.

Hukum Jual Beli Barang Najis Menurut Ulama

 

Ada perbedaan hukum jual beli benda najis. Sebagian ulama mengatakan hukum jual beli benda najis adalah tidak sah. Hal ini berdasarkan rujukan hadis Nabi saw berikut ini; “Menceritakan kepada kita, Abdullah ibnu Maslamah, menceritakan kepada kita Malik dari Nafi' dari ibnu Umar ra ia berkata, bahwa Rasulullah melarang jual beli najis”.
Dalam Hadis lain jual beli barang najis dilarang, seperti babi, darah, bangkai dan khamar (semua benda yang memabukkan). (baca: pendapat ulama tentang alkohol) pengharaman khamar adalah karena dapat mengakibatkan manusia kehilangan sesuatu yang paling berharga yang diberikan oleh Allah yaitu akal. Selain itu, khamar juga dapat menyebabkan bahaya-bahaya lain yang disebabkan hilangnya akal manusia, karena hilangnya akal manusia dapat berbuat sesuatu diluar kesadaran seperti membunuh dan lain-lain yang dilarang agama.
Dalam hadis lain disebutkan: “Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dan al-Laits dari Yazid bin Abi Habib dari 'Atha' bin Abi Rabah dari Jabir bin Abdullah RA telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: tahun pembukaan di Makkah: sesungguhnya Allah mengharamkan jual-beli khamer (minuman keras), bangkai, babi dan berhala.” Kemudian seseorang bertanya: “Bagaimana tentang lemak bangkai, karena banyak yang menggunakannya sebagai pelapis perahu dan, meminyaki kulit dan untuk bahan bakar lampu? “Rasulullah saw menjawab: “Tidak boleh, semua itu adalah haram”.
Hadis lainnya: “Ibnu Wahab menuturkan dari Ibnu Luhaiah, dan Hayat dari Ibnu Suraih, dari Kholid Bin Abi Imron berkata: sesungguhnya aku bertanya kepada Qosim dan Salim dari permasalahan minyak yang di dalamnya ada bangkai tikus, apakah minyak itu layak untuk dimakan?berkata Qosim dan Salim, tidak, kemudian Kholid bin Imron bertanya lagi apakah kita diperbolehkan menjualnya? Qosim dan Salim menjawab,boleh, kemudian makanlah harganya, dan jelaskan pada pembelinya apa yang terjatuh dalam minyak tersebut.
Dalam Kitab al-Fiqh ala al-Mazahib al-Arba’ah, mazhab Hanafi menegaskan: “Segala sesuatu yang mengandung manfaat yang dihalalkan oleh Syara boleh dijual-belikan”.
Referensi Makalah®
Kepustakaan: Imam Abi Bakar Ahmad Bin Husain Bin Ali Baihaqi, Sunanul Qubro, Jus 6, (Bairut Libanon, Darul Al Kitab Al Alamiah). Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Arba'ah, Juz 2, Beirut: Dar al-Fikr, 1972). Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, Juz, V, Beirut: Dar al-Fkr, 1997).
Hukum Jual Beli Barang Najis Menurut Ulama 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Ada perbedaan hukum jual beli benda najis. Sebagian ulama mengatakan hukum jual beli benda najis adalah tidak sah. Ada perbedaan hukum jual beli benda najis. Sebagian ulama mengatakan hukum jual beli benda najis ad...



No comments:

Post a Comment