.

Sejarah Khitan sebagai Tradisi

 

Mengenai masalah khitan yang diyakini sebagai ajaran Islam masih menimbulkan perdebatan di kalangan ulama, ilmuwan dan peneliti. Mereka mengatakan bahwa khitan adalah ajaran Islam, sedangkan dari sisi sejarah, yang lain mengatakan bahwa khitan bukanlah ajaran Islam, namun produk budaya.
Khitan sudah ada dalam syariat Nabi Ibrahim as. Dalam kitab Mughni al-Muhtaj dikatakan bahwa laki-laki yang pertama melakukan khitan adalah Nabi Ibrahim as. Kemudian Nabi Ibrahim mengkhitan anaknya Nabi Ishaq AS pada hari ketujuh setelah kelahirannya dan mengkhitan Nabi Ismail as pada saat aqil baligh.
Tradisi khitan ini diteruskan sampai pada masa kelahiran Arab pra Islam saat kelahiran Nabi Muhammad saw. Mengenai khitan Nabi Muhammad saw para ulama berbeda pendapat yakni: Pertama, sesungguhnya Jibril mengkhitan Nabi Muhammad saw pada saat membersihkan hatinya, dan Kedua, bahwa yang mengkhitan Nabi Muhammad adalah kakek beliau, yakni Abdul Muthalib yang mengkhitan Nabi Muhammad pada hari ketujuh kelahirannya dengan berkorban dan memberi nama Muhammad. Kemudian Nabi mengkhitankan cucunya Hasan dan Husain pada hari kelahirannya. Pada hari tersebut banyak acara yang dilakukan antara lain aqiqah, mencukur rambut, memberi nama anak (tasmiyah).
Bangsa Arab membanggakan dirinya sebagai umat yang berkhitan. Abu Sufyan meriwayatkan bahwa pada suatu hari, Heraklius (Raja Romawi) sangat sedih. Pasalnya, pada suatu malam ia melihat bintang di langit membentuk satu gugusan yang menurut tafsiran para ahli Nujum merupakan isyarat kejatuhan bangsa Romawi dan berpindahnya kekuasaan mereka kepada bangsa yang berkhitan. Melihat raja mereka bersedih para pembesar istana Romawi merasa gelisah dan akhirnya menanyakan permasalahan yang dihadapi oleh raja Heraklius.
Heraklius mengisahkan “pada suatu malam, saya melihat suatu gugusan bintang yang menjadi pertanda bahwa raja dari umat yang berkhitan, akan muncul dan meraih kemenangan”. Lalau ia bertanya, “siapakah diantara rakyatku yang berkhitan?” mereka menjawab, “tidak ada yang berkhitan selain kaum Yahudi. Janganlah engkau gundah karena mereka. Tulislah surat kepada para pembesar negeri agar mereka membunuh kaum Yahudi.”
Heraklius pun melaksanakan anjuran tersebut sehingga banyak orang Yahudi yang menjadi korban. Ketika itulah seorang utusan Raja Ghassan (dari Basrah) mendatangi Heraklius dan memberitahu tentang munculnya seorang Nabi (Muhammad saw). Heraklius segera mengutus beberapa orang ke Arab untuk mencari informasi apakah Nabi tersebut berkhitan.
Orang-orang yang diutus itu kemudian melaporkan kepada Heraklius bahwa Nabi Muhammad memang berkhitan. Selanjutnya Heraklius menayakan apakah bangsa yang dipimpin Nabi tersebut berkhitan,. Mereka menjawab, “Ya”. Dalam akhir cerita ini Heraklius berkomenatar, “inilah Raja dari umat yang berkhitan. Ia telah datang dan akan menang”.
Khitan atau sunnat merupakan tradisi yang sudah ada dalam sejarah. Tradisi itu sudah dikenal oleh penduduk kuno Meksiko, demikian juga oleh suku­-suku bangsa Benua Afrika. Sejarah menyebutkan, tradisi khitan sudah berlaku di kalangan Bangsa Mesir Kuno. Tujuannya, sebagai langkah untuk memelihara kesehatan dari baksil-baksil yang dapat menyerang alat kelamin, karena adanya kulup yang bisa di hilangkan kotoranya dengan khitan.
Berbagai suku bangsa dipedalaman Afrika seperti suku Musawy (Afrika Timur) dan suku Nandi menjadikan khitan sebagai inisiasi (upacara aqil baligh) bagi para pemuda mereka. Setelah khitan barulah para pemuda diakui secara adat dan berstatus sebagai orang dewasa. Para pemuda yang dikhitan akan di kalungkan potongan Qulfah hingga sembuh. Khitan sangat erat kaitannya dengan budaya Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam). Sampai saat ini khitan masih dilaksanakan oleh penganut Yahudi dan sebagian penganut Kristen dari Sekte Koptik.
Menurut Islam maupun Koptik Kristen maupun Yahudi, khitan bermula pada tradisi Nabi Ibrahim AS. Patriarkh Ibrahim as. melakukannya sebagai simbol dan pertanda perjanjian suci (Covenant) atau dalam bahasa Islam Mitsaq, antara Ibrahim dengan Allah swt.
Khitan menurut tradisi asalnya bukanlah suatu proses bedah kulit yang bersifat fisik semata. Membuka kulit dilambangkan sebagai membuka tabir kebenaran yang selama ini diliputi kabut tebal. Oleh karena itu, istilah “buka” kulit yang berarti membuka kebenaran, kita jumpai dalam istilah para sufi Islam yakni al-Fathu al-Rabbani yang artinya adalah anugerah penyingkapan rahasia Tuhan.
Demikian gambaran singkat mengenai sejarah khitan Di dalam Islam khitan merupakan tugas yang diwajibkan kepada orang Islam. Ini terkait adanya ibadah yang mensyaratklan adanya kebersihan dan kesucian, apabila tidak khitan praktek membersihkan bagian dalam kelamin akan sulit.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhammad al-Khatib Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj Ila Ma ’rifat Al-Ma’ani Al-Fadhul Minhaj, (Baerut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1995). Ahmad Salabi, Kehidupan Sosial Dalam Pemikiran Islam, (t.tp: Amzah, 2001). Jalaluddin, Mempersiapkan Anak Shaleh: Telaah Pendidikan Terhadap Sunnah Rasulullah saw, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000). Alwi Shihab, islam inklusif : menuju sikap terbuka dalam beragama (Bandung: Mizan, 1999).
Sejarah Khitan sebagai Tradisi 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Mereka mengatakan bahwa khitan adalah ajaran Islam, sedangkan dari sisi sejarah, yang lain mengatakan bahwa khitan bukanlah ajaran Islam, namun produk budaya. Mengenai masalah khitan yang diyakini sebagai ajaran Islam masih menimbulkan perdebatan di kalangan ulama, ilmuwan dan peneliti. Mereka me...

Gunakan Browser Super Kencang Gratis, Klik di Sini


Advertisement

No comments:

Post a Comment