.

Biografi H Ali Akbar

 

H. Ali Akbar lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Tanggal 12 Agustus 1915 dan wafat tanggal 24 Juni 1994. Sebagai ilmwan muslim, ia dikenal sebagai dokter pertama di Indonesia yang banyak membahas problem seksual dalam perkawinan dan rumah tangga yang dikaitkan dengan tuntunan ajaran Islam.
H. Ali Akbar lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga Islam yang taat beragama. Pendidikan informalnya dimulai dengan belajar mengaji al­Qur’an sampai tamat. Kemudian masuk Madrasah Diniyah di Surau Syekh Muhammd Jamil, Jambek di Bukit Tinggi. Pendidikan fomalnya berawal di HIS., VSM bersubsidi di Bukit Tinggi. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Inlalandsche School dan MULO di kota yang sama. Setelah tamat dari MULO pada tahun 1934, ia melanjutkan studi ke sekolah dokter NIAS di Surabaya sampai tahun 1942. Studi kedokterannya diselesaikan di IKADAIGAKU (Sekolah Dokter Tinggi) di Jakarta pada tahun 1943.
Dua tahun setelah meraih gelar dokter, Ali Akbar mengawali kariernya sebagai dokter di Painan, Sumatra Barat. Pada 1948 ia diangkat menjadi Dewan Penasehat Gubernur Militer Sumatra Tengah dan Sekertaris Lokl Join Committe III sampai tahun 1950.
Ali Akbar ditugaskan sebagai dokterdi kedutaan RI di Arab Saudi dan di tempatkan di kota Mekkah. Di kota suci inilah ia banyak mendalami ajaran Islam. Selain itu, selama bertugas di Arab Saudi, ia banyak melakukan kunjungan keberbagai negara Islam, seperti Iran, Mesir dan Libanon. Tugasnya dikedutaaan berakhir pada tahun 1954 dan kemudioan ia dipanggil kembali ketanah air.
Setelah berada kembali di Indonesia, H. Ali Akbar dipilih menjadi anggota DPR (1955-1960). Sebagai anggota DPR ia pernah menjadi ketua misi Parlemen RI dalam kunjungan ke Iran tahun 1955. Tahun 1956 ia terpilih sebagai wakil ketua misi ulama Islam dalam kunjungan ke Cina.
Lepas dari DPR, pada tahun 1960 ia diaktifkan kembali sebagai pegawai departemaen kesehatan dan di tempatkan pada bagian fisiologi, fakultas kedokteran universitas indonesia (FKUI). Di UI karirnya menanjak terus, karenanya pada tahun 1966 ia diangkat menjadi ketua majelis pertimbangan kesehatan dan sara, di samping sebagai dosen. Pada tahun 1968 ia diangkat sebagai lektor kepala ilmu fa’al FKUI dan mendapat penghargaan satya lencana kebaktian sosial. Pada tahun itu juga ia tepilih sebagai ketua yayasan rumah sakit Islam Indonesia (YARSI) sekaligus merangkap sebagai dekan sekolah tinggi kedokteran YARSI di Jakarta.
Setelah pensiun sebagai pegawai negeri, H. Ali Akbar aktif dalam berbagikegiatan sosial kemasyarakatan. Pada tahun 1973 ia terpilih sebagai anggota pengurus badan penasehat perkawinan dan penyelesaian perceraian (BP4) pusat. Di BP4 ia juga dipercaya sebagai redaktur khusus nasehat perkawinan, majalah yang diterbitkan oleh BP4 Pusat sampai tahun 1980.
Konstribusinya dalam dunia ilmu terbukti dari sejumlah makalah dan artikel yang ditulisnya, terutama dalam majalah nasehat perkawinan. Tema­tema tulisannya pada umumnya mengacu pada masalah perkawinan dan kehidupan rumah tangga. Kumpulan dari berbagai artikelnya dalam nasehat perkawinan diterbitkan menjadi buku dengan judul Merawat Cinta Kasih (pustaka antara jakarta 1979).
H. Ali Akbar terkenal dengan resep cinta kasih dalam mempertahankan keutuhan perkawinan dan kedamaian dalam rumah tangga. Menurutnya, cinta kasih adalah cinta yang ditimbulkan Tuhan dalam hati suami istri. Cinta kasih inilah yang melahirkan perasaan ketenangan dan ketentraman yang diistilahkan al-Quran dengan konsep sakinah.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Hassan Muarif Ambary, et. Al (Dewan Redaksi), Suplement Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996). H. Ali Akbar, Seksualitas di Tinjau Dari Hukum Islam, Pustaka Antara, Jakarta, 1990). H. Ali Akbar, Merawat Cinta Kasih, (Pustaka Antara, Jakarta, 1978).
Biografi H Ali Akbar 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh H. Ali Akbar lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga Islam yang taat beragama. Pendidikan informalnya dimulai dengan H. Ali Akbar lahir di Bukit Tinggi, Sumatra Barat, Tanggal 12 Agustus 1915 dan wafat tanggal 24 Juni 1994. Sebagai ilmwan muslim, ia dikena...



No comments:

Post a Comment