.

Penanggalan yang Ada di Indonesia

 

Penanggalan atau tarikh pada masyarakat Indonesia secara praktis digunakan untuk menentukan peristiwa-peristiwa penting. Setidaknya ada tiga macam penanggalan yang berlaku di Indonesia khususnya masyarakat Jawa, yaitu penanggalan Masehi, penanggalan Hijriyah, pananggalan Jawa Islam. Selain tiga macam penanggalan tersebut, terdapat pula penanggalan yang dipakai oleh kaum minoritas dari orang-orang Cina di Indonesia yaitu penanggalan Tong Shu (Shio).
Penanggalan Masehi
Penanggalan masehi di mulai sejak kelahiran Isa Almasih. Hal ini didasarkan pada peredaran matahari semu, yang di mulai pada saat matahari berada di titik Aries hingga kembali lagi ke titik semula.
Jika dikaitkan dengan penanggalan resmi, tahun itu ada pada tanggal 1 Januari 1 M yang kemudian digunakan mulai tahun 527 M. Hitungan hari dalam setahun 365 untuk tahun pendek (basitoh) dan 366 untuk tahun panjang (kabisat). Jumlah bulan adalah 12 yaitu: Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember.
Bulan ke 1,3,5,7,8,10, dan 12 berumur 31 hari dan lainya berumur 30 hari kecuali bulan Februari berumur 28 untuk tahun basitoh dan 29 hari untuk tahun kabisat. Ketentuan tahun kabisah adalah tahun yang habis dibagi 4 tetapi setelah tahun 1582 ada sedikit perubahan dan pada tahun ini tepatnya pada tanggal 56 Oktober 1582 penambahan hari yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII yaitu tanggal 5 Oktober (menurut perhitungan J. Caesar) dijadikan tanggal 15 Oktober, jadi ada penambahan 10 hari dan untuk penentuan tahun panjang/kabisat dibuat ketentuan tahun-tahun yang habis dibagi 400 atau dapat dibagi 4. Ketentuan itu bisa dilakukan dengan syarat tidak habis dibagi 100 adalah tahun kabisat karena peredaran matahari yang sebenarnya membutuhkan waktu 365, 2422 hari (365 hsri 5 jam 48 menit dan 46 detik).
Penanggalan Hijriyah
Secara prinsip, penanggalan ini merupakan tahun atau kalender yang perhitunganya dimulai sejak Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Perhitungan sistem ini didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi.
Satu tahun terdapat 12 bulan yaitu Muharram, Shofar, Robi’ul Awwal, Robi’ustsani, Jumadil Ula, Jumadil Ahiroh, Rojab, Sya’ban, Romadhon, Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Jumlah hari dalam 1 tahun di tetapkan 354 11/30 hari. Oleh karena itu diadakan daur windu yang berumur 30 tahun dan didalamnya terjadi tahun kabisah sebanyak 11 kali yaitu pada tahun ke 2,5,7,10,1315,18,21,24,26, dan 29. Tahun yang angkanya setelah dibagi 30 bersisa tepat dengan angka-angka tersebut di atas adalah tahun kabisat yang berumur 355 hari, dan yang tidak tepat adalah tahun basitoh berumur 354 hari. Umur bulannya adalah 30 hari untuk bulan ganji dan 29 hari untuk bulan genap kecuali bulan Dzulhijjah kalau kabisat berumur 30 hari.
Penanggalan Jawa Islam
Di Pulau Jawa pernah berlaku sistem penanggalan Hindu, yang dikenal dengan penanggalan Soko, yakni sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran matahari mengelilingi bumi. Permulaan tahun Soko ini ialah hari Sabtu (1 Maret 78 M), yaitu satu tahun setelah penobatan Prabu Syaliwahono (Aji Soko) sebagai raja India. Oleh sebab itulah penanggalan ini dikenal dengan penanggalan Soko.
Disamping penanggalan Soko, di tanah air juga berlaku sistem penanggalan Islam atau Hijriyah yang perhitungannya berdasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Kemudian ada penggabungan sistem penanggalan antara Jawa dan Islam yang diberlakukan pada tahun 1633 M yang bertepatan tahun 1043 H atau 1555 Soko, oleh Sri Sultan Muhammad yang terkenal dengan nama Sultan Agung Anyokrokusumo yang bertahta di kerajaan Mataram.
Secara teknis, nama hari dari kalender Sultan Agung berasal dari kata-kata arab yakni: Ahad, Isnain, Tsalasa, Arba’a, Khamis, Jum’at, Sabtu. Nama-nama itu dipakai sejak pergantian kalender saka atau jawa asli menjadi kalender jawa Sultan Agung yang ilmiahnya dikenal dengan nama Anno Javanico ini dimulai pada tanggal 1 suro tahun Alip 1555 yang jatuh pada 1 Muharram 1042, sama dengan kalender Masehi 8 Juli 1633.
Meski namanya berasal dari Arab, tetapi sistem penanggalan ini mengambil prinsip dari tahun Hijriyah yakni berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh karena itu sistem ini dikenal pula dengan sistem penagggalan Jawa Islam.
Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah, dan Besar. Bulan-bulan ganjil berumur 30 hari, sedangkan bulan-bulan genap berumur 29 hari, kecuali bulan ke 12 (Besar) berumur 30 pada tahun panjang. Satu tahun berumur 354.375 hari (354 3/8 hari), sehingga daur (siklus) penanggalan Jawa Islam ini selama 8 tahun (1 windu) dengan ketetapan bahwa urutan tahun ke 2,5, dan 8 merupakan tahun panjang (Wuntu: 355 hari) sedangkan lainya merupakan tahun pendek (Wastu: 354 hari).
Nama-nama tahun windu semuanya berasal dari Bahasa Arab. Kesatuan waktu dalam windu sama dengan 8 tahun. Kesatuan ini masih dirinci lagi dalam kesatuan yang lebih besar, yakni kesatuan windu dalam 4 waktu, yaitu: 8 tahun windu Adi, windu Kunthara, windu Sancaya, dan windu Sengara. Dengan demikian kesatuan waktu di bawah juga tumbuk windu yang merupakan kelipatan kesatuan 32 tahun, yakni 64 tahun, 96 tahun (tumbuk tiga) dan seterusnya. Yang jelas keberadaan negara Indonesia ini hampir memasuki tum buk ke dua. Kemudian di bawah ini: kesatuan waktu windu dalam satu tahun ada 12 bulan di bawah adalah nama-nama bulan dalam bahasa aslinya: “Kasa, Karo, Ketelu, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, Kasanga, Kadasa, Apit Lemah, Apit Kayu”.
Sejak tahun 1554, tahun saka tidak dipakai lagi di Jawa. Tetapi praktek itu masih berlaku dan dipakai di Bali untuk hitungan sembilan (nawawara), kelemahan Makhluk (paringkelan), wuku dan lain-lain. Dalam tradisi Bali, hal tersebut hampir masih utuh dipakai. Sementara di Jawa setelah dipadukan oleh Sultan Agung, kalender tersebut dipakai di Jawa dan menjadi standar baru dalam penulisan sastra Jawa termasuk primbon di kalangan masyarakat Jawa, para ahli kebudayaan hingga kini masih menggunakan petung Jawa dan primbon.
Penanggalan Cina (Tiongkok)
Dalam budaya dan pengetahuan bangsa Tiongkok purba, pembuatan almanak telah dikenal sejak 5000 tahun yang lalu. Penanggalan ini dikenal dengan sebutan kalender rembulan, yin li atau kalender petani (nong liek) karena diperuntukan bagi upaya untuk mengetahui perubahan musim yang terjadi terhadap siklus di bumi. Praktek ini bertujuan agar manusia bisa mengetahui gejala alam yang sedang dan akan terjadi. Perhitungan tersebut didasarkan pada perhitungan ilmu feng shui, yakni dimensi waktu yang didasarkan dari konsep ilmu astronomi tiongkok purba dan mengacu pengaruh peredaran matahari dan bulan terhadap bumi.
Dalam sejarah Cina ada faham yang mempelajari perhitungan waktu-waktu serta bulan-bulan yang bertujuan agar selaras dengan dengan tenaga-tenaga alam. Perhitungan ini terkemas dalam almanak kecil yaitu dalam sejarah cina dinamakan Yin-Yang.
Perlu ditegaskan pula bahwa penjabaran almanak Tong Shu bukanlan ramalan yang bersifat mistik, akan tetapi berdasarkan perhitungan yang sangat rumit dan rumusan yang bersifat matematis yang didasarkan pada pengamatan pergerakan alam semesta (matahari, bulan dan planet-planet lainnya) terhadap gravitasi dan magnetik yang ada di bumi. Hal di atas dimaksudkan untuk kepentingan perkawinan, buka usaha, terima jabatan, penguburan dan lain sebagainya.
Dalam sejarah Cina, setiap tahun dilambangkan dengan nama¬nama binatang (Shio) yang jumlahnya 12 nama binatang. Lambang tersebut digunakan karena dipercaya untuk hari-hari baik ketika melakukan aktivitas dan lain-lain, berikut nama-nama tahun yang terdapat dalam Cina, yaitu: Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Kera, Ayam, Anjing, Babi.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
M. Hariwijaya, Islam Kejawen, (Yogyakarta: Gelombang Pasang, 2006). Departeman Pendidikan Nasional, Kamus besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005). C. C. Berg, diterjemahkan S. Gunawan, Penulisan Sejarah Jawa, (Yogyakarta: Budaya Karya, 1985). Mas Dian, MRE, Tong Shu Almanak Tahun 2002, (Semarang: PT Elexmedia). Suejono Suemargono, Sejarah Ringkas Filsafat Cina, (Yogyakarta: Liberty).
Penanggalan yang Ada di Indonesia 4.5 5 Anonymous Penanggalan atau tarikh di masyarakat Indonesia secara praktis digunakan untuk menentukan peristiwa-peristiwa penting. Penanggalan atau tarikh pada masyarakat Indonesia secara praktis digunakan untuk menentukan peristiwa-peristiwa penting. Setidaknya ada tig...


Advertisement
Post a Comment