.

Filsafat Jiwa dan Kejiwaan Ibnu Sina

 

Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan jiwa dan kejiwaan sebagaimana terlihat dalam buku-bukunya yang secara khusus membahas soal-soal kejiwaan. Jiwa manusia seperti jiwa-jiwa yang lain dan segala apa yang terdapat di bawah bulan yakni memancar dari akal kesepuluh.
Falsafatnya tentang jiwa memang tidak sukar untuk mencari unsur-unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran-pikiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran-pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran-pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika, termasuk jiwa dan kejiwaan.
Segi-segi falsafah jiwa dan kejiwaan Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi, yaitu 1) segi fisika yang membicarakan tentang macam-macamnya jiwa (jiwa tumbuhan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan-kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain-lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa dan kejiwaan yang sebenarnya. 2) Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.
Sebagaimana Aristoteles, Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bagian dengan cabang-cabangnya yaitu:
Jiwa tumbuh-tumbuhan (النفس النباتية)
Jiwa tumbuh-tumbuhan dengan daya-dayanya adalah sebagai berikut :
  1. Makan (nutrition)
  2. Tumbuh (growth)
  3. Berkembang biak (reproduction)
Jiwa binatang (النفس الحيوانية)
Jiwa binatang dengan daya-dayanya adalah sebagai berikut:
  1. Gerak ( المحركة = locomotion)
  2. Menangkap ( المدركة = preception) yang terdiri dari atas dua bagian yaitu menangkap dari luar (المدركة من الخارج) dengan panca indera, menangkap dari dalam (المدركة من الداخل) dengan indera-indera dari dalam.
  3. Reprentasi ( قوة الخيال = representation) yang menyimpan segala apa yang diterima oleh panca indera bersama.
  4. Imaginasi ( قوة المتخيلة = imagination) yang menyusun apa yang disimpan dalam representasi.
  5. Estimasi ( قوة الوهمية = estimation) yang dapat menangkap hal-hal abstrak yang terlepas dari materinya misalnya keharusan lari bagi kambing dari serigala.
  6. Rekoleksi ( قوة الحافظة = recolection) yang menyimpan hal-hal yang diterima oleh estimasi.
Jiwa manusia (النفس الناطقة)
Jiwa manusia mempunyai dua daya, yaitu :
  1. Praktis ( العاملة = practical) yang hubungannya dengan badan.
  2. Teoritis ( العالمة atau النظرية = theoritical) yang hubungannya dengan hal-hal abstrak. Daya ini mempunyai tingkatan, yaitu akal material (material intelect) yaitu akal yang semata-mata mempunyai potensi untuk berpikir dan belum dilatih sedikitpun, Intellectus inhabitu yaitu akal yang telah dimulai dilatih untuk berpikir tentang hal-hal yang abstrak. Akal aktuil yaitu akal yang telah dapat berpikir tentang hal-hal yang abstrak, Akal mustafad (acquired intellect) yaitu akal yang telah sanggup berpikir tentang hal-hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya, akal yang terlatih, yang sanggup menerima limpahan ilmu pengetahuan dari akal aktif.
Ketiga macam jiwa dan cabangnya tersebut diatas, berhubungan dengan sifat seseorang sifat seseorang bergantung pada jiwa, apakah jiwa tumbuh-tumbuhan, binatang atau manusia. Apabila jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berkuasa pada dirinya, maka orang itu akan menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh pada dirinya, makan orang tersebut dekat menyerupai malaikat dan dekat pada kesempurnaan.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa, (Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1985). C. A Kadir Philosofy and Science Indonesia the Islamic World, diterjemahkan oleh Hasan Basan dengan judul “ Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, (Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 1991). Ibrahim Madkour. Fi falsafah al-Islamiyah Manhaj wa Tatbiquh, juz I (t.t Daar al-ma’arif tth.).
Filsafat Jiwa dan Kejiwaan Ibnu Sina 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Ketiga macam jiwa dan cabangnya tersebut diatas, berhubungan dengan sifat seseorang sifat seseorang bergantung pada jiwa, apakah jiwa tumbuh-tumbuhan, binatang atau manusia. Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan jiwa dan kejiwaan sebagaimana terlihat dalam buku-bukunya yang secara kh...


Advertisement
Post a Comment