.

Latar Belakang dan Faktor-faktor Terjadinya Perang Salib

 

Perang Salib adalah serangkaian peperangan yang terjadi antara umat Kristen Eropa dengan Kaum Muslimin. Perang Salib ini merupakan konflik terbesar antara umat Islam yang tengah berkuasa di sebahagian Eropa, Afrika Utara dan Asia, melawan Kristen yang baru bangkit dan berusaha merebut kota Yerusalem.
Disebut Perang Salib, karena umat Kristen dalam perang tersebut memakai logo salib yang berwarna merah di dada mereka. Penggunaan logo salib ini, sedikit banyaknya diilhami oleh perintah dari Injil yang memerintahkan kepada umat Kristen untuk mengangkat salib. Perintah menggunakan Salib yang terbuat dari kain berwarna merah yang disulam pada jubah seragam pasukan Salib sebagai lambang bahwa Perang Salib semata-mata untuk mempertahankan eksistensi umat Kristen.
Disebut Perang Salib seakan-akan faktor agama merupakan faktor yang dominan, akan tetapi sebenarnya agama bukanlah faktor-satu-satunya faktor yang terpenting, sebab Perang Salib merupakan akumulasi beberapa faktor. Untuk memahami hal tersebut secara konprehensif, berikut ini penulis akan mengemukakan beberapa faktor yang dianggap pemicu terjadinya Perang Salib.
1. Faktor Agama
Pemerintahan Bani Saljuk yang wilayah kekuasaannya meliputi Yerusalem memperketat aturan ziarah bagi orang Kristen ke Bait al-Maqdis. Lalu lintas ziarah mereka terhambat. Kemerdekaan mereka untuk berziarah menjadi hilang. Oleh karena itu, mereka bergerak untuk merebut kembali kebebasan mereka dan menguasai Yerusalem yang dianggap sebagai holy land dari kekuasaan umat Islam.
Di samping itu, Perang Salib merupakan ekspedisi spektakuler sebagai akibat tidak langsung dari proses kebangkitan semangat religius yang melanda Eropa pada abad X-XI M.
Dengan demikian, Perang Salib merupakan salah satu upaya membela kepercayaan Kristen, meski tidak ditemukan dalam kitab suci mereka (Bible/Injil) suatu perintah sebagai justifikasi dan legitimasi pelaksanaan Perang Salib. Sehubungan dengan ini, W. M. Watt mengatakan:
Gagasan untuk menjalankan peperangan demi membela kepercayaan agama Kristen setidak-tidaknya dapat dilacak kembali sampai kaisar Konstantin. Walaupun tidak ditemukan dalam Perjanjian Baru atau sepanjang abad ketika orang Kristen masih merupakan kelompok minoritas yang terjepit, gagasan tersebut diklaim sebagai mempunyai presedennya dalam perjanjian lama. Pada abad kesembilan belas, kita menemukan bahwa Agobard (dari Leon) menafsirkan pengertian pemberian pedang oleh Paus kepada Sang Kaisar sebagai “Penaklukan atas bangsa-bangsa Barbar, supaya mereka memeluk kepercayaan (Kristen) dan memperluas batas-batas kerajaan orang-orang yang beriman”. Brun dari Querfurt, yang dipengaruhi oleh reformasi monastik abad kesepuluh, menyatakan bahwa tugas seorang raja Kristen dalam kaitannya dengan penyembah berhala adalah “mendorong mereka untuk masuk Kristen” dengan pedang.
Dengan demikian, Perang Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke tempat suci dan perang suci (holy war). Ziarah ke Bait al-Maqdis untuk merebut kembali holy land sebagai tujuan jangka pendek, sedangkan di balik pelaksanaan holy war terkandung misi ekspansi Dunia Eropa ke Asia.
2. Faktor Politik
Menurut Philip K. Hitti, konflik Timur-Barat merupakan konflik yang panjang dalam sejarah. Antara Timur dan Barat telah beberapa kali terjadi kontak-konfrontatif, misalnya ketika terjadi perang antara Trujah dan Parsi pada zaman purba. Konflik tersebut berlangsung hingga zaman pertengahan dalam bentuk konflik dua peradaban Besar, bahkan hingga zaman modern ini yaitu konflik antara Barat dan Timur yang oleh sebahagaian pengamat dipandang sebagai representasi dari konflik Islam-Kristen.
Memasuki abad pertengahan, ketika umat Kristen melihat wilayah mereka terancam oleh ekspansi Islam, bahkan Konstantinopel terancam dari serangan Bani Saljuk, sebab wilayah di sekitar Asia kecil telah dikuasi oleh mereka. Dalam keadaan seperti ini imperium Bizantium menggalang dukungan segenap umat Kristen di daratan Eropa untuk mempertahankan imperiumnya.
Di samping itu, peristiwa kekalahan pasukan Armanus, Raja Romawi, dari pasukan Bani Saljuk di bahwa pimpinan Alp Arselan (355-465 H/1063-1072 M) yang mengakibatkan Manzikart jatuh ke tangan kaum muslimin (464 H/1071 M), menjadi suatu trauma politis yang harus segera dibalas. Dalam pada itu, muncul cita-cita di kalangan Kristen Eropa untuk mendirikan kerajaan al-Masih di seluruh wilayah Timur dan menjadikan Timur sebagai zona Kristen.
Di sisi lain, tradisi mengembara dan bakat kemiliteran suku Teutonia yang telah mengubah arah sejarah Eropa sejak penghancuran gereja Sepulchre (gereja tempat dikuburnya Yesus) yang dilakukan oleh Khalifah al-Hakim dari Fathimiyah (386-411 H/996-1020 M) pada tahun 1009. Jadi, dalam hal ini tampak adanya dendam politik dari pihak Kristen-Eropa terhadap Islam. Faktor Sosial-Ekonomi
Stratifikasi sosial masyrakat Eropa masyarakat terbagi ke dalam tiga kelas, yaitu kaum gereja, aristokrat dan rakyat jelata. Rakyat jelata merupakan kelompok mayoritas. Kehidupan mereka sangat hina dan tertindas. Oleh karena itu seruan mobilisasi oleh pihak gereja untuk berpartisipasi dalam perang suci dengan iming-iming akan mendapat kebebasan dan kesejahteraan yang lebih baik disambut secara spontan, dan jaminan spritual bahwa memerangi musuh adalah suatu hal yang terhormat dan mulia, mereka diampuni dosa-dosanya sehingga apabila mati dalam peperangan adalah ‘pahlawan agama, dan langsung masuk surga.
Kawasan Timur Tengah adalah kawasan yang sangat strategis prospektif bagi sentra perdagangan, sebab sejak dahulu merupakan lalu lintas perdagangan yang ramai. Oleh karena itu, menguasai wilayah tersebut akan sangat menguntungkan sebab akan dijadikan sebagai pintu gerbang pengembangan perdagangan ke wilayah-wilayah sekitarnya. Sejak abad X M, umat Islam menguasai jalur perdagangan di laut Tengah. Para pedagang Pisa, Venesia dan Genoa merasa terusik dengan kehadiran pasukan Islam sebagai penguasa jalur perdagangan tersebut. Hal tersebut menimbulkan keinginan untuk menguasai wilayah tersebut.
3. Ambisi pribadi Paus Gregory VII
Setelah jatuhnya Manzikert dan mengantisipasi ancaman dari Bani Saljuk, pihak kaisar Byzantium mengajukan permohonan kepada Paus Gregory VII dengan kesediaan menyatukan kembali gereja Yunani dengan gereja Latin yang tunduk di bawah kewenangan Paus. Oleh karena itu Paus berupaya mengkonsolidasikan kekuatan agar alam Masehi tunduk semua di bawah satu pemerintahan agama yang dipimpin oleh Paus. Untuk merealisasikan hal tersebut, maka diserukanlah peperangan guna menyapu-bersih umat Islam dari Palestina dan menundukkan gereja-gereja di Timur. Dari sini tampak bahwa Paus berkeinginan mempertahankan supremasinya sebagai pemegang kedaulatan umat Kristiani.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhammad Farid Wajdiy, Dâirah al-Ma’ârif al-Qarn al-Isyrûn, jilid V, Beirut; Dâr al-Fikr, t.th. Harun Nasution, et. al. (Editor), Ensiklopedi Islam, Jakarta: Dijen Binbaga Islam, 1992/1993. Lawrence T.Lorimer, Jeffrey H. Hocker dan Ronald B. Roth, Grolier Encyclopedia of Knowledge, Grolier Incorporated, 1993. Harold Swenson Fink, “Crusades” dalam Warren E. Preece, Encyclopaedia Britannica, Vol. VI, Chicago: William Benton Publishers, t.th. W.Montgomery Watt, The Influence of Islam on Medieval Europe, diterjemahkan oleh Hendro Prasetyo dengan judul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan”, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997. Philip K. Hitti, History of the Arab, Tenth Edition, 4th Publishers; New York: MacMillan Press LTD, 1974. Mahmud Syalabi, Shalah al-Dîn al-Ayyûbi, diterjemahkan oleh Abdullah Mahdami dengan judul “Shalahuddin al-Ayyubi Pahlawan Perang Salib”, Solo: Pustaka Mantiq, t.th. Muhammad Sayyid al-Wakil, “Lamhatun min tarîkh al-Da’wah: Asbâb al-Da’îf fi al-Ummat al-Islâmiyah” diterjemahkan oleh Fadhli Bahri dengan judul: Wajah dunia Islam Dari Dinasti Umaiyah Hingga Imperialisme Modern, Pustaka al-Kautsar, 1998. Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam di Indoensia, Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1993. Khairullah Thalfâh, Kuntum Khayra Ummatin Ikhrijat Li al-Nâs, Beirut: Dâr al-Kutub al-Araby, 1975. K. Ali. Sejarah Islam (Tarikh Pramodern), Jakarta: Srigunting, 1997. “The 100 A Ranking of The Most Influential Persons in History” diterjemahkan oleh Mahbub Junaidi dengan judul Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1993. A. Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Jakarta: Widjaya, 1981.
Latar Belakang dan Faktor-faktor Terjadinya Perang Salib 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Disebut Perang Salib, karena umat Kristen dalam perang tersebut memakai logo salib yang berwarna merah di dada mereka. Penggunaan logo salib ini, Perang Salib adalah serangkaian peperangan yang terjadi antara umat Kristen Eropa dengan Kaum Muslimin. Perang Salib ini merupakan konflik ...



Advertisement

4 comments:

  1. Tidak ada data sejarah yg menyebutkan tujuan perang salib adalah ekspansi ke asia. Tujuannya adalah membebaskan orang kristen dari penindasan dan membebaskan tanah suci Yerusalem.

    ReplyDelete