.

Dialog Asy’ariy dengan Gurunya

 

Sebab klasik perpisahan Asy’ariy dengan gurunya, konon karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Muktazilah, yaitu masalah "keadilan Tuhan." Muktazilah berpendapat,"semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah.
Dialog Asy’ariy dengan gurunya tersebut berlangsung sebagai berikut:
Al-Asy'ari : Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam keadaan masih kecil.
Al-Jubba'i : yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.
Al-Asy'ari : Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih baik di Sorga, mungkinkah?
Al-Jubba'i : Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.
Al-Asy'ari : Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan:itu bukan salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang taqwa itu.
Al-Jubba'i : Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu, jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah) matikan engkau adalah untuk kemaslahatanmu.
Al-Asy'ari : Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, "Ya Tuhanku Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?
Al-Jubba'i menjawab,"Engkau gila, (dalam riwayat lain dikatakan, bahwa Al-Jubba'i hanya terdiam dan tidak menjawab).
Dalam percakapan di atas, al-Jubba'i, jagoan Muktazilah itu, tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh al-Asy'ari. Tetapi dialog ini, bagi penulis kelihatannya hanyalah sebuah cerita ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy'ari sendiri untuk memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang Muktazilah.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Nukman Abbas. Al-Asy`ari,Misteri Perbuatan Manusia dan Takdir Tuhan, (Jakarta: Penerbit Erlangga. 2006). Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail Al-Asy’ari, Al-Ibanah `an Ushul ad-Diyanah, (Beirut. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Tth).
Dialog Asy’ariy dengan Gurunya 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Tuhan tidak menghendaki sesuatu, kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa 'l-Ashlah. Sebab klasik perpisahan Asy’ariy dengan gurunya, konon karena terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran pokok Muktazilah...


Advertisement
Post a Comment