.

Bentuk dan Jenis Asbabunnuzul

 

Riwayat-riwayat asbab al-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu riwayat-riwayat pasti dan tegas dari riwayat-riwayat yang tidak pasti (mumkin).
Mengenai jenis-jenis asbab al-nuzul dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk sebagai berikut:
Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa umum
Bentuk sebab turunnya ayat sebagai tanggapan terhadap suatu peristiwa, misalnya riwayat Ibn Abbas bahwa Rasulullah pernah ke al-Bathha, dan ketika turun dari gunung beliau berseru: “Wahai para sahabat, berkumpullah!” ketika melihat orang-orang Quraisy yang juga ikut mengelilinginya, maka beliau pun bersabda: “apakah engkau akan percaya, apabila aku katakana bahwa musuh tengah mengancam dari balik punggung gunung, dan mereka bersiap-siap menyerang, entah di pagi hari ataupun di petang hari?” mereka menjawab: Ya, kami percaya, wahai rasulullah! Kemudian nabi melanjutkan, “dan aku akan jelaskan kepadamu tentang beberapa hukuman,” maka Abu Lahab berkata: “apakah hanya beberapa masalah seperti ini engkau kumpulkan kami, wahai Muahammad?” Maka Allah kemudian menurunkan QS. al-Lahab (111): 1-5, yaitu:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasah. Tidaklah berpaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu baker. Yang dilehernya ada tali dari sabut.”
Sebagai tanggapan atas suatu peristiwa Khusus
Sebagai sebab turunnya ayat sebagai tanggapan atas suatu peristiwa khusus adalah turunnya QS. al-Baqarah (2): sebagaimana telah diuraikan terdahulu.
Sebagai jawaban terhadap pertanyaan kepada Nabi
Asbab al-nuzul lainnya ada dalam bentuk pertanyaan kepada Rasulullah, seperti turunnya QS. al-Nisa’ (4): 11, yaitu:
“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan dan jika itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.”
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban secara tuntas terhadap pertanyaan Jabir kepada Nabi, sebagaimana diriwayatkan Jabir:”Rasulullah dating bersama Abu Bakar, berjalan kaki mengunjungiku (karena sakit) di perkampungan Banu Salamah. Rasulullah saw menemukanku dalam keadaan tidak sadar, sehingga beliau meminta agar disediakan, kemudian berwudhu, dan memercikkan sebagian pada tubuhku. Lalu aku sadar, dan berkata : “Ya Rasulullah ! apakah yang Allah perintahkan bagiku berkenaan dengan harta benda milikku ?” Maka turunlah ayat diatas.
Sebagai jawaban dari pertanyaan Nabi
Salah satu bentuk lain adalah Rasulullah saw. Mengajukan pertanyaan, seperti QS. Maryam (19) : 64, yaitu :
“Dan tidaklah kami (jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada dihadapan kita, apa-apa yang ada dibelakang kita dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa”.
Ayat tersebut turun untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan nabi, sebagaimana diriwayatkan Ibn Abbas bahwa Rasululah bertanya kepada Malaikat Jibril, “Apa yang menghalangi kehadiranmu, sehingga lebih jarang muncul ketimbang masa-masa sebelumnya ?” Maka turunlah ayat diatas.
Sebagai tanggapan atas pertanyaan yang bersifat umum
Dalam bentuk lain, ayat-ayat al-Quran diturunkan dalam rangka memberi petunjuk perihal pernyataan bersifat umum, yang muncul dikalangan sahabat Nabi, seperti turunnya QS. al-Baqarah (2):222, yaitu :
“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah : “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita diwaktu haidh: dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.
Ayat ini turun perihal pertanyaan yang bersifat umum dari kalangan sahabat Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Tsabit dari Anas bahwa dikalangan Yahudi, apabila wanita mereka sedang haid, mereka tidak akan bersama wanita tersebut, atau juga tidak tinggal serumah.Para sahabat yang mengetahui masalah itu kemudian bertanya kepada Rasulullah saw. Tentang hal ini, maka turunlah ayat diatas.
Sebagai tanggapan terhadap orang-orang tertentu
Kadangkala ayat-ayat al-Quran turun untuk menanggapi keadaan tertentu atau orang-orang tertentu, seperti turunnya QS. al-Baqarah (2):196, yaitu:
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah Karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai ditempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan dikepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah,yaitu : berpuasa atau bersedekah atau berkorban”.
Ka’b ibn Ujrah meriwayatkan bahwa ayat diatas turun berkenaan dengan pelaksanaan haji dan umrah. Jika ada seseorang yang merasa sakit aau ada gangguan dikepala, maka diberikan kemudahan baginnya. Ka’b ibn Ujrah sendiri merasakan ada masalah dengan kutu-kutu yang banyak kepalanya, lalu ia sampaikan kepada nabi, dan nabi mejawab : Cukurlah rambutmu dan gantikanlah dengan berpuasa tiga hari, atau menyembelih hewan kurban, atau memberi makan untuk enam orang miskin, untuk masing-masing orang miskin satu sha.
Beberapa sebab tapi satu wahyu
Terkadang wahyu turun untuk menanggapi beberapa peristiwa atau sebab, misalnya turunnya QS. At-Taubah (9): 113, yaitu :
“Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi meraka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.”
Ayat di atas turun untuk menanggapi peristiwa peristiwa wafatnya paman Rasulullah saw. Abu Thalib, hingga Allah akan melarang hal tersebut. Dalam kisah yang lain di ceritakan bahwa pada suatu saat para sahabat khususnya Umar ibn al-Khattab menemukan Rasulullah meneteskan air mata ketika berziarah kubur. Rasul menerangkan bahwa beliau sedang mengziarahi makam ibundanya, dan memohon kepada Allah agar diperkenankan menziarahinya, dan memohon ampunan bagi ibunya. Sebab itulah sehingga ayat tersebut diturunkan.
Beberapa wahyu tetapi satu sebab
Ada lagi beberapa ayat yang diturunkan untuk menanggapi satu peristiwa, misalnya ayat-ayat diturunkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Ummu Salamah, yakni mengapa hanya lelaki saja yang disebut dalam al-Quran, yang diberi ganjaran. Menurut Al-hakim dan Tarmidzi, pertanyaan itu menyebabkan turunnya tiga ayat.Yaitu QS. al-Imran (3):195, QS. al-Nisa (4):32, QS. al-Ahzab (33):35.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an al-Karim: Tafsir atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu. ( Cet. 3; Bandung: Pustaka Hidayah, 1999).
Bentuk dan Jenis Asbabunnuzul 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Bentuk sebab turunnya ayat sebagai tanggapan terhadap suatu peristiwa, misalnya riwayat Ibn Abbas bahwa Rasulullah pernah ke al-Bathha, dan ketika turun dari gunung beliau berseru: “Wahai para sahabat, berkumpullah!” ketika melihat orang-orang Quraisy Riwayat-riwayat asbab al-nuzul dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu riwayat-riwayat pasti dan tegas dari riwayat-riwayat yang tidak...


Advertisement
Post a Comment