.

Makna Uswah Hasanah dalam al-Quran

 

Ada perbedaan Qurra’ (ulama ahli dalam bidang bacaan al-Quran) dalam membaca uswah umumnya para Qurra’ Mesir selain Imam Ashim bin Abi Nujud, membacanya dengan meng-kasrah-kan Alif menjadi “iswah”. Sedangkan ‘Ashim membaca dengan men-dhamah-kan Alif menjadi “uswah”. Baik uswah maupun iswah menurut Abi ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, menyatakan (Iswah maupun uswah itu mempunyai arti sama dengan “qudwah atau qidwah” artinya teladan.
Uswah Hasanah merupakan dua kata yang saling terkait yakni terdiri dari kata “uswah” dan “hasanah”. Uswah dalam bahasa arab merupakan bentuk mashdar dari kata kerja yang berarti tuntunan atau teladan. Al-Raghib al-Ashfahani sebagaimana dikutib oleh Andewi Suhartini, menuturkan bahwa “uswah” dan “iswah” mempunyai makna “qudwah”, yang berarti kepribadian yang dimiliki seseorang yang menarik untuk diikuti orang lain, apakah baik, buruk, menyenangkan atau membahayakan.
Jika diperhatikan beberapa makna uswah di atas, menunjukkan bahwa uswah adalah kondisi yang ada pada diri seseorang terpuji atau tercela, yang menstimulasi orang lain untuk mengikuti dan mencontohnya. Sementara Uswah Hasanah berarti tuntunan yang baik lagi terpuji yang diikuti orang banyak, atau tuntunan yang lurus yang diikuti, artinya teladan baik yang sayogyanya dicontoh dan diikuti.
Selain uswah hasanah yang bermakna qudwah shalihah sebagaimana terkandung dalam surat al-Ahzab ayat 21, di dalam al-Quran juga terdapat uswah hasanah dengan menggunakan term yang sama, yakni pada ayat 4 dan 6 surat al-Mumtahanah. Kemudian pada ayat lain dalam al-Quran juga terdapat term iqtida’ serta ittiba’, yang juga mengandung arti qudwah shalihah, teladan baik yang diikuti, sebagai berikut:
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata pada kaum mereka, sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali pekataan Ibrahim kepada bapaknya, “sungguh aku akan memohonkan ampun untuk kamu tetapi aku tidak kuasa menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah, (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”(Q.S. al-Mumtahanah: 4).
“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”(Q.S. al-Mumtahanah: 6).
Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan anjuran atau perintah untuk meneladani Nabi Ibrahim serta para sahabatnya yang mukmin dalam pengingkarannya terhadap sekutu-sekutu Allah yakni Asnam, terkecuali permohonan Ibrahim memintakan ampunan ayahnya kepada Allah, karena Ibrahim menyangka ayahnya telah muslim. Tetapi setelah tahu bahwa ayahnya belum muslim kemudian Ibrahim melepaskan diri dari padanya. Dalam hal ini Abi Abdillah kemudian memberikan pengertian dibolehkannya memintakan permohonan ampunan kepada orang lain dengan prasangka baik, bahwa orang itu telah muslim.
Wahbah al-Zuhaili, menafsirkan bahwa ayat ini merupakan pernyataan seruan Allah kepada orang mukmin untuk menjauhi orang-orang kafir dan melepaskan diri dari segala persekutuan kuffar kepada Allah, serta anjuran untuk meneladani Nabi Ibrahim.
Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut menjelaskan tentang himbauan Allah kepada orang mukmin yang bermusuhan dengan orang-orang kafir untuk melepaskan diri dari mereka. Karena “Sesungguhnya telah ada uswah hasanah bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, yakni para pengikut Ibrahim yang beriman (kepada Allah), kecuali permohonan Ibrahim meminta ampunan kepada Allah terhadap ayahnya. Namun setelah Ibrahim mengetahui ayahnya adalah musuh Allah kemudian Ibrahim melepaskan diri dari padanya.”
Berkaitan dengan permohan Nabi Ibrahim tersebut, Hamka dalam Tafsir al-Azhar menegaskan, bahwa Ibrahim akan benar-benar memintakan ampunan terhadap ayahnya jika ayahnya mau berjanji untuk kembali ke jalan yang benar, karena kesanggupannya hanya sebatas permohonan tidak lebih dari itu, dan kekuasan sepenuhnya berada pada Yang Maha Kuasa Allah semata. Tetapi setelah janji itu tidak dipenuhi oleh ayahnya, dan tahu bahwa ayahnya benar-benar musuh Allah, bagaimanapun halus perasaan serta sangat cintanya Ibrahim kepada ayahnya, Ibrahim tetap berlepas diri dari padanya.
Disimpulkan bahwa Nabi Ibrahim telah mengedepankan keteladanan dalam beberapa hal. Dengan kasih sayang dan kelemah lembutan Nabi Ibrahim tampil sebagai teladan sekaligus pendidik umatnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang pendidik tidak berlaku kasar, tidak menghina kepada anak didik yang sedang berkembang.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhyiddin al-Darwisy, I’rabu al-Quran al-Karim wa Bayanuhu, (Beirut: al-Yamamah dan Dar ibn Kasir, 1412 H/1992 M). Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi, al-Jami’u li Ahkami al-Quran, (Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, t.th.). Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, (Beirut: Dar al-Fikr, 1991). Muhammad al-Razi Fakhruddin ibn al-Alaamah Ghiyauddin Umar al- Musyahhir, al-Tafsir al-Fakhri al-Razi, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th). Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial; Mendialogkan Teks dengan Konteks, (Yogyakarta: el.SAQ Press, 2005). Abi al-Hasan Ali ibn Ahmad al-Wahidy al-Naisabury, Asbabu al-Nuzul, (Bairu: Dar al-Fikr, 478 H.). Abi al-Fida Isma’il ibnu Katsir al-Qusyairi, Tafsir Ibnu Katsir, (Beirut: Dar al-Fikr, 1986). Abdul Malik Abdul Karim Amrullah, Tafsir al-Ashar, (Singapura: Pustaka Nasional, 1999).
Makna Uswah Hasanah dalam al-Quran 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Uswah Hasanah merupakan dua kata yang saling terkait yakni terdiri dari kata “uswah” dan “hasanah”. Ada perbedaan Qurra’ (ulama ahli dalam bidang bacaan al-Quran) dalam membaca uswah umumnya para Qurra’ Mesir selain Imam Ashim bin Abi Nuju...


Advertisement
Post a Comment