Skip to main content

Profil Tarekat Tijaniyah

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: November 04, 2012

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Abul Abbas Ahmad bi Muhammad bin al-Mukhtar at-Tijani atau yang lebih dikenal Syekh Ahmad al-Tijani (1737- 1815). Tarekat Tijaniyah berkembang terutama di Maroko dan Aljazair.
Tarekat Tijaniyah yang datang belakangan juga menunjukkan kekuatan jaringan ordo sufi yang sangat besar. Walaupun dengan kekhususan bahkan mungkin keganjilannya tarekat ini pernah mengalami reaksi dan tantangan keras. Namun dewasa ini tarekat Tijaniyah di Indonesia telah menjadi tarekat yang mapan di Indonesia. Tarekat ini datang di Indonesia tahun 1920 yang dibawa oleh Syekh Ali bin Abdullah at-Thayib al-Madani al-Azhari dan Syekh Abdul Hamid al-Futi.
Sementara melalui Syekh Ali al-Thayib (anak Syekh Ali bin Abdullah) tarekat Tijaniyah berkembang di Jawa Barat, sedang Syekh Abdul Hamid al-Futi merupakan pembuka utama tarekat ini ke Jawa Timur antara lain ke Surabaya dan Madura. Pada akhirnya para muqaddam tarekat Tijaniyah sepeti Kyai Abbas dan Kyai Anas Buntet telah menjadikan Tijaniyah berkembang menjadi tarekat yang besar melalui muqaddam¬ baru. Di antara muqaddam itu yang istimewa ialah Kyai Hawi yang mengahasilkan tujuh muqaddam yang tersebar di berbagai daerah. Mereka adalah Kyai Abdullah Syifa (Buntet), Kyai Fahim Hawi (Buntet), Kyai Junaedi putera Kyai Anas (Sidamulya), Kyai Muhammad Yusuf (Surabaya), Kyai Muhammad Basamalah (Brebes), Kyai Baidhawi (Sumenep) dan Kyai Rasyid (Pesawahan Cirebon). Kyai Fahim Hawi membariat ustadz Maufur (Klayan Cirebon Utara), Kyai Abdul Mursyid (Kesepuhan) dan Kyai Imam Subki (Kuningan). Di Jawa Timur Kyai Muhammad Yusuf Surabaya membaiat Kyai Badri Masduki (Probolinggo) dan kyai fauzan Fathullah. Sedang Kyai Baidhawi (Sumenep) membaiat Habib Luqman (Bogor), Kyai Mahfudz (Kesepuhan) dan Nyai Hammad (Kuningan).
Di Cirebon, kegiatan tarekat Tijaniyah mulai muncul sejak 1928 M di bawah pimpinan Kyai Buntet yakni Kyai Abbas dan Kyai Anas. Banyak murid-muridnya yang berdatangan dari Tasikmalaya, Brebes, Tegal dan Banyumas yang kemudian dapat menyebarkan tarekat Tijaniyah ke pelosok Jawa Tengah. Di Jawa Tengah ini kemudian tarekat Tijaniyah dapat berkembang di Tegal tepatnya di Desa Pener Kecamatan Pangkah.
Tarekat Tijaniyah yang ada di Desa Pener pertama kali dibawa oleh almarhum H. Rofi’i murid dari Syekh Ali Basalamah, yang tidak lain ayah dari Kyai Muhammad Basalamah, Muqaddam tarekat Tijaniyah di Brebes pada tahun 1970. Mula-mula berdirinya hanya ada 4 orang pengikutnya, mereka adalah Bapak Abdul Wahib, Bapak Fathrur, Bapak Rahmat dan Bapak Wamat.
Kemudian sekitar tahun 1993 tarekat Tijaniyah di Desa Pener dapat berkembang pesat di bawah pimpinan Ustadz Bunyani. Sebelumnya Ustadz Bunyani menghubungi KH. Syekh Muhammad yang merupakan Muqaddam tarekat Tijaniyah di Brebes untuk bisa menjadi santrinya. Ustadz Bunyani mengutarakan keinginannya untuk menjadi santri untuk belajar dan mendalami tarekat Tijaniyah dengan tujuan meminta keselamatan dunia akherat. Kemudian Syekh Muhammad memberikan amalan-amalan tarekat Tijaniyah kepada Ustadz Bunyani dan membai’atnya menjadi pengikut tarekat Tijaniyah. Setelah Ustadz Bunyani mendapat ijazah sebagai pengikut tarekat Tijaniyah, maka atas dukungan Syekh Muhammad, Ustadz Bunyani dipercayakan untuk menyebarkan dan mengajarkan tarekat Tijaniyah di Desa Pener. Bersama teman-temannya yaitu H. Khaeroni, Nasukha, Suratno, Sarno, Dakrun dan Radi, Ustadz Bunyani kemudian mendirikan tarekat Tijaniyah di desa Pener untuk meneruskan pemimpin pendahulunya H. Rofi’i. Dan sekarang jumlah pengikut tarekat Tijaniyah di Desa Pener sudah mencapai kurang lebih 120 orang.
Tarekat Tijaniyah di Desa Pener merupakan cabang dari tarekat Tijaniyah yang pusatnya di Pondok Pesantren Darussalam Jatibarang Brebes yang dipimpin oleh Syekh Muhammad bin Ali Basalamah.
Sejauh ini at-Tijani tidak meninggalkan karya tulis tasawuf yang diajarkan dalam tarekatnya. Ajaran-ajaran tarekat ini hanya dapat dirujuk dalam buku-buku karya murid-muridnya, misalnya Jawahir al-Ma’ani wa Biligh al-Amani fi-Faidhi as-Syekh at-Tijani, Kasyf al-Hijab Amman Talaqqa Ma’a at-Tijani min al-Ahzab dan as-Sirr al-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Dua kitab yang pertama ditulis langsung oleh murid at-Tijani sendiri, dan dipakai sebagai panduan para muqaddam dalam persyaratan masuk ke dalam tarekat Tijaniyah pada abad ke-19.
Setiap orang yang ingin masuk dan bisa menjadi pengikut tarekat Tijaniyah, terlebih dahulu harus mengetahui dan memahami aturan-aturan dalam tarekat Tijaniyah. Aturan-aturan tersebut meliputi syarat Kamaliah, syarat Lazimah dan tata krama.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Laily Mansur, Ajaran dan Teladan Para Sufi, (PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002). M. Muhsin Jamil, Tarekat dan Dinamika Sosial Politik :Tafsir Sosial Sufi Nusantara, (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cet.I, 2005)
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar