.

Prestasi Belajar Afektif

 

Memahami prestasi belajar afektif, terlebih dahulu memahami ranah afektif itu sendiri. Perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif. Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Arah perasaan yang terbentuk dalam diri peserta didik ini, mempengaruhi prestasi belajarnya.
Target prestasi belajar afektif cenderung menjadi ide, target prestasi belajar secara umum dapat berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu. Definisi lain tentang prestasi belajar yang terkait dengan ranah afektif disampaikan oleh Tyler yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
Menurut Andersen, ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengukur prestasi belajar afektif, yaitu metode observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan/atau reaksi psikologi. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Namun hal ini menuntut kejujuran dalam mengungkap karakteristik afektif diri sendiri
Prestasi belajar afektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Prestasi belajar bidang afektif antara lain berupa kesadaran beragama yang mantap. Tingkatan prestasi belajar bidang afektif sebagai berikut; 1) Reciving/attending, yakni kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang pada siswa baik dalam bentuk masalah situasi atau gejala. 2) Responding atau jawaban, yakni reaksi dari perasaan kepuasan dalam menjawab rangsangan (stimulus) dari luar yang datang pada dirinya. 3) Valuing (penilaian), yakni prestasi belajar berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. 4) Orgnisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam satu sistem nilai lain dan kemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. 4) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Sumadi Suryabrataa, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Press, 2002). Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003). Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
Prestasi Belajar Afektif 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Prestasi belajar bidang afektif antara lain berupa kesadaran beragama yang mantap. Memahami prestasi belajar afektif, terlebih dahulu memahami ranah afektif itu sendiri. Perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifi...


Advertisement