.

Biografi Farid Esack

 

Farid Esack dilahirkan tepat pada tahun 1959, di sebuah perkampungan kumuh lagi miskin di Cape Town, Wynberg, Afrika Selatan. Figur ayahpun telah lama tak dijumpai Esack semenjak Ia berumur tiga minggu. Semakin lengkap penderitaannya ketika Ibunya, sepanjang perjalanan hidupnya ditakdirkan sebagai seorang pekerja rendahan di sebuah pabrik dengan gaji kecil, dan di akhir hayatnya, meninggal dalam kondisi uzur pada usia 52 tahun.
Romantisme masa kecil dengan kondisi keprihatinan, beberapa tahun kemudian, tanah kelahirannya, Wynberg, dirampas oleh rezim Apartheid. Akhirnya Farid Esack beserta keluarganya hijrah ke Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats, Afrika Selatan.
Hukum apartheid yang diberlakukan pada 1952 memposisikan Esack dan keluarganya semakin terjerembab dalam lumpur kemiskinan, penindasan dan keterkungkungan keberagamaan. Terlebih, lewat Akta Wilayah Kelompok (Groups Areas Act), seluruh warga kulit berwarna (hitam) diperlakukan secara diskriminatif oleh rezim apartheid, aktor hegemoni penindasan saat itu.
Islam bagi Farid Esack dan keluarganya menjadi sauh kultural dan berperan penting dalam perjuangan kami dalam mempertahankan hidup di tengah padang pasir dan pepohonan Port Jackson di Bonteheuwel. Karena mengaku sesama Islam, maka Esack dan keluarganya sering merapatkan interaksi mereka untuk saling berkomunikasi dengan sesama tetangga muslim. Sehingga meski keluarganya tidak tergolong religius, masjid adalah menjadi tempat yang penting untuk mereka melakukan kontak interaksi sesama tetangga muslim.
Farid Esack termotivasi mempertanyakan kembali secara kritis terhadap teks-teks keagamaan (liturgis) yang kerap ditafsirkan secara eksklusif. Terlebih, yang sangat esensial mempertanyakan secara radikal makna agama, klaim kebenaran dan doktrin keselamatan suatu agama. Karena Esack menyadari bahwa dalam konteks penindasan yang sudah sedemikian akut, menghadapi persoalan hidup tidak cukup hanya diatasi dengan memegangi argumen­argumen normatif dan teologis yang terus-menerus ditafsirkan secara eksklusif, konservatif dan ideologis, sementara kenyataan sosial berupa penindasan, kapitalisme, rasisme, eksploitasi gender (seksisme) dan lain sebagainya terus membayangi setiap saat.
Pada usia tujuh tahun, Esack telah mulai menancapkan keinginan kuatnya untuk menjadi sosok pemimpin agama (cleric). Dalam gambaran yang ia bubuhkan dalam karya Qur’an Liberation and Pluralism, Esack telah mengenal dan bersentuhan dengan tradisi kehidupan yang plural semenjak kecil, namun juga sangat relegius di ranah keagamaan.
Di sela-sela aktifitas pendidikannya, Farid Esack masih sempat meluangkan waktunya untuk aktif di berbagai organisasi gerakan, seperti di Aksi Pemuda Nasional (NYA/ National Youth Action), sebuah organisasi yang cukup vokal menentang apartheid, dan Asosiasi Cendekiawan Kulit Hitam Afrika Selatan (SABSA/South Africa Black Student). Esack sempat merasakan jeruji bui oleh pasukan khusus, yang kemudian dikenal sebagai polisi keamanan (Special Branch) Pasal yang di tuduhkan kepadanya adalah lantaran aktivitas di kedua organisasi tersebut Esack sangat “nyaring” dan vokal meneriakkan tuntutan adanya perubahan sosial politik bagi masyarakat Afrika Selatan secara radikal.
Setelah dibebaskan dari jeratan kasus politik tersebut, pada tahun 1974 Esack mendapatkan beasiswa untuk belajar teologi selama delapan tahun di Pakistan. Ia kemudian masuk di lembaga scholarship atau lembaga tinggi yang ia tempuh terpisah, yakni: Jami’ah Ulum al-Islamiyah dan Jami’ah Alimiyyah al-Islamiyah, Pakistan. Di sana dia berhasil memperoleh gelar sarjana Hukum dan sarjana Theology Islam.
Lambat laun, Esack mulai mencintai Pakistan, karena kedatangannya dari keluarga Muslim dalam situasi minoritas membuatnya prihatin pada pelecehan sosial dan agama atas kaum minoritas Hindu dan Kristen yang memang sering ia jumpai di Pakistan.
Pada tahun 1983, muncul beberapa konstitusi kontroversial yang membuahkan banyak penolakan dari rakyat Afrika Selatan secara massif. Soal yang diangkat adalah isu rasial yang cukup menyengsarakan rakyat dan kembali membawa pertentangan banyak pihak. Di satu sisi, dengan bangga, presiden Afrika Selatan saat itu, P.W. Botha, mencari pembenaran secara teologis dalam kitab suci Bible demi mengembalikan Afrika Selatan yang khas apartheid ke dalam komunitas bangsa-bangsa.
Puncaknya pada tahun 1984, Esack bersama tiga orang sahabat karibnya, ‘Adli Jacobs, Ebrahim Rasool dan Shamiel Manie dari University of Western Cape, mendeklarasikan organisasi gerakan bernama The Call of Islam, dengan Esack sebagai koordinator nasionalnya. Organisasi ini menjadi motor penggerak bagi Esack bukan hanya di bidang intelektual, tapi juga menjalankan aktivitas sosial-politik. Esack kemudian dipercaya sebagai orang yang memiliki komitmen kuat terhadap solidaritas antar-agama (inter-religious solidarity) untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian serta menentang kekejaman Apartheid.
Pergulatan (pemikiran) Esack semakin hidup dengan aktifitas keintelektualannya. Esack menjadi semakin mobile lewat aktifitas mengajar di University of Western Cape sebagai dosen senior pada Department Of Religious Studies serta menulis karya-karya ilmiah dan menghadiri seminar-seminar di dalam maupun luar negeri. Waktunya banyak dihabiskan untuk mengajar mata kuliah yang berkaitan dengan masalah Islam dan Muslim di Afrika Selatan, teologi Islam, politik, environmentalisme dan keadilan jender di sejumlah Universitas papan atas seperti Oxford, Harvard, Temple, Cairo, Moscow, Karachi, Cambridge, Birmingham, Amsterdam, CSUN (California State University Nortridge) dan juga Jakarta (Indonesia). Tak sekadar itu, Esack juga masih aktif di Comission on Gender Equality dan World Conference for Religion and Peace (WCRP).
Sebelumnya, Esack telah lebih dulu menjadi columnist untuk media Assalamu Alaikum, a USA quarterly. Dan pada tahun yang hamper bersamaan, secara berurutan, pada tahun 1991, 1997, 1999 ia aktif sebagai columnist untuk Al Qalam, sebuah Koran/media muslim yang terbit setiap bulan di Afrika Utara. Kemudian, 1992-1997, columnist untuk Islamica. Di samping itu Esack juga sempat keliling melakukan talk show di radio berskala internasional (BBC) pada 1990, 1991 dan 1993. Pada tahun 1989- 1991, ia menjadi columnist untuk Cape Times, sebuah Koran harian di kota kelahirannya, Cape Town.
Kesibukannya tak berhenti di situ, Esack juga memimpin banyak LSM dan perkumpulan, diantaranya: Community Development Resource Association, The (Aids) Treatment Action Campaign, Jublee 2000 dan Advisory Board of SAFM.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Zakiyuddin Baidhawy, Hermeneutika Pembebasan al-Qur’an: Perspektif Farid Esack dalam Abdul Mustaqim-Sahiron Syamsudin, Studi Al-Qur’an Kontemporer; Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2002). Farid Esack, Qur’an, liberation & Pluralism: An Islam ic Perspective of Interreligious solidarity againts Oppression, lihat terj. Al-Qur’an, Liberalisme, Pluralisme: Membebaskan yang Tertindas, (Bandung: Mizan, 2000). Farid Esack On Being a Muslim; Finding a Relegious Puth in the World Today, (Oxford England: Oneworlds, 1999), tej. On Being A Muslim, Fajar Baru Spiritualitas Islam Liberal-Plural, (Yogyakarta: IRCISOD, 2003).Jamil Salimi, Violence and Democratic Society; Hooliganisme dan Masyarakat Demokrasi, (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).
Biografi Farid Esack 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Akhirnya Farid Esack beserta keluarganya hijrah ke Bonteheuwel, sebuah kota untuk orang kulit berwarna di Cape Flats, Afrika Selatan. Farid Esack dilahirkan tepat pada tahun 1959, di sebuah perkampungan kumuh lagi miskin di Cape Town, Wynberg, Afrika Selatan. Figur ayahpun...


Advertisement
Post a Comment