.

Pengertian Fundamentalisme-Radikalisme

 

Secara etimologi fundamentalisme berasal dari kata fundamental yang berarti hal-hal yang mendasar atau asas-asas. Sebagai sebuah gerakan (komunitas) keagamaan, fundamentalis dipahami sebagai penganut gerakan keagamaan yang bersifat kolot dan reaksioner, yang memiliki doktrin untuk kembali kepada ajaran agama yang asli seperti tersurat dalam kitab suci. Gagasan dan posisi umat beragama yang mengacu pada istilah “fundamentalisme” tampaknya masih perlu dielaborasi lebih jauh.
Dalam pandangan Gellner, gagasan dasar fundamentalisme adalah bahwa suatu agama tertentu dipegang kokoh dalam bentuk literal (harfiah) dan bulat, tanpa kompromi, pelunakan, re-interpretasi dan tanpa pengurangan. Hal senada dikemukakan oleh David Ray Griffin, dalam bukunya God and Religion in the Modern World. Dapat disebutkan bahwa fundamentalisme adalah sebuah aliran atau faham yang berpegang teguh pada dasar-dasar agama secara ketat melalui penafsiran terhadap kitab suci secara rigid dan literalis. Dalam pandangan Habermas fundamentalis adalah sebagai gerakan keagamaan yang memberikan porsi sangat terbatas terhadap akal pikiran (rasio), ketika memberikan interpretasi dan pemahaman terhadap teks-teks keagamaan.
Secara historis, istilah “fundamentalisme” merupakan atribut yang diberikan kepada sekte Protestan yang menganggap Injil bersifat absolute dan sempurna dalam arti literal sehingga mempertanyakan satu kata yang ada dalam Injil dianggap dosa besar dan tak terampuni. Fudamentalisme selalu muncul dalam setiap agama besar dunia, tidak hanya Kristen dan Islam, fundamentalisme juga terdapat pada agama Hindu, Budha, Yahudi dan Konfusianisme. Bahkan menurut Garaudy, fundamentalisme merupakan fenomena yang tidak terbatas pada agama, tetapi terdapat pula dalam bidang politik, sosial dan budaya. Karena baginya, fundamentalisme adalah suatu pandangan yang ditegakkan atas keyakinan, baik bersifat agama, politik maupun budaya, yang dianut pendiri yang menanamkan ajaran-ajarannya pada saat paham atau pandangannya tersebut menjadi rujukan.
Dengan demikian, fundamentalisme dapat disebut sebuah gerakan dalam sebuah aliran atau paham keagamaan yang berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar-dasar atau asas-asas. Selain dalam persoalan agama, fundamentalisme terjadi juga pada bidang yang lainnya, seperti fundamentalisme politik, ekonomi dan lainnya. Hanya saja, belakangan, istilah fundamentalisme lebih banyak dan sangat populer dilekatkan pada persoalan keagamaan. Dalam konteks ini, fundamentalis sering diidentikkan kepada mereka yang memahami dasar-dasar keagamaan, dengan orientasi penafsiran yang rigid dan literal.
Sementara itu, ‘radikalisme’ berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Berbagai makna radikalisme, kemudian mengacu pada kata “akar” atau mengakar. Perubahan radikal berarti perubahan yang mengakar, karena hal itu menyangkut penggantian dasar-dasar yang berubah tadi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai secara menyeluruh, habis-habisan, amat keras menuntut perubahan, dan maju dalam berpikir atau bertindak. Islam radikal mengandung makna kelompok Islam yang memiliki keyakinan ideologis tinggi dan fanatik yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung.
Dengan demikian, radikalisme dapat dipahami sebagai paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar, fanatik keagamaanya cukup tinggi, tidak jarang penganut paham ini menggunakan kekerasan dalam mengaktualisasikan paham keagamaan yang dianut dan diyakininya. Kaum radikalis menginginkan adanya perubahan atau pembaruan sosial-keagamaan secara mendasar dengan sistem atau tata nilai baru yang diyakininya. Radikalisme tidak saja berupa paham atau ideologi keagamaan yang bersifat wacana dan pemikiran, pada batas-batas tertentu paham ini dapat menjelma dalam bentuk gerakan dan aksi-aksi di lapangan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disebutkan bahwa fundamentalisme lebih merupakan sebuah keyakinan untuk kembali pada fondasi dan dasar-dasar agama. Hal yang sama dilekatkan pula pada istilah radikalisme. Maknanya bisa positif atau negatif. Ekses negatif yang diakibatkan dari pandangan yang fundamentalis adalah sikap kekerasan dan anarkis. Penyandingan kekerasan dengan radikalisme disebabkan, gejala dalam realitas sosial yang sering nampak. Kelompok radikal sering menggunakan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan-tujuan mereka. Kendati kelompok radikal tidak identik dengan kekerasan. Oleh karena, radikalisme tidak semata-mata pada gerakan atau aksi-aksi, tetapi ia dapat pula dalam bentuk pemikiran atau keyaknan terhadap suatu ideologi. Dalam konteks tertentu, dapat disebutkan bahwa fundamentalisme merupakan spirit pemikiran dan gerakan bagi radikalisme agama.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa Istilah fundamentalisme atau radikalisme Islam dalam kajian akademik dapat dipahami sebagai sebuah kesatuan dari berbagai fenomena sosial dan keagamaan. Istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai sebuah titik tolak ketimbang sebagai sebuah julukan atau labelisasi terhadap suatu fenomena keagamaan. Hal ini disebabkan pendefinisian tentang fundamentalisme-radikalisme tidak tunggal dan monolitik, dan pada batas-batas tertentu tidak menggambarkan secara utuh terhadap fenomena yang beragam atas pemikiran dan gerakan-gerakan tersebut.
Untuk memudahkan identifikasi dan kategorisasi, penyebutan fundamentalis dan radikalisme, pada batas-batas tertentu memungkinkan untuk dintegrasikan. Penyebutan kedua istilah tersebut bisa dilakukan dengan term fundamentalisme-radikalisme. Hal ini karena keduanya memiliki orientasi ideologi yang sama. Kalaupun kemudian ada pembedaan, hal tersebut hanya sebatas bagaimana cara-cara mengaktualisasikan orientasi pemikiran dan ideologinya tersebut. Bahkan dalam Ensiklopedi Tematik dunia Islam, term fundamenalisme dan radikalisme memiliki makna yang sama atau kedua istilah tersebut identik, istilah lainnya yang semakna adalah term islamis. Istilah lainnya yang sering diidentikan dengan fundamentalisme dan terutama radikalisme adalah militanisme dan ekstrimisme. Kedua istilah yang disebutkan terakhir tampaknya lebih tepat dipahami sebagai salah satu ragam dari bentuk fundamentalisme-radikalisme.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Longman, Dictionary of Contemporary English, England: Tp.: 1998. Tim Penyusun KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2001. Dikutip Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme hingga Post Modernisme, Jakarta: Paramadina, 1996. John L. Esposito, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Vol. 2, New York: Oxford University Press, 1995. David Ray Griffin, God and Religion in the Modern World, Albany: State University of New York Press, 1989. Jurgen Habermas, Religion and Rasionalty, Massachusetts: The MIT Press, 2002. Roger Schmidt (dkk), Patterns of Religion, United States of America: Wadsworth Publishing Company, 1999. Dawam Raharjo, dalam Muhammad Wahyu Nafis, Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam, Jakarta: Paramadina, 1996. R. Garaudy, Islam Fundamentalis dan Fundamentalis Lainnya, Bandung: Pustaka, 1993. http://oase.trunojoyo.ac.id/index.php/world-overview/35-admin/142-fundamentalisme. Jamhari dan Jajang Jahroni, Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004. Taufik Abdullah (et.al), Ensiklopedi Tematik Dunia Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
Pengertian Fundamentalisme-Radikalisme 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Pemaparan di atas menunjukkan bahwa Istilah fundamentalisme atau radikalisme Islam dalam kajian akademik dapat dipahami sebagai sebuah kesatuan dari berbagai fenomena sosial dan keagamaan. Istilah tersebut lebih tepat digunakan Secara etimologi fundamentalisme berasal dari kata fundamental yang berarti hal-hal yang mendasar atau asas-asas. Sebagai sebuah gerakan (k...



Advertisement

No comments:

Post a Comment