Skip to main content

Klasifikasi al-Nahtu dalam Bahasa Arab

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: July 06, 2012

Imil Badi’ Ya’qub setelah mengemukakan pandangan ulama bahasa tentang pola dan cara pembentukan Al-Naht, hendak merangkum, dan membagi Al-Naht ke dalam empat kelompok. Sedangn Ali Abdu al-Wahid WafI, misalnya hanya membagi Al-Naht ini ke dalam tiga kelompok yaitu Al-Naht al-Jumlah, Al-Naht Murakkab Idhafi dan Al-Naht dari dua kata yang berdiri sendiri atau dari beberapa kata yang berdiri sendiri kemudian disingkat (manhut) untuk menunjukan makna murakkab. Dalam makalah ini dikemukakan empat jenis Al-Naht, agar menjadi perbandingan. Keempat klasifikasi itu adalah:
1. Al-Naht al-Nisbiy, yaitu menisbahkan sesuatu atau sesorang atau suatu perbuatan kepada dua isim, seperti:
 Bentuk Al-Naht                              Bentuk Asli                                       
عبشمى عبد الشمس
عبدري عبد الدار
مرقسى امرااقيس
ملى تيم الله
بلحارث بنى الحارث
بلعنبر بنى العنبر
بلههجيم بنع الهجيم
ترخزى طبرستان وخوارزم

Jenis ini jumlahnya terbatas dan hampir tidak ditemukan kecuali seperti contoh-contoh di atas. Contoh kalimat yang menggunakan Al-Naht ini seperti ungkapanتعبشم الرجل وتعبقس Ungkapan tersebut mengandung arti bahwa laki-laki itu mengaku keturunan Bani Abd al-Syams dan Bani Abd al-Qays atau berafiliasi kepada dua suku itu.
Memperhatikan pola singkatan atau lebih tepat akronim ini, kelihatannya ia melebur dua kata benda atau menggabung dua kata benda dengan membuang sebagian dari setiap kata benda yang digabung tersebut. Penggabungan dua kata benda ini kemudian berubah menjadi kata kerja yang membutuhkan subyek.
2. Al-Naht al-Fi’liy, yaitu menggabung jumlah (susunan kalimat) yang menunjukkan bahwa seseorang mengucapkan jumlah (susunan kalimat) itu. Contoh bentuk ini adalah sebagai berikut:
Kalimat yang diringkas                     Bentuk Al-Naht                            
بسم لله بسمل
الحمد لله حمدل
لا حول ولا قوة الا بالله حوقل (حولق)
حسبا الله حسبل
السلام عليكم سمعل
حى على الصلاة حى على الفلاح حيعل
ادام الله عزك دمعز
لااله الا الله هيلل
اطال الله بقاءك طلبق
بابى انت بابا
جعلت فداءك جعفد

Bagian ini seperti ditulis oleh Ali Abdu al-Wahid Wafi, tidak ditemukan kecuali beberapa kata yang jumlahnya terbatas pula dan kebanyakan muncul dalam sejarah umat Islam. Contoh sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an antara lain kata: بعثر bentuk ini merupakan gabungan dari kata بعث dan عثر terdapat dalam surat Al-‘Adiyat ayat 9. Arti kata بعثر dalam ayat ini adalah بعث و اثير و اخرج(dibangkitkan, dibongkar/hambur dan dikeluarkan) Sedangkan Ibnu Katsir hanya menafsirkan kata بعثر dengan اخرج (dikeluarkan)
3. Al-Naht al-Ismiy, yaitu menggabung dua kata menjadi sebuah ungkapan dalam bentuk kata benda (isim), seperti:
Kata yang digabung                         Bentuk Al-Naht                              
عقبي و علة عقبابيل
حب و وقر حبقر
جلد و جمد جلمود

4. Al-Naht al-Washfiy, yaitu dengan menyingkat dua kata menjadi satu ungkapan yang menunjukan makna kata yang disingkat atau mempunyai makna lebih tegas dari kata yang disingkat, seperti ungkapan ضطبر (orang yang kuat) adalah gabungan dari kata ضبط و ضبر .
Ibnu Faris sebagai orang yang pertama memperluas bahasan Al-Naht, patut menjadi catatan karena ia terlalu larut dalam pikirannya sehingga beranggapan bahwa semua kata yang lebih dari tiga huruf pada dasarnya adalah singkatan dari dua kata yang mempunyai akar kata tiga huruf. Ibnu Faris dengan tegas menulis, “Ketahuilah bahwa dalam masalah rubaiy dan khumasiy terdapat sebuah pandangan dalam kaitannya dengan qiyas. Hal ini dapat diketahui dengan memperhatikan secara cermat……… Maksudnya bahwa Al-Naht adalah anda mengambil dua kata dan menyingkat keduanya menjadi satu kata.
Patut diamati pula dan sangat menarik direnungkan adalah kritik Imil Badi’ Ya’qub. Ia menulis, sesudah mengemukakan empat pembagian Al-Naht seperti ditulis sebelumnya bahwa dari contoh-contoh kategori dua pertama termasuk jenis Al-Naht, sedangkan kategori dua terakhir terdapat banyak takalluf (dipaksakan), dan sangat disayangkan, karena ternyata ia hanya merupakan temuan Ibnu Faris yang jauh dari fakta dan kenyataan. Bahkan Ali Abdu al-Wahid Wafi secara tegas menyatakan:
Bahasa Arab tidak dapat disingkat, dan bahwa kosakata Bahasa Arab dalam perkembangannya saat ini, sangat konsisten dengan kemandirian dan kemerdekaannya serta enggan larut dalam bahasa lain.
Peneliti lain menyebutkan:
Bahasa Arab bukanlah bahasa yang dengan luwes menerima Al-Naht seperti yang terjadi pada bahasa lain, sebagaimana tertulis dalam buku-buku mereka. Al-Naht dalam Bahasa Arab hanya puluhan jumlahnya sedangkan dalam bahasa lain jumlahnya ratusan bahkan ribuan.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Fakhruddin bin Dhiyauddin Umar yang masyhur dikenal dengan Tafsir Fakhru al-Razih, Mafatihu al-Gaib jilid XXXII (Cet. 1; Dar al-Fikr li al-Thibaah wa al-Nasyr wa al-Tauzi’I, Beirut). Ibnu Katsir, Tafsir al_Qur’an al-‘Adhim juz VIII Al-Maktabah al-Taufiqiyyah; Kairo: t. th). Ibnu Faris, Al-Shahibi fi Fiqh al-Lugah wa Khashaishuha (cet.1 Beirut; al-Maktabah al-Ma’arif: 1993). Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lugah ditahqiq oleh Abdu al-Salam Harun juz I (Dar Ihya al-Arabiyyah; 1366: Kairo).
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar