.

Sejarah Jalannya Perang Salib

 

Perang Salib merupakan rangkaian beberapa peperangan yang terjadi dalam interval waktu 1095-1229 M (baca lebih lengkap di sini). Dalam masa tersebut terjadi beberpa kali serangan dari kedua belah pihak, sehingga kalangan sejarawan tidak sepakat dalam menentukan periodesasi babakan Perang Salib. Bahkan permulaan terjadinya Perang Salib tidak disepakati, ada yang mengatakan tahun 1095, yaitu sejak pidato Paus Urban II di Clermont-Perancis, malah sebahagian sejarawan mengatakan lebih awal lagi dengan memasukkan persiapan pasukan Salib sebagai bagian dari Perang Salib.
Setelah memperhatikan karakteristik perbedaan yang dikemukakan oleh sejarahwan tersebut, ternyata umumnya mereka sepakat pada periode Salib I dan II, namun dalam periode selanjutnya berbeda-beda. Ada yang membatasi periodisasi, sementara yang lain memperluas dengan memasukkan beberapa pertempuran yang dianggap sebagai bagian tidak terpisahkan dari Perang Salib. Berikut ini akan dikemukakan dua priode Perang Salib yang disepakati para sejarawan.
Perang Salib I
Perang Salib I berawal dari provokasi Alexius Comnenos (Kaisar Byzantium 1081-1118) terhadap Paus, karena ketidak mampuannya menahan dan menghadapi serangan Bani Saljuk. Selanjutnya pada bulan Maret 1095, di Biyakinza-Italia diadakan ‘kongres’ yang dihadiri Paus, disusul kongres di Clermont pada tanggal 27 November tahun yang sama. Dari hasil kongres Paus menghimbau kepada umat Kristen agar bersatu menyelamatkan Yerusalem yang dikuasai umat Islam.
Seruan Deus le Vont juga terus diprovokasikan oleh Peter the Hermet melalui khotbah-khotbahnya yang disampaikan dalam lawatannya ke Tuskania, Lombordia, Provencia, Aquintania, Burgomondia, Alamannia, Bavaria, Thuringia dan seterusnya, sebagai pembakar pasukan perang Salib. Berakibat semangat umat kristen yang awam bagaikan kayu kering yang dibakar-bergejolak.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berkumpullah pasukan Salib, yang berada di bawah kendali Walter the Phenniles, diikuti pasukan Gottschalk, untuk bergabung dengan pasukan reguler yang berjumlah antara 200-300 ribu personel yang berkumpul di dekat Konstantinopel. Pasukan sebanyak tersebut bukannya di bawah satu komando, akan tetapi pimpinan pasukan terbagi berdasarkan bangsawan yang mengerahkannya. Di antara pemimpin-pemimpin angkatan Perang Salib pertama Godfrey de Buillon, dan dua saudaranya, Baldwin dan Eustace, Robert I–Duke Normandia, Robert–Pangeran Flanders, Stephen–Pangeran Charters, Raymond IV–Pangeran Tolouse, Bohemond–Pangeran Terentum, dan Tancred–keponakan Duke Bohemond. Pada tahun 1097, tentara Salib menyeberang selat Bosporus dan mengepung Necaea yang dikuasai oleh Bani Saljuk. Kota tersebut jatuh ke tangan tentara Salib pada tanggal 18 Juni 1097, selanjutnya tahun 1098 mereka menguasai Edessa dan mendirikan kerajaan Latin I di bawah pimpinan Baldwin. Penyerbuan diteruskan ke Antiochea, dan setelah mengepung kota tersebut selama sembilan bulan sejak Oktober 1097, akhirnya jatuh ke tangan pasukan Salib dan mereka mendirikan kerajaan Latin II di bawah pimpinan Bohemond. Dari Antiochea penyerbuan diteruskan ke Hisn al-Akkad dan Tarsus, namun mereka gagal bahkan Raymon tewas dalam pengepungan tersebut. Serangan berikutnya diarahklan ke Bait al-Maqdis. Setelah mengepung Jerusalem selama 38 hari, tanggal 15 Juli 1099 kota tersebut jatuh ke tangan tentara Salib. Berdasarkan mandat dari Paus di Roma maka tentara Salib mendirikan Kerajaan Yerusalem (Latin III) yang diperintah oleh Godfrey. Setalah penaklukan Bait al-Maqdis, ekspansi tentara Salib dilanjutkan, sehingga mereka dapat merebut dan menguasai kota Akka (1044), Tyrus (1124), Tripoli (1109) dan Tyre (1124). Di Tripoli tentara Salib mendirikan kerajaan Latin IV yang diperintah oleh Raymond.
Dengan dikuasainya beberapa wilayah tersebut, Perang Salib Pertama berakhir dengan kemenangan tentara Salib dan berhasil merealisasikan tujuan utamanya yakni merebut dan menguasai Bait al-Maqdis dari tangan umat Islam.
Imaduddun Zanki (1127-1162), penguasa Mosul yang wilayahnya meliputi Halab, Harran dan Baghdad bagian Utara, merupakan penguasa muslim pertama yang bereaksi keras terhadap tentara Salib. Sasaran pertama Zanki ialah al-Ruha, karena kota tersebut dekat dengan Baghdad dan menguasai jalan utama antara Mesopotamia dan Mediterrania. Kota ini jatuh pada tahun 1144. Penguasa Edessa, Joscelyn II (1131-1144) berhasil ditangkap setelah melalaui beberapa pertempuran. Pada tahun yang sama, kota Aleppo, Hamimah dan Edessa dapat direbut kembali. Perjuangan Imaduddin dilanjutkan puteranya Nuruddin Zanki dan berhasil merebut kembali Antiochea (1149) dan seluruh Edessa (1151).
Keberhasilan Imaduddin Zanki dan puteranya dalam perang Salib ini, merebut kembali beberapa wilayah tidak terlepas dari sikap tentara Salib seperti yang digambarkan J.J. Saunders, bahwa para tentara Salib lebih merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia Islam. Kemenangan pasukan Islam merebut wilayah-wilayah tersebut menggugah pihak Kristen Eropa untuk mengerahkan angkatan Salib II.
Perang Salib II
Pada Konsili Vezelay (1146) Paus Eugenius II (1145-1153) memerintahkan Louis VII dan Condrad III sebagai bagian dari pasukan Salib angkatan II. Kedua pasukan itu berangkat untuk menyerang Damascus (Syiria), namun di tengah jalan diperdayai oleh Kaisar Byzantium. Sisa-sisa pasukan Condrad III menyerang Damascus, walaupun akhirnya gagal dan sisa-sisa pasukan Laouis VII diahncurkan pasukan Nuruddin. Tahun 1154 pasukan Nuruddin mengambil alih Damascus sebagai upaya melapangkan jalan menuju Yerusalem. Kemudian mengirim pasukan ke Mesir urntuk yang dipimpin oleh Syirkuh dan Shalâh al-Dîn al-Ayyûbi. Shalah al-Dîn mengambil alih pemerintahan Bani Fathimiyah di Mesir dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah (1174). Pada tahun 1187, ia berhasil berebut Yerusalem yang mengakhiri kekuasaan kerajaan Latin III.
Akibat jatuhnya kembali Yerusalem ke tangan Shalâh al-Dîn al-Ayyûbi, Paus segera menghimpun dan mengkonsolidasi kekuatan dan mengobarkan kembali Perang Salib.
Perang Salib berikutnya dipimpin oleh Frederick Barbarossa, dari Jerman, Richard the Lion Heart dari Inggirs dan Philip Augustus dari Perancis. Pasukan ini berhasil merebut Acra, namun tidak berhasil merebut Yerusalem. Karena ketidakmampuan menghadapi kekuatan pasukan Shalah al-Dîn serta khawatir akan keselamatan daerah-daerah kekuasaannya dan kejenuhan mengikuti prang yang berkepanjangan, Richard menawarkan perjanjian. Pada tanggal 2 Juli 1192 disepakati Shulh al-Ramlah. Richard kembali ke Inggris dan beberapa bulan sesudahnya, Shalah al-dîn al-Ayyûbi wafat. Pada tahun-tahun setelah wafatnya Shalah al-Dîn al-Ayyûbi, masih terjadi beberapa gelombang Perang Salib.
Pada tahun 1212, pihak Kristen Eropa mengerahkan Children’s Crusade. Ide ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa angkatan-angkatan Salib sebelumnya selalu gagal, karena setiap pilgrim yang ikut dalam Perang Salib penuh dosa, sehingga hanya orang yang betul-betul bersih dan murni yang akan membawa keberhasilan misi Perang Salib. Pasukan Salib anak-anak (remaja) terdiri dari 30.000 anak dari Perancis dipimpin Stphanus, seorang janda muda, dan 20.000 anak dari Jerman yang dipimpin oleh Nicholas. Akan tetapi, perjalanan missi ini sangat tragis. John J.Saunder, menyebut pengiriman angkatan Salib anak-anak ini sebagai A pathetib episode. Pengiriman angkatan Salib anak-anak ini dalam perjalanan dari pelabuhan Marseille ke Palestina, kapal-kapal yang memuat anak-anak tersebut singgah di berbagai pelabuhan untuk menjual anak-anak tersebut untuk dijadikan budak. Dengan demikian, angkatan Salib ini gagal sebelum tiba di medan perang.
Pasukan salib dipimpin oleh Frederick II, berusaha merebut Mesir sebelum Yerusalem dengan harapan mendapatkan bantuan dari Kristen Qibti. Tahun 1219, mereka berhasil merebut Dimyat. Al-Malik al-Kamil dari dinasti Ayyubiyah membuat perjanjian dengan Frederick yang isinya antara lain Ferederick melepaskan Dimyat sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina. Dalam perkembangan selanjutnya, pada masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, Palestina direbut kembali oleh kaum Muslimin (1247).
Sejak berakhirnya kekuasaan Dinasti Ayyubiyah (1250) dan digantikan Dinasti Mamluk (1250-1517) masih terjadi beberapa gelombang Perang Salib. Sultan Baybars (1260-1277) berhasil merebut beberapa wilayah yang dikuasai oleh tentara perang Salib. Sultan Qalawun menjalin hubungan dengan Genoa, Castile, Sicilia dan Byzantium. Hal tersebut membuat tentara Salib yang masih menguasai Tripoli takut untuk menyerang. Qalawun menyerbu Tripoli dan berhasil menguasainya (1289). Al-Khalil, putera Qalawun, menyerbu dan berhasil merebut Acre (1291). Kota Acre merupakan benteng terakhir tentara Salib. Dengan jatuhnya benteng tersebut, dengan sendirinya mengakhiri Perang Salib yang telah berlangsung dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Periodesasi Perang Salib yang disebutkan di atas, terbatas pada dua priode yang disepakati oleh sejarawan. Untuk priode selanjutnya, mereka tidak sepakat. Misalnyua, ada yang mengatakan hanya tiga periode, ada yang membagi sampai empat periode, ada yang membagi tujuh periode, delapan periode, bahkan ada yang lebih dari itu dengan memasukkan Children Crusades sebagai satu periode tersendiri.
Menurut Admin, terjadinya perbedaan pendapat mengenai priodesasi tersebut tidaklah menjadi masalah. Yang jelas bahwa perseteruan antara umat Islam dan Kristen dalam bentuk perang, terjadi dalam beberapa gelombang. Gelombang-gelombang tersebut tidak dapat dipastikan, apakah sudah termasuk angkatan Perang Salib atau tidak.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Muhammad Farid Wajdiy, Dairah al-Ma’arif al-Qarn al-Isyrun, jilid V, Beirut; Dar al-Fikr, t.th. Harun Nasution, et. al. (Editor), Ensiklopedi Islam, Jakarta: Dijen Binbaga Islam, 1992/1993. Lawrence T.Lorimer, Jeffrey H. Hocker dan Ronald B. Roth, Grolier Encyclopedia of Knowledge, Grolier Incorporated, 1993. Harold Swenson Fink, “Crusades” dalam Warren E. Preece, Encyclopaedia Britannica, Vol. VI, Chicago: William Benton Publishers, t.th. W.Montgomery Watt, The Influence of Islam on Medieval Europe, diterjemahkan oleh Hendro Prasetyo dengan judul “Islam dan Peradaban Dunia: Pengaruh Islam atas Eropa Abad Pertengahan”, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997. Philip K. Hitti, History of the Arab, Tenth Edition, 4th Publishers; New York: MacMillan Press LTD, 1974. Mahmud Syalabi, Shalah al-Dîn al-Ayyûbi, diterjemahkan oleh Abdullah Mahdami dengan judul “Shalahuddin al-Ayyubi Pahlawan Perang Salib”, Solo: Pustaka Mantiq, t.th.
Sejarah Jalannya Perang Salib 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Sejak berakhirnya kekuasaan Dinasti Ayyubiyah (1250) dan digantikan Dinasti Mamluk (1250-1517) masih terjadi beberapa gelombang Perang Salib. Sultan Baybars (1260-1277) berhasil merebut beberapa wilayah yang dikuasai oleh tentara perang Salib. Sultan Qalawun menjalin hubungan dengan Genoa, Perang Salib merupakan rangkaian beberapa peperangan yang terjadi dalam interval waktu 1095-1229 M (baca lebih lengkap di sini ). Dalam mas...


Advertisement

No comments:

Post a Comment