.

Keselamatan menurut al-Kitab

 

al-Kitab sebagai landasan kebaktian, pemberitaan dan pelajaran bagi umat Kristen. al-Kitab adalah sumber keterangan yang utama dan (bahkan kadang-kadang sumber yang unik) tentang peristiwa-peristiwa yang menyelamatkan itu.
Tujuan utama al-Kitab, tulis Paulus kepada Timutius adalah untuk mengajarkan pembacanya “untuk keselamatan”. Ini menunjukkan bahwa al-Kitab memiliki suatu tujuan praktis dan tujuan itu lebih menyangkut soal moral dan intelektualnya, atau lebih tepat dikatakan pengajaran intelektualnya (yang dimaksudkan dalam bahasa Yunaninya adalah hikmahnya) yang diberikan dengan tujuan terjadinya suatu pengalaman moral yang disebut dengan “keselamatan”.
al-Kitab melanjutkan, dengan mengajarkan kepada kita bagaimana dosa dan maut sebagai akibatnya masuk ke dalam dunia. Ia menekankan tentang daya tarik dosa sebagai nyata pemberontakan terhadap otoritas Allah, Pencipta dan Tuhan kita dan tentang keadilan hukuman-Nya atas dosa.
Tetapi peran utama al-Kitab ialah bahwa Allah mengasihi pemberontakan, yang sebenarnya tidak layak menerima apapun dari tangannya, kecuali hukuman. Sebelum permulaan zaman, al-Kitab berkata, rencana keselamatan-Nya telah terbentuk. Rencana ini bermula dalam anugerah-Nya, rahmat-Nya yang cuma-cuma dan tanpa syarat.
Ada banyak bahan dalam al-Kitab yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai laporan peristiwa, bukan peristiwa-peristiwa penyelamatan yang merupakan dasar mutlak untuk iman, bukan pula sebagai bahan penafsiran atas peristiwa-peristiwa penyelamatan itu.
Menurut al-Kitab kematian merupakan ungkapan tentang terputusnya hubungan di antara Allah dengan manusia sebagai upah dan dosa yang diakibatkan oleh ketidaktaatan manusia. Kematian dianggap sebagai hukuman Allah terhadap dosa.
Dalam Kitab Perjanjian Lama mengatakan bahwa, Tuhan dahulu kala adalah Esa, tidak ada Tuhan yang lain daripada-Nya. Dalam Kitab Yesaya tersebut sebagai berikut : “Ingatlah segala perkara yang dahulu dari awal zaman, bahwa Aku ini Allah, tiada lagi Allah yang lain atau sesuatu yang setara dengan Aku” (Yesaya 46:9).
Dosa adalah penghambat keselamatan bagi manusia. Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar, tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu adalah segala kejahatanmu dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar segala dosamu (Yesaya 59 : 2).
Penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus Kristus pun merupakan wujud dari cinta kasih yang sekarang menjadi salah satu ajaran moral dalam agama Kristen. Keselamatan yang terwujud oleh datangnya juru selamat, menjadi realitas di dalam hidup kini dan di sini. Keselamatan kini dan di sini merupakan suatu ungkapan bahwasannya semua orang dosanya telah diampuni yang oleh dan dalam percaya kepada Yesus Kristus telah dibenarkan dan dikuduskan, telah bertobat dan dilahirkan kembali.
Adapun beberapa keselamatan di dalam al-Kitab :
Menjadi orang Kristen dilihat sebagai orang sama. Orang Kristen dilihat sebagai orang yang diselamatkan (Kis 47, 2 Kor 2:1)
Keselamatan sangat erat hubungannya dengan kasih karunia Allah (Kis 15:11, Ef 2:5-8). Allah menyelamatkan manusia bukan karena manusia berhak diselamatkan, karena semata-mata mengasihi kita. Ia mengaruniakan roh-Nya. Dalam Perjanjian Baru, amat jelas ditegaskan bahwa keselamatan manusia memang berkat kasih Allah, tetapi kendati itu karunia manusia harus juga menjawab, memperjuangkan keselamatan itu. Dalam keselamatan itu manusia dibebaskan dari murka Allah (Rm 5:9).
Keselamatan Kristen dihubungkan dengan hidup dan perjuangan Yesus Kristus. Hidup dan perjuangan Yesus Kristus. Hidup dan perjuangan Yesus adalah mendamaikan hubungan saya dengan Allah (Rm 5:10). Gagasan yang muncul di sini adalah bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pengampunan dosa-dosanya di masa lampau, melainkan membutuhkan kekuatan perjuangan Yesus Kristus.
Keselamatan itu berkembang dalam pewartaan (Yak 1 :21), seperti biji yang ditaburkan. Sabda keselamatan itu tumbuh dan membawa buah. Sabda itu membawa kegembiraan Injil (Ikor 15:2). Manusia memang bisa sampai pada Allah dengan lancar dan spontan, tetapi juga bisa lewat pendidikan dan bahkan penderitaan. Penderitaan itu punya makna dalam sejarah keselamatan. Situasi yang berat bisa saja menjadi tanda belas kasih Allah, bukan tanda pembalasan Allah, melainkan tanda pendidikan-Nya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Lembaga al-Kitab Indonesia, al-Kitab, (Jakarta, 2002). Alex Suwandi, Tanya Jawab Syahadat Iman Katholik, (Kanisius, Yogyakarta, 1992). James Barr, The Bible in the Modern World, Terj. I.J. Cairns, dalam judul Al Kitab diDunia Modern, (Bpk Gunung Mulia, Jakarta, 1993). John R.W. Stott, Memahami Isi Al-Kitab, (Persekutuan Pembaca Al-Kitab, Jakarta, 2001). C. Groenen OFM, Soteriologi Al-Kitabiah, (Kanisius, Yogyakarta, 1989). Al-Kitab dan Terjemahnya, Lembaga Al-Kitab Indonesia, Jakarta, 1993). Hansj. Daeng, Injil dan Penyembahan Nenek Moyang, (Penerbit Media Pressindo, Yogyakarta, 2001).
Keselamatan menurut al-Kitab 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Keselamatan itu berkembang dalam pewartaan (Yak 1 :21), seperti biji yang ditaburkan. Sabda keselamatan itu tumbuh dan membawa buah al-Kitab sebagai landasan kebaktian, pemberitaan dan pelajaran bagi umat Kristen. al-Kitab adalah sumber keterangan yang utama dan (bahkan ...


Advertisement
Post a Comment