.

Pandangan Barat tentang Manusia Sebagai Makhluk Paedagogik

 

Dalam pandangan Barat tidak ditemukan secara rinci dan teliti mengenai hakikat penciptaan manusia (sehingga hal ini menjadi pembeda paradigma paedagogis manusia). Masih banyak penganut teori Darwin yang menganggap bahwa manusia itu tercipta melalui proses evolusi yang panjang (dari monyet). Para penganut teori Darwin ini, menempatkan manusia sejajar dengan binatang dan menerangkan terjadinya manusia atau hakikat penciptaan manusia dari sebab-sebab mekanis.
Masih terkait dengan pandangan Barat tentang hakekat manusia, oleh Azhar Arsyad, menyatakan bahwa ada sekian pakar (ahli pendidikan Barat) berbicara tentang manusia yang hanya menggambarkan satu atau dua aspek tentang manusia. Sebagai misal, mereka menggambarkan bahwa “manusia adalah binatang cerdas yang menyusui”.
Paham tentang manusia sebagai makhluk biologis, sampai-sampai menimbulkan suatu studi yang disebut biopaedagogik atau educational biologi yang dilakukan oleh ahli-ahli paedagogik dan psikologi. Demikian besarnya paham biologisme ini, sehingga mereka berpendapat bahwa ada kejahatan dan problem anak nakal adalah karena heriditas (keturunan biologis). Demikian juga seorang ahli psikologi dari Barat yang bernama Lombrosso menentukan ciri-ciri dan karakteristik, bagi penjahat-penjahat tertentu.
Salah satu teori dalam ilmu psikologi pendidikan adalah tentang “phisiognomi”. Tokoh utama yang menganut ajaran phisiognomi adalah Lombrosso. Dengan berpegang pada teori phisiognomi tersebut, maka Lombrosso percaya bahwa sifat-sifat orang sudah terberi sejak lahir dan tidak akan berubah-ubah lagi dalam hidupnya. Demikian pula halnya dengan para penjahat, mereka sudah mendapat bakat-bakat jahatnya sejak lahir dan bakat-bakat ini dicerminkan pada wajah seseorang.
Rumus yang digunakan untuk mengetahui kepribadian seseorang dengan memperhatikan raut-muka, adalah mengukur bentuk tengkorak kepala (cephanic index). Dalam hal ini, indeks tengkorak kepala diperoleh dengan cara menghitung perbandingan (ratio) antara panjang dan lebar tengkorak, atau juga menambahkan jarak antara atap tengkorak sampai bagian dasar dari tengkorak. Dengan cara ini diperoleh tiga tipe tengkorak, yaitu ;
  1. Dolicocephalic (kepala panjang) 
  2. Brachycephalic (kepala bulat) 
  3. Mesocephalic (kepala yang berbentuk antara panjang dan bulat)
Tiap tipe bentuk kepala atau tengkorak itu menunjukkan adanya sifat-sifat tertentu atau ciri-ciri kepribadian tertentu yang merupakan pembawa rasil dan tidak dapat diubah-ubah lagi. Paham ini, erat sekali hubungannya dengan paham rasialisasi, yaitu bahwa tiap-tiap ras sudah punya sifat-sifat dan ciri kepribadian sendiri yang tidak berubah-ubah lagi.
Sebenarnya, paham nativisme ini, juga berasal dari pandangan Lombrosso, dan ahli pikir Barat bernama Schopenheuer. Namun pandangan Lombrosso dan Schopenheuer mengenai manusia sebagai makhluk paedagogiek, tidak sama dengan pandangan Islam. Pandangan Barat yang diwakili oleh Lombrosso dan Schopenheuer, menyatakan bahwa proses kependidikan sebagai upaya untuk mempengaruhi jiwa anak didik tidak berdaya merubahnya.
Perlu ditegaskan di sini, bahwa tidak semua ahli pendidikan Barat sependapat dengan Lombrosso dan Schopenheuer, mengenai konsep manusia sebagai makhluk paedagogiek. John Locke (1632-1704) misalnya, menerangkan hakekat manusia dengan menekankan pembahasan tentang akal sebagai gudang dan pengembang pengetahuan. Menurut John Locke, akan mempunyai kekuatan-kekuatan serta materiil untuk melatih kekuatan-kekuatan itu.
Dalam psikologi pendidikan, pandangan John Locke tersebut di-kategorikan sebagai paham behaviorisme, yang bersumber dari sarjana psikologi dan pendidikan Amerika Serikat. Hal senada juga dikemukakan oleh Skinner bahwa lingkungan sekitar menentukan perkembangan hidup seseorang, namun ia sendiri juga dapat merubah lingkungan itu.
Masih terkait dengan pandangan Barat tentang manusia, oleh Rousseau dengan falsafah naturlismenya, mendasari pendidikan pada prinsip progresif, yaitu pandangannya bahwa hakikat manusia itu alamiah. Manusia menurutnya, adalah dilahirkan dari kandungan alam yang memiliki sifat baik. Karena itu, tokoh Barat ini menekankan bahwa dalam pendidikan, anak harus dijauhkan dari lingkungan yang tidak menguntungkan. Dalam pendidikan tidak boleh ada pengertian “kekuasaan”, perintah yang harus ditaati. Kembalikanlah anak kepada dirinya sendiri. Pendidikan mengutamakan minat dan kebutuhan anak. Karena itu, program sekolah akan diprogram/diorganisasi sekitar dan sesuai dengan minat serta kebutuhan anak.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Sidi Gazalba, Ilmu Filsafat dan Islam tentang Manusia (Jakarta: Bulan Bintang, 1985). H. Endang Saifuddin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama (Cet. VII; Surabaya: Bina Ilmu, 1987). Azhar Arsyad, Superioritas Konsep Pendidikan Islam “Makalah Seminar” (Makassar: IAIN Alauddin, 2002). William Benton, Encyclopedia Britannica, vol. 14 (Chicago; Lighting to Maximilian, t.th). Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1978). Sarlito Wirawan Sarwono, Pengantar Umum Psikologi (Cet. II; Jakarta: Bulan Bintang, 1982). Rousseau yang diuraikan oleh Burhanuddin Salam, Pengantar Pedagogik (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997).
Pandangan Barat tentang Manusia Sebagai Makhluk Paedagogik 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Azhar Arsyad, menyatakan bahwa ada sekian pakar (ahli pendidikan Barat) berbicara tentang manusia yang hanya menggambarkan satu atau dua aspek tentang manusia. Dalam pandangan Barat tidak ditemukan secara rinci dan teliti mengenai hakikat penciptaan manusia (sehingga hal ini menjadi pembeda paradig...


Advertisement

No comments:

Post a Comment