Posts

Showing posts from December, 2012

Dosa menurut Agama Hindu

Dosa menurut agama Hindu, adalah perbuatan yang melanggar hukum kesucian yang disabdakan Hyang Widhi Wasa. Dosa itu dapat terjadi pada kelahiran yang terdahulu maupun pada kelahiran sekarang ini. Perbuatan dosa merupakan sebab utama kesengsaraan manusia. Perbuatan dosa dilarang di dalam agama karena mengandung bahaya bagi pelakunya, baik kesehatannya, akalnya atau pekerjaannya. Perbuatan dosa dapat membahayakan masyarakat yang mengakibatkan hilangnya nilai persatuan dan melahirkan keguncangan serta keributan. Karena adanya perbuatan dosa, pasti akan mendatangkan marah Tuhan. Kemudian Tuhan akan menurunkan siksaannya terhadap umat manusia. Siksaan tersebut terkadang berupa bencana alam, seperti banjir, kelaparan, angin topan dan gempa bumi. Dosa sebuah istilah yang berasal dari kalangan Hindu. Menurut agama Hindu, perbuatan, tingkah laku, sikap dan tutur kata yang termasuk dalam dosa antara lain Langgah, Dura Cara, Durhaka, Tresna Dudu dan sebagainya. Langgah adalah melanggar hukum T…

Tahiyyat al-Masjid; Pengertian dan Dasar Hukum

Tahiyyat al-Masjid...Shalat merupakan tiang agama yang di dalamnya telah terhimpun segala bentuk dan cara yang dikenal oleh umat manusia sebagai penghormatan dan pengagungan kepada Allah swt, Keyakinan tersebut memerlukan pembuktian dalam bentuk konkrit, karena keyakinan tidak terbatas dalam hati tetapi harus dibuktikan dengan amal perbuatan. Term Tahiyyat al-Masjid merupakan sebutan terhadap shalat sunnah dua rakaat yang dilakukan setiap kali orang masuk masjid, sebagai perwujudan rasa hormat kepada masjid. Arti Tahiyyat adalah penghormatan, yaitu ucapan atau perbuatan yang dilakukan untuk menghormati sesamanya (ucapan salam), menghormati tempat ibadah/ masjid (Tahiyyat al-Masjid), atau untuk menghormati Allah swt dan Rasul-Nya (bacaan Tahiyyat) Adapun arti masjid adalah tempat sujud yaitu tempat umat Islam mengerjakan shalat, dzikir kepada Allah swt, dan untuk hal-hal yang berhubungan dengan dakwah islamiyah. Dengan demikian, shalat Tahiyyat al-Masjid adalah shalat sunat dua rakaa…

Biografi Annemarie Schimmel

Annemarie Schimmel dilahirkan di Erfurt, sebuah kota kecil di Jerman pada tahun 1922. Seorang yang ahli dalam bidang mistisisme Islam, Schimmel telah menerbitkan 80 buku, mempunyai 5 gelar, dan 26 penghargaan dalam kuliahnya di berbagai Universitas termasuk Harvard, Bonn, London dan Ankara. Ia telah menguasai 10 bahasa termasuk Arab, Farsi, Turki, Urdu, dan Dari. Schimmel memperoleh gelar Doktornya di Universitas Berlin dan Universitas Marbung. Dia juga menyandang gelar profesor dibidang studi-studi Islam di Universitas Marbung, Universitas Boon. Sejak tahun 1967 ia di Universitas Harvard. Ia menjadi anggota beberapa masyarakat akademis, diantaranya anggota Midote East Studies Association, The Association For The Association. Di samping menjadi penyambung artikel-artikel untuk jurnal-jurnal profesional, dia juga pengarang beberapa buku tasawuf. Schimmel adalah seorang profesor yang menguasai lebih dari dua puluh bahasa asing dan memiliki photographik memory. Pada bulan Oktober 1945 i…

Biografi Ibnu Qutaibah

Nama lengkap Ibnu Qutaibah adalah ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah al-Dainuri al-Marwazi. Kuniyahnya adalah Abu Muhammad. Ia dinisbatkan pada al-Dainuri, yaitu suatu daerah di mana ia pernah menjadi hakim di sana. Sebagian ulama berpendapat, Ibnu Qutaibah juga dinisbatkan pada al-Marwazi yang merupakan tempat kelahiran ayahnya. Dalam beberapa literatur, ia terkadang dikenal dengan sebutan al-Qutba atau al-Qutaibah yang merupakan bentuk tashghir (memiliki arti kecil) dari kata Qutbah dan bentuk tunggal dari kata aqtab yang mempunyai arti jeroan binatang ternak. Tidak diketahui dengan jelas mengapa ia dinisbatkan pada kata tersebut. Ibnu Qutaibah dilahirkan pada tahun 213 H/ 828 M di Baghdad, dan ada yang mengatakan di Kufah. Pada masa itu Baghdad merupakan ibu kota negara yang berada di dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon. Jadi dapat dikatakan bahwa pusat pemerintahan dinasti Abbasyiah berada di tengah-tengah bangsa Persia. Sejak saat itu Baghdad tidak pernah sepi dari perkembang…

Definisi Hadis Mukhtalif

Pada dasarnya tidak semua hadis yang memenuhi persyaratan untuk diterima sebagai hujjah terlepas dari permasalahan. Salah satu persoalan yang sering terjadi adalah adanya beberapa riwayat yang tampak saling bertentangan makna lahiriahnya. Kurangnya informasi yang diterima seorang periwayat maupun kesalahan dalam memahami hadis Nabi, salah satu penyebabnya. Hadis tersebut oleh para ulama hadis, dinamakan hadis Mukhtalif atau Musykil al-Hadits. Sebagian ulama membedakan antara istilah Mukhtalif al-Hadits dan Musykil al-Hadits. Musykil al-Hadits (Isykal) lebih bersifat umum dari pada Mukhtalif al-Hadits (Ikhtilaf). Karena, terkadang sebab terjadinya Isykal adalah adanya kata-kata yang sulit dipahami dalam al-Quran maupun hadis dan munculnya pertentangan antara dua hadis, maupun hadis dengan al-Quran. Sedangkan Ikhtilaf (perbedaan) hanya terbatas pada pertentangan antara dua hadis secara lahiriah maknanya saja. Oleh karena itu setiap Mukhtalif al-Hadits pasti termasuk Musykil al-Hadits, …

Muhammad dalam Pandangan para Pakar

Sosok Muhammad saw, sebagai Nabi dalam pandangan umat Islam, juga mendapat perhatian dari pakar, dan pemikir islam. Muhammad dalam pandangan pakar, memiliki berbagai bentuk pandangan, diantaranya: Sayyed Hussein Nasr Muhammad sebagai penyebar agama Islam dan pembawa petunjuk Tuhan adalah penafsir Per-Excellence dari al-Quran dan hadis serta sunnahnya. Ucapan dan perbuatannya adalah sumber tradisi terpenting dalam Islam sesudah al-Quran. Untuk memahami peran Muhammad dalam Islam, tidak cukup mempelajari sejarah hidupnya dari luar. Orang harus memandangnya dari sudut pandang Islam dan mencoba menemukan posisi yang didudukinya di dalam kesadaran beragama para muslimin. Apabila seorang muslim berbicara tentang Nabi, maka yang dimaksud adalah Muhammad, yang namanya tidak pernah disebut tanpa diikuti Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Secara umum, apabila seorang berbicara tentang Nabi, yang dimaksud adalah Muhammad. Sulit bagi orang non-Muslim untuk memahami peranan Nabi sebagai prototipe kehid…

Periwayatan Hadis Pasca Kenabian

Setelah Nabi wafat (11 H/ 632 M), kendali kepemimpinan umat Islam berada di bawah pemerintahan Khulafa al-Rasyidin. Mereka adalah Abu Bakar al-Shiddiq (wafat 13 H/634 M), Umar bin Khaththab (wafat 23 H/644 M), Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M) dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/66 1 M). Masa keempat sahabat ini dikenal dengan Zaman Sahabat Besar. Pada masa itu, perhatian sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran al-Quran sehingga periwayatan hadis belum begitu berkembang, namun hanya sekedar usaha membatasi saja. Abu Bakar sebagai khalifah pertama telah menunjukkan perhatianya terhadap hadis. Dia sangat berhati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Hal ini dibuktikan tatkala Abu Bakar menghadapi kasus waris untuk seorang nenek. Ketika beliau menyatakan bahwa hal itu tidak ditemukan hukumnya baik dalam al-Quran maupun sunnah, maka al-Mughirah mengatakan kepada beliau bahwa Rasulullah telah memberikan bagian waris kepada nenek sebesar 1/6 bagian. Abu Bakar kemudian…

Pengertian Sedekah menurut Ulama

Kata Sedekah berasal dari bahasa Arab Sadaqa, yang artinya benar. Benar dalam artian sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. Banyak kata Sedekah dalam berbicara berarti benar. Tasaddaqa dalam hal kekayaan berati dizakatkan atau disedekahkan, dan bentuk kata Ashdaqa kepada perempuan, berarti membayar mahar. Perubahan Ta’rif itu dimaksudkan untuk menunjukkan arti tertentu setiap kasus, dan diungkapkannya semua dengan akar kata Sadaqa, dimaksudkan untuk menunjukkan perbuatan menyedekahkan itu. Allah menggabungkan kata memberi dengan membenarkan, dan kikir dengan dusta dalam firman-Nya: “Adapun orang-orang yang memberikan (hartaya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. al-Lail: 5-10).” Mengenai istilah Sedekah di anta…

Pengertian Rukyah

Secara etimologi rukyah nerarti melihat. Artinya penglihatan mata. Dalam kamus al-Munjid, rukyah berarti melihat dengan mata atau akal). Rukyah secara harfiyah berarti melihat, arti yang paling umum ialah, melihat dengan mata kepala. Rukyah secara istilah, berbicara tentang rukyatul hilal. Para ulama dalam memberikan pengertian rukyah sangat bervariasi; Menurut Muhyidin, rukyah ialah tampaknya hilal yang dilihat oleh mata telanjang di lapangan pada hari ke 29 bulan sya’ban atau bulan Ramadhan. Rukyah secara umum dapat dikatakan sebagai pengamatan terhadap hilal, sesuai dengan sunnah nabi, rukyah dilakukan dengan mata telanjang. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan rukyah ialah melihat bulan dengan mata kepala sesudah terbenam matahari pada hari 29 bulan sya’ban. Penentuan awal bulan Hijriyah didasarkan pada adanya rukyatul hilal (bulan sabit/ bulan tanggal satu). Allah swt menetapkan puasa berdasarkan peredaran bulan dengan dilatarbelakangi sejumlah hikmah dan sebab. Ref…

Tarekat Asy-Syahadatain

Tarekat Asy-Syahadatain muncul sejak awal abad IX sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Tarekat ini dikembangkan pertama kali oleh Sayyed Umar, yang merupakan keturunan Nabi ke-37, dari silsilah Husain bin Ali. Orang tua Sayyed Umar asli orang Arab yang pindah ke Indonesia dengan tujuan berdagang dan menetap di Cirebon pada tahun 1860. Sayyed Umar dilahirkan di Cirebon sekitar pada tahun 1890, kemudian ia dibesarkan di lingkungan pesantren sejak kecil hingga dewasa pada tahun 1930. Awal mula lahirnya tarekat Asy-Syahadatain, adalah dari perkumpulan Mujahadah oleh Sayyed Umar. Mujahadah ini diadakan secara sederhana, namun makin lama semakin banyak anggota jamaahnya, bukan lagi dari kalangan orang tua melainkan juga dari kalangan remaja. Hal ini dikarenakan perkumpulan ini sifatnya menkaji tentang hakekat ajaran agama Islam. Kemudian setelah kemerdekaan RI., pada tahun 1964 jamaah ini mendirikan perkumpulan dengan nama Tarekat Asy-Syahadatain, dengan diketuai Sayyed Umar atau lebih…

Konsep Dana dalam Agama Budha

Secara universal, memberi dikenal sebagai salah satu keluhuran manusia yang paling mendasar. Sesuatu yang membuktikan kedalaman sifat manusiawi dan kemampuan seseorang untuk trensendan diri. Perbuatan memberi ini merupakan satu langkah awal yang penting di dalam ajaran Budha, dan disebut “Dana”. Berdasarkan tata bahasa Pali istilah dana dapat diartikan sebagai berikut: Diyabeti Danam yaitu sesuatu yang telah diberikan disebut Dana.Duggati Dayati Rakkbati Danam yaitu sesuatu yang membuat si pemberi memperoleh perlindungan, keselamatan, kebebasan dan penderitaan atau kesukaran disebut dana. Kitab Visuddimaga, Buddhaghosa Thera telah memberikan definisi sebagai Danam Vuccati Avakbandbam yaitu sesuatu yang diberikan dengan niat disebut dana. Dana biasa diterjemahkan sebagai pemberian sedekah. Pemberian sedekah mengingatkan kepada pemberian hadiah kepada orang-orang miskin atau kepada mereka yang berada dalam lingkungan yang tidak menguntungkan. Ber-dana adalah perbuatan melepas sesuatu ya…

Biografi Ja'far al-Barzanji

Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim adalah seorang khatib Mesjid Nabawi di Madinah. Lahir tahun 1690 M, dan meninggal tahun 1776 M, di Madinah. Ia menjadi terkenal karena kumpulan syair-syairnya yang menggambarkan sentralnya kelahiran Nabi Muhammad bagi umat manusia. Kumpulan tersebut sebenarnya dinamai Cerita tentang Kelahiran Nabi (Qissat al-Maulid an-Nabawi), namun menjadi terkenal dengan sebutan Barzanji. Beberapa masyarakat Islam, termasuk Indonesia, Barzanji bersama-sama dengan karya-karya lain yang sejenis seperti al-Burdah dan Ziba‘, sering dibaca pada upacara-upacara keagamaan tertentu khususnya pada peringatan hari lahirnya Nabi (Maulid Nabi). Dalam membaca Barzanji dan sejenisnya dimasukkan juga berbagai ritus yang bisa bercorak gerakan, improvisasi pembacaan dan penyediaan materi-materi tertentu. Selama bulan Maulid (Rabiul awal) bisa saja Barzanji dibaca tiap malam sebulan penuh berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain dalam suatu lingkunga…

Perbedaan Aliran mengenai Sifat Tuhan

Kaum muslimin abad pertama hijriyah jika bertemu dengan ayat-ayat mutasyabihat atau ayat-ayat yang membahas mengenai sifat-sifat Tuhan, seperti kejisiman Allah swt, tidak mau membicarakan isinya dan juga tidak mau menakwilkan, meskipun mereka berpendirian seharusnya tidak dipahami sebagaimana makna lahirnya, karena Allah swt, Maha Suci dari persamaan dengan makhluknya. Baru pada masa sesudah mereka, perdebatan mengenai sifat-sifat Allah swt mulai ramai dibicarakan. Setidaknya telah muncul beberapa aliran yang berusaha membicarakan mengenai sifat-sifat Allah swt. Aliran tersebut yaitu: Pertama; Aliran Musyabihah. Jika sekiranya kaum muslimin berpegang teguh pada prinsip-prinsip tidak adanya persamaan antara Tuhan dengan makhlu-Nya, tentulah tidak akan timbul persoalan sifat dan juga tidak akan imbul segolongan muslimin yang memegangi secara lahiriyah nash-nash al-Quran atau hadis-hadis mutasyabihat, seperti golongan Musyabihah atau Karramiyah. Mereka mengatakan, Tuhan memiliki muka, du…

Macam-macam Mahar menurut Ulama Fikih

Mahar merupakan harta pemberian dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan yang merupakan hak si istri dan sunnah disebutkan ketika akad nikah berlangsung. Adapun mengenai macam-macam mahar, ulama fikih sepakat bahwa mahar itu bisa dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut: Mahar Musamma Yaitu maskawin yang sudah disebut atau dijanjikan kadar dan besarnya. Ulama fikih sepakat bahwa dalam pelaksanaannya maharmusamma harus diberikan secara penuh apabila:
Telah bercampur (bersenggama).Apabila salah satu dari suami istri meninggal. Kemudian dalam hal khalwat atau bersenang-senang dengan buka-bukaan dan belum terjadi persetubuhan, maka tidak wajib membayar maskawin seluruhnya. Dan dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahli fikih. Abu Hanifah mengatakan bahwa apabila suami istri sudah tinggal menyendiri, maka ia wajib membayar mahar yang telah dijanjikan. Artinya jika suami istri berada di suatu tempat yang aman dari penglihatan siapapun dan tidak ada halangan hukum untu…

Landasan Pengharaman Riba

Riba diharamkan oleh semua agama samawi, karena dianggap sesuatu yang membahayakan menurut agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Orang Yahudi mengharamkan riba sesama mereka tetapi menghalalkannya kalau dilakukan pada pihak lain. Hal inilah yang mendorong umat Yahudi memakan riba dari pihak lain dan menurt al-Quran perbuatan semacam ini dikatakan sebagai hal memakan riba. Berbeda dengan umat Yahudi, umat Nasrani dalam hal riba, secara tegas mengharamkan riba bagi semua orang, tanpa membedakan kalangan Nasrani maupun non-Nasrani. Menurut Ensiklopedi Islam kata riba dalam al-Quran ditemukan sebanyak tujuh kali, pada surat al-Baqarah ayat 275, 276, 278, 279, surat ar-Rum ayat 39, surat an-Nisa ayat 161, surat Ali-Imran ayat 130. Disamping pengharaman riba terdapat di dalam al-Quran juga terdapat di dalam sunah Nabi: “Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash Shamit ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Bolehlah menjual (menukar) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai d…

Definisi Perdagangan dalam Islam

Aspek ekonomi sangat penting perananya dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia, termasuk di dalamnya tentang perdagangan. Perdagangan merupakan salah satu jenis usaha untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Secara etimologi perdagangan yang intinya jual beli, berarti saling menukar. Al-Bai' arti nya menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lainya) dan asy-Syira' artinya beli, adalah dua kata yang dipergunakan dalam pengertian yang sama tapi sebenarnya berbeda. Sedangkan pengertian al-Bai' secara terminologi, para ahli fikih menyampaikan definisi perdagangan yang berbeda-beda antara lain sebagai berikut: Menurut ahli fikih madzhab Hanafiyah, perdagangan adalah : "Menukarkan harta dengan harta melalui tata cara tertentu, atau mempertukarkan sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tatacara tertentu yang dapat dipahami sebagai al-Bai', seperti melalui ijab dan Ta'athi (saling menyerahkan)." Imam Nawawi dalam menyampa…

Hermeneutika Teoritis (hermeneutical theory)

Dalam hermeneutika teoritis (hermeneutical theory) problem hermeneutis-nya adalah metode, yakni mempersoalkan metode apa yang sesuai untuk menafsirkan teks sehingga mampu menghindarkan seorang penafsir dari kesalahpahaman, dus menemukan makna objektif dengan metode yang valid pula. Menurut Schleiermacher, ada dua bagian penafsiran yang perlu diperhatikan dalam paradigma hermeneutika teoritis ini; pertama, penafsiran gramatikal. Dalam penafsiran ini mengandung prinsip: 1). “segala sesuatu yang membutuhkan ketepatan (makna); 2). “Makna dari sebuah kata dari sebuah batang tubuh teks ditetapkan dengan merujuk pada koeksistensinya dengan kata-kata lain”. Jadi penafsiran selalu bersifat holistik dan parsial, sekaligus. Seorang penafsir tidak mungkin memahami suatu objek, seperti teks atau kalimat, sebagai sebuah bagian partikular tanpa merujuk kepada keseluruhan konteksnya. Sebaliknya, kita juga tidak dapat memahami keseluruhan tanpa merujuk kepada bagian-bagiannya. Konsep ini oleh Schleie…