Skip to main content

Perbedaan Zakat Fitrah dan Zakat Mal (Harta), dan Nisab Zakat Mal

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: August 16, 2012

Dalam berbagai referensi fikih, diketahui bahwa zakat terdiri atas dua macam, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Pengertian zakat fitrah, adalah pensucian bagi orang yang berpuasa, sekaligus sebagai rasa syukur kepada Allah atas karuniah-Nya karena telah menyempurnakan puasa Ramadhan, dan juga sebagai rasa syukur kepadanya karena berbagai nikmat yang tekah dilimpahkan selama satu tahun, yang diberikan secara terus menerus, yang paling besar adalah nikmat iman dan Islam. Dalil yang berkenaan dengan zakat fitrah adalah hadis dalam Bukhari dan Muslim,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ # فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ (متفق عليه)
Dari Ibn ‘Umar ra berkata: Rasulullah saw telah mewajibkan zakatul fitri satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’īr atas tiap orang merdeka, budak, lelaki, perempuan, dari setiap kaum muslim (Hadis disepakati oleh Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis di atas, diketahui bahwa Nabi saw mewajibkan zakat fitrah atas semua orang muslim yang memiliki kelebihan bahan makanan pada hari itu, baik orang merdeka maupun hamba sahaya, perempuan maupun laki-laki, dewasa maupun anak kecil, hendaknya mereka mengeluarkan satu sha’ dari kurma, atau gandum, atau jenis makanan pokok lainnya.
Orang yang diwajibkan membayar zakat fitrah, ialah muslim, dan waktu pembayarannya yang lebih afdhal adalah sesudah terbenam matahari (sudah mulai 1 syawal), dan mempunyai kelebihan makanan untuk diri dan keluarganya. Pada dasarnya zakat fitrah ini juga merupakan bentuk menolong antara dan orang miskin sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.
Selain zakat fitrah, adalah zakat mal, atau zakat harta yang definisinya telah dikemukakan secara umum sebelumnya (baca di sini). Harta yang wajib dizakati dalam zakat mal, beberapa macam, yakni harta dari peternakan, emas dan perak, harta hasil perniagaan, harta hasil pertanian. Mengenai nisab dan kadar dari harta tersebut adalah sebagai berikut :
Harta peternakan
Peternakan yang wajib dizakati, terdiri dari ternak unta, sapi kerbau, dan kuda, serta kambing atau domba. (Mengenai nisabnya, akan diulas kemudian)
Emas dan Perak
Nisab kewajiban mengeluarkan zakat emas adalah 20 dinar atau 80 gram murni (1 dinar sama dengan 4,25 gram emas murni) dan zakat perak adalah 200 diram atau setara dengan 672 gram perak. Apabila seseorang telah memiliki emas seberat 85 gram atau memiliki perak seberat 672 gram, maka telah wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%.
Selain emas murni dan perak, harta simpanan lain yang dapat di-qiyas-kan pada keduanya, seperti uang tunai, tabgungan, cek, saham, surat berharga, atau bentuk lainnya, bila jumlahnya telah senilai dengan nishab emas dan perak, maka wajib dikeluarkan zakatnya sebesarnya 2,5% setiap tahun.
Harta Perniagaan dan Perusahaan
Harta dari hasil perniagaan melalui perdagangan, industri, jasa, dan sejenisnya bila telah sampai pada nisab wajib pula untuk dizakati. Nishab dari harta hasil perniagaaan ini di-qiyas-kan pada nishab emas, yakni 85 gram sebesar 2,5%. Apabila sebuah perniagaan pada akhir tahun atau tutup buku telah memiliki harta kekayaan (modal dan keuntungan) senilai 85 gram, maka peniaga itu telah wajib untuk mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari seluruh harta perniagaannya.
Apabila perniagaan itu berupa musyarakah (kerjasama/koperasi) dari beberapa orang, maka sebelum harta perniagaan itu dibagikan kepada masing-masing sesuai dengan porsinya, harta perniagaan itu wajib terlebih dahulu dikeluarkan zakatnya. Ketentua ini berlaku apabila pihak-pihak yang berserikat itu semuanya beragama Islam. Tetapi, bila dalam musyarakah itu terdapat non muslim, maka zakat hanya dikeluarkan dari harta perniagaan yang menjadi hak musyārik yang muslim.
Hasil Pertanian
Nisab hasil pertanian adalah 5 washq atau setara dengan 750 kg. Namun kadar yang harus dikeluarkan dalam menunaikan zakatnya terbagi kepada dua bagian, yaitu pertama apabila pertanian itu diairi dengan air hujan atau sungai, maka zakat yang harus dikeluarkannya sebesar 10%, kedua apabila pertanian itu diairi dengan cara disiram, maka zakat yang harus dikeluarkannya sebesar 5%.
Penghasilan-penghasilan lain selain dari yang telah kemukakan di atas, nisab dan kadar zakatnya dapat dianalogikan (di-qiyas-kan) kepada ketentuan yang telah pasti yang termuat dalam al-Quran dan hadis, seperti pendapatan dari jasa, pertambangan, dan rikaz.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, jilid III. Cet. VIII: Bairut: Dār al-Kitāb al-'Arabiya, 1987. Abd. Muin Salim, Ekonomi dalam Perspektif Al-Qur'an; Sebuah Pengantar Pengenalan dasar Ekonomi Islami. Cet. I; Ujung Pandang: YAKIS, 1994. Mahmud Syaltut, al-Islam; Aqidah wa Syari’ah. Cet.III; t.t.: Dar al-Kalam, 1966. Al- Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh al-Islāmiy wa Adillatuhu, juz IV. Suriah: Dār al-Fikr, 1989. Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjāj al-Naisaburiy, Shahih Muslim, juz I (Bandung: Maktabah Dahlan, t.th).
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar