didik belajar secara individual. Pada dasarnya setiap oang belajar secara individual, meskipun secara praktis peserta didik belajar secara kelompok, namun hasil belajar dan kemampuannya selalu bersifat individual. Oleh karena itu, desain pembelajaran selalu bersiaft individual.
Kedua, asumsi desain pembelajaran dapat dirancang untuk jangka pendek (immediate rangwe), atau untuk jangka panjang (long range). Desain jangka pendek berkenaan dengan persiapan pembelajaran untuk suatu bahan pelajaran tertentu, yang biasanya dibuat oleh guru beberapa saat sebelum memulai proses pembelajaran. Sedangkan desain untuk jangka panjang berkenaan dengan sejumlah topik yang akan diajarkan untuk suatu priode tertentu bahakan sangat ungkin merupakan desain sistem pembelajaran suatu bidang studi tertentu. Dessain jangka panjang biasanya disusun oleh suatu tim, meskipun perananan yang dominan ada pada diri guru sendiri.
Ketiga, desain sistem pembelajaran dapat memberi pengaruh terhadap perkembangan inidividu. Bila proses pembelajaran telah dirancang dengan baik, akan dapat memberi kesempatan yang lebih besar dalam perkembangan individu sesuai dengan kemampuan dasarnya. Hal ini juga berarti bahwa desain pembelajaran yang disusun harus mempertimbangkan terhadap keragaman individual yang ada pada peserta didik.
Keempat, asumsi desain pembelajaran merupakan implementasi dari pendekatan sistem terhadap pembelajaran. Dalam pendekatan sistem, semua langkah yang ditempuh selalu disesuaikan dengan upaya pencapaian tujuan. Langkah pendekatan sistem dimulai dengan analisis terhadap kebutuhan tujuan yang kemudian dikemangkan dalam seluruh langkah, seperti bahan, motode, alat praga, dan evaluasi. Hasil evaluasi dijadikan sebagai dasar feed back untuk melihat kembali proses pencapaian tujuan. Langkah-langkah ini tercermin dalam pembuatan desain pembelajaran.
Kelima, asumsi desain sistem pembelajaran berpedoman kepada pengetahuan tentang ”belajar”. Sasaran yang ingin dicapai dalam desain pembelajaran adalah peserta didik belajar.
Gagne dan Briggs, sebagai yang dikutip oleh Ngainum Nain dan H. Ahmad Patoni berpendapat bahwa ada empat ruang lingkup yang dapat diterapakan sebagai asumsi desain dalam menyusun desain, mulai ruang lingkup yang luas (level Kurikulum), ruang lingkup yang sempit (level bidang studi) ruang lingkup sempit (level bidang studi), dan ruang lingkup terbatas (lebel pembelajaran dan level evaluasi) hal ini dapat dirinci sebagai berikut:
Pertama, level kurikulum terdiri dari tiga komponen, yaitu: (1) analisis kebutuhan, tujuan dan prioritas, (2) analisis sumber, hambatan dan sistem penyampaian, dan (3) penentuan ruang lingkup (scope) dan urutan (sequence) kurikulum dan pelajaran sebagai bagian dari untuk mendesain sistem penyampaian.
Kedua, level bidang studi terdiri dari : (1) menentukan struktur dan urutan pelajaran, dan (2) analisis tujuan kurikuler (tujuan pelajaran)
Ketiga, level pengjaran mencakup: (1) perumusan tujuan pembelajaran khusu, (2) penyususnan satuan pelajaran atau modul, (3) penentuan bahan dan media pembelajaran, (4) penentuan langkah dan teknik penilaian.
Keempat, pada level evaluasi terdiri dari: (1) persiapan guru, (1) evaluasi formatif, (3) uji coba dan revisi, (4) evaluasi summatif, dan (5) pelaksanaan.
Secara lebih terperinci, sebagaimana yang dikutip Hamzah B. Uno, langkah desain sistem pembelajaran dikemukakan oleh Dick dan Carey yaitu: komponen-komponen yang harus ada adalah; pertama, identifikasi tujaun pengajaran. Langkah pertama dalam mendesain pembelajaran adalah menentukan apa yang diharapkan dapat dikuasai peserta didik, sebagaimana tercakup dalam tujuan setelah proses pembelajaran. Tujuan ini dikembangkan dari tujuan yang lebih umum yang ada pada kurikulum, atau dapat juga dikembangkan dari pengalaman praktis di kelas.
Kedua, analsis instruksional. Setelah perumusan tujuan, dilakukan analisis pembelajaran untuk mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari untuk mencapai tujuan. Prosesnya dapat dilakakukan dengan mengidentifikasi konsep, aturan dan informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik, atau mengidentifikasi langkah dalam urutan yang harus diikuti dalam melakukan proses sesuatu.
Ketiga, identifikasi entry behavior dan karakteristik peserta didik. Dalam hal ini perlu diidentifikasi kemampuan peserta didik sebagai prasyarat belajar bahan yang bersangkkutan. Di samping itu, juga perlu diidentifikasi karakteristik umum, seperti tingakt kematangan dalam mempelajari bahan tersebut.
Keempat, merumuskan tujuan pembelajaran khusu (TPK). TPK dirumuskan berdasarkan pada analisis pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Tujuan ini dinyatakan secara khusus dan jelas menggambarkan kemampuan apa yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik setelah proses belajar.
Kelima, mengembangkan penilaian acuan patokan (PAP). PAP dikembangkan berdasarkan tujuan pembelajaran khusus yang dirumuskan, sehingga dapat dijadikan alat pengukur kemampuan setelah mempelajari bahan sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
Keenam, mengembangkan strategi pembelajaran. Strategi ini meliputi segala kegiatan yang ditempuh dalam pembelajaran, meliputi kegiatan sebelum pembelajaran, penyajian informasi, pelaksanaan, feed back dan tes.
Ketujuh, mengembangkan dan memilih materi pembelajaran. Pada langkah ini, strategi pembelajaran digunakan dalam menyusun petunjuk buku peserta didik, bahan pelajaran, test dan buku petunjuk guru.
Kedelapan, desain dan pelaksanaan test formatif. Untuk meinlai apakah proses pembelajaran itu efektif atau tidak, maka dilakukan rvaluasi formatif (forrmative evaluation). Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakaukan setiap akhir proses pembelajaran.
Kesembilan, revasi pengajaran. Data yang diperoleh dari tes formatif dijadikan dasar untuk revisi, agar proses pembelajan selanjutnya dapat berlangsung secara lebih efektif.
Kesepuluh, evaluasi sumatif. Bila seluruh bahan dari suatu program tertentu telah selesai dipelajari, maka dilaksanakan evaluasi sumatif. Hal ini untuk menialai apakah tujuan pemelajaran telah dicapai atau belaum.
Hal yang senada dengan di atas dikemukakan oleh Degen seperti yang dikutip oleh Muhaimin et.al. bahwa upaya-upaya perbaikan pendidikan dengan berpijak pada asumsi-asumsi asumsi desain tertentu, tentang hakikat perencanaan pembelajaran, yaitu: (1) perbaikan kualitas pemelajaran harus diawali dengan menyusun desain pembelajaran; (2) desain pembelajaran disusun dengan menggunakan pendekatan sistem; (3) desain pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana seseorang belajar; (4) desain pembelajaran diacukan pada peserta didik sebagai individu yang berbeda satu deangan yang lainnya; (5) hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan hasil pengiringa; (6) sasaran akhir desain pembelajaran adalah bagaimana memudahkan peserta didik belajar; (7) desain pembealajaran mencakup semua variasbel yang mempengahuhi belajar; dan (8) inti desain pembelajaran adalah menetapkan metode pembelajaran yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, (cet. 12, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2000). Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran,(cet. II, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007). Muhaimin et.al, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Penddikan Agama Islam di Sekolah, (cet. III, Bandung: Remaja Rosda Kasya, 2004).
Asumsi Penyusunan Desain Pembelajaran 4.5 5 Mushlihin, al-Hafizh Desain jangka pendek berkenaan dengan persiapan pembelajaran untuk suatu bahan pelajaran tertentu, yang biasanya dibuat oleh guru beberapa saat sebelum memulai proses pembelajaran. Pada saat menyusun desain pembelajaran , ada beberapa asumsi yang harus dipahami oleh guru. Pertama , asumsi desain pembelajaran dirancan...

Gunakan Browser Super Kencang Gratis, Klik di Sini


Advertisement

No comments:

Post a Comment