Posts

Showing posts from July, 2012

Ajaran Pokok Washil bin Atha

Ada tiga ajaran pokok yang disampaikan oleh Washil bin Atha, yaitu: al-Manzilah bain al-Manzilatain, peniadaan sifat-sifat Tuhan, dan kebebebasan barbuat. Berikut ini akan diuraikan satu persatu. Al-Manzilah bain al-Manzilatain Persoalan atau pemikiran pertama yang dikemukakan oleh Washil adalah tentang al-Manzilah bain al-Manzilatain (posisi di antara dua posisi). Kedudukan orang yang berdosa besar, bukan termasuk kafir dan bukan pula mukmin, tetapi fasik. Ia menduduki posisi antara mukmin dan kafir. Khawarij mengatakan kafir, sedangkan Murji’ah mengatakan mukmin. Bagi Washil, mukmin adalah orang yang mempunyai sifat baik lagi terpuji. Predikat ini tidak dapat diberikan kepada orang fasik, karena dosa besar yang dilakukannya. Begitu pula predikat kafir tidak bisa juga diberikan kepada orang fasik, karena dibalik dosa besar yang dilakukannya, ia mengucapkan syahadat dan melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Dengan demikian, orang seperti itu bukan kafir, karena ia masih percay…

Biografi Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir di sebuah Desa di Propinsi Gharbiyah pada tahun 1265 H bertepatan dengan tahun 1848/1849 M. Ayahnya bernama Abduh Ibnu Hasan Khairullah dan Ibunya bernama Junainah, mempunyai Silsilah dengan keturunan Umar bin Khattab. Muhammad Abduh lahir dalam lingkungan petani yang hidup sederhana, taat dan cinta ilmu pengetahuan. Orang tuanya berasal dari kota Mahallat Nashr. Situasi politik yang menyebabkan orang tuanya menyingkir ke desa kelahirannya dan kembali ke Mahallat Nashr setelah situasi politik mengizinkan. Masa pendidikan Muhammad Abduh di mulai dengan pelajaran dasar membaca dan menulis yang didapatkannya dari orang tuanya sendiri. Kemu­dian ia belajar al-Quran pada seorang Hafiz. Dalam waktu yang relatif singkat (2 tahun) ia dapat menghafal al-Quran secara keseluruhan. Pendidikan selanjutnya ditempuhnya di Thanta, di sebuah lembaga pendidikan Masjid al-Ahmadi. Namun tempat ini Muhammad Abduh mengikuti pelajaran yang diberikan dengan rasa tidak puas, bahkan mem…

Biografi Muhammad al-Juwaini

Nama lengkapnya adalah Abd Al-Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad Al-Juwaini, Al-Naisaburi. Ia dilahirkan di Juwaini, kawasan Naisabur, pada tahun 419 H/1028 M. Ia belajar atas bimbingan Ayahnya, Al-Syaikh Abdullah, seorang keturunan Arab yang berdarah bangsawan Muhammad Al-Juwaini meninggalkan Naisabur menuju Baghdad di mana ia berhubungan dengan para ulama, dalam usia sekitar32 tahun. Kemudian ia ke Mekkah dan Madinah dimana ia menetap disana selama empat tahun sambil mengajar. Karena itulah ia digelar Imam dari dari dua tanah suci, yaitu Mekkah dan Madinah. Atas permintaan perdana menteri Nizham al-Mulk, penguasa dan pendiri sekolah Nizhamiah di Naisabur, ia pun kembali ke negerinya untuk memberikan pelajaran disekolah tersebut sampai akhir hayatnya (478 H/1085 M) . Muhammad Al-Juwaini ternyata adalah seorang ulama yang produktif, hal itu dapat diketahui dari banyaknya karya tulisnya. Fauqiah Husain Mahmud, pen-tahkik buku al-Juwaini yang berjudul Luma al-Adillah, mencatat …

Biografi Ahmad Syurkati

Ahmad Syurkati lahir di Desa Udfu Jazirah Arqu Sudan pada tahun 1292 H. atau 1875 M. Deliar Noer menyebutkan, bahwa Ahmad Syurkati lahir pada tahun 1872 M. Mengenai tanggal dan bulannuya tidak dijelaskan. Ayahnya bernama Muhammad dan diyakini masih mempunyai hubungan keturunan dari Jabir Bin Abdullah al-Anshary. Oleh karena itu nama ayahnya memakai kata Anshary, karena itu nama lengkap Ahmad Syurkati adalah: Ahmad Muhammad Syurkati al-Anshary. Sejak kecil Akhmad Syurkati sudah memeperlihatkan kelebi­han, kecerdasan dan kejernihan pikirannya, sehingga ayahnya cen­derung memberikan keistimewaan dibanding dengan saudara-saudara lainnya. Dengan kecerdasan dan kejernihan pikirannya menyebabkan ayahnya mengirim ke Ma'had Syarqi, setelah selesai studinya, ayahnya berkehendak untuk mengirimkan ke Al-Azhar di Mesir, tetapi keinginan tersebut tidak dapat terwujud akibat pemerintahan Mahdi pada saat itu tidak memperkenangkan orang Sudan pergi ke Mesir. Pada tahun 1896, karena tekad yang kua…

Pengertian Mahabbah dalam Kajian Sufi

Secara etimologi, mahabbah adalah bentuk masdar dari kata: حب yang mempunyai  arti: a) membiasakan dan tetap, b) menyukai sesuatu karena punya rasa cinta. Dalam bahasa Indonesia kata cinta, berarti: a) suka sekali, sayang sekali, b) kasih sekali, c) ingin sekali, berharap sekali, rindu, makin ditindas makin terasa betapa rindunya, dan d) susah hati (khawatir) tiada terperikan lagi. Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa mahabbah (cinta) merupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan. Sedangkan secara terminologi, terdapat perbedaan defenisi di kalangan ulama. Pendapat kaum Teologi yang dikemukakan oleh Webster bahwa mahabbah berarti; a) keredaan Tuhan yang diberikan kepada manusia, b) keinginan manusia menyatu dengan Tuhan, dan c) perasaan berbakti dan bersahabat seseorang kepada yang lainnya. Pengertian tersebut bersi…

Istilah Filologi di Dunia Arab

Semua bangsa dan bahasa di dunia yang meninggalkan peradaban yang tinggi, mempunyai perhatian yang besar terhadap filologi karena dengan pendekatan tersebut, tergalilah kembali ukiran-ukiran sejarah, budaya dan bahasa suatu bangsa. “Dunia Arab”, tak lepas dari studi tentang ini sehingga dalam bahasa arab, filologi dinamakan ilmu Tahqiq al-Nushsus (علم تحقيق النصوص) yaitu untuk mengetahui hakikat suatu tulisan atau nash. Oleh karena itu, sebagian para ahli filologi yang mengadakan tahqiq pada suatu teks, tidak menyebut dirinya sebagai Muhaqqiq (orang yang mentahkik), mereka cenderung memakai kata صححه yang berarti telah diperiksa atau dikoreksi. Terdapat pula istilah lain seperti قرأه yang berarti telah dibaca, قارنه yang berarti telah diperbandingkan dengan naskah asliny, atau اعتنىبه artinya dipelihara dan dijernihkan olehnya. Sekarang ini istilah yang paling populer dan umum dipakai dalam kalangan para ahli tahkik adalah kata حقه atauفلان تحقيق yang berati diteliti oleh si fulan. …

Pokok-pokok Ajaran al-Asy'ariyah

Pada dasarnya kaum Al-Asy’ariah adalah aliran sinkretis, yang berusaha mengambil sikap tengah antara dua kutub, akal dan naql, antara kaum Salaf dengan al-Muktazilah. Atau Al-Asy’ariah bercorak perpaduan antara pendekatan tekstual dan kontekstual, sehingga al-Ghazali menyebutnya sebagai aliran al-mutawassith (pertengahan). Adapun pokok-pokok ajaran al-Asy’ari, yaitu sifat Tuhan, keadilan Tuhan, akal dan wahyu, konsep iman, melihat Tuhan di hari kiamat, teori Kasb, pelaku dosa besar, dan al-Quran: Sifat Tuhan Dalam ajaran Al-Asy’ari dikenal doktrin wajib al-wujub, yaitusetiap orang Islam wajib beriman kepada Tuhan yang mempunyai sifat-sifat yang qadim, menganut paham shifatiyah seperti halnya kaum Salaf, Keadilan Tuhan Menurut al-Asy’ari, keadilan adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Misalnya, seseorang mempunyai kekuasaan mutlak atas harta benda yang dimilikinya, sehingga ia dapat melakukan apa saja terhadap harta bendanya itu. al-Asy’ari menganalogikan bahwa Tuhan …

Druz atau Hakimiy; Sekte Syiah Ismailiyah

Sekte dari Syiah Ismailiyah selain Qaramitha adalah Druz atau Hakimiy. Druz atau Hakimiy mengakui terus imamah anak-anak dan keturunan Muhammad ibn Isma’il (Imam ketujuh mereka). Mereka berkeyakinan bahwa walaupun Isma’il betul telah meninggal di masa hidup ayahnya, namun dia tetap sebagai imam yang sah, kemudian imamahnya itu berpindah kepada anaknya, Muhammad ibn Isma’il, dan keturunannya. Tokoh yang mendirikan sub sekte ini adalah al-Hasan ibn Muhammad al-Shabbah, yang mulai ajarannya pada tahun 483 H. Kemudian, dia pindah ke Mesir pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah, yang didirikan oleh salah seorang keturunan Muhammad ibn Isma’il, yakni Ubaidillah al-Mahdiy. Dalam perkembangan selanjutnya, golongan inipun terpecah lagi menjadi dua kelompok, sebagai akibat perselisihan mereka dalam masalah imamah. Selama tujuh generasi, imamah Dinasti Fatimiyah di Mesir ini berlangsung dengan mulus tanpa ada pertentangan. Namun, setelah imam ketuju, al-Muntashir Billah, putra-putranya. Nazir …

Qaramitha; Sekte Syiah Ismailiyah

Akibat dari perbedaan pendapat itu di kalangan Syiah mengenai masalah kematian Isma’il, maka sekte Syiah Isma’iliyah ini terpecah lagi ke dalam dua sub sekte, salah satunya adalah Qaramitha. Qaramitha, dinisbahkan kepada Hamdan ibn Qaramitha. Terbentuk menjelang akhir abad ketiga hijriah. Kelompok ini terbetuk karena menghentikan imamah pada diri Muhammad ibn Isma’il. Mereka berpendapat bahwa Isma’il benar-benar telah meninggal dan digantikan oleh putranya, Muhammad ibn Isma’il, yang menghilang dan akan muncul kembali sebagai al-Mahdi yang dijanjikan. Karena mereka hanya mengakui tujuh imam, maka mereka juga dikenal dengan nama Syiah Sa’iyah. Dalam kurun waktu yang cukup panjang, Qaramitha telah merepotkan dunia Islam. Pada peperangan-peperangan melawan tentara daulat Bani Abbas, mereka sering memperoleh kemengangan. Bahkan, ketika memasuki kota Mekah pada musim haji, mereka membunuh banyak jamaah haji dan melemparkan mayatnya ke dalam sumur zam-zam. Selain itu, merekapun menghancurk…

Biografi Abu Hasan al-Asy'ari

Abu Hasan al-Asy’ari adalah orang yang pertama mendirikan aliran al-Asy’ariah. Nama lengkap beliau adalah ’Ali bin Isma’il bin Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari. Ia adalah keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang sahabat Nabi saw. yang menjadi perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Abu Hasan al-Asy’ari lahir di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H (873 M) dan wafat di Baghdad pada tahun 324 H (935 M). Pada waktu kecilnya, ia berguru pada seorang pengikut al-Muktazilah yang terkenal, yaitu al-Jubba’i. Ia mempelajari ajaran-ajaran al-Muktazilah sekaligus mendalaminya terus sampai usia 40 tahun. Setelah ia belajar berbagai ilmu di kota Bashrah, maka Abu Hasan al-Asy’ari pergi ke kota Baghdad, ibu kota khilafah Islamiyah saat itu, dan meneruskan belajar di sana. Ia belajar ilmu Kalam menurut paham al-Muktazilah, maka beliau termasuk pendukung dan orang al-Muktazilah yang tangguh. Walaupun Abu…

Biografi al-Syaukani; Pengarang Kitab Fath al-Qadir

Nama lengkapnya, Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Abdullah al-Syaukani kemudian al-San’ani. Beliau lahir pada tahun 1173 H, di daerah transmigrasi Syaukan. al-Syaukani tumbuh dewasa dibawah binaan orang tuanya di San’a dengan perasaan belas kasih dan kesucian. Menuntut ilmu dari ulama-ulama kesohor. Serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu pengetahuan. al-Syaukani sibuk dengan banyak membaca kitab-kitab sejarah dan kitab-kitab adab. Kesibukannya terus berlangsung antara membaca dan menghafal, antara mendengar dan menerima ilmu secara talaqqi (duduk bersila) hingga beliau menjadi imam yang kesohor. Adapun guru-guru al-Syaukani, yaitu: Abd al-Rahman ibn Qasim al-Madaini, Ahmad ibn Amir al-Hadai, Ahmad ibn Muhammad al-Harazy, Ismail ibn al-Hasan ibn Ahmad ibn al-Hasan ibn al-Imam al-Qasim ibn Muhammad, Abdullah ibn Ismail al-Nahamy, al-Qasim ibn Yahya al-Khaulani dan Abdullah ibn Ismail al-Nahamy, dan lain-lain. Murid-muridnya, yaitu: anaknya Ali ibn Muhammad al-Syaukani, Husain i…

Biografi Washil bin Atha

Nama Washil bin Atha sering juga disebut Abu Huzhaifah dan lebih terkenal dengan gelar al-Gazzal. Ia dilahirkan pada tahun 80 H di Madinah dan meninggal dunia pada tahun 131 H di Bashrah. Sejak kecil, Washil bin Atha sudah memperlihatkan kesungguhannya dalam mengkaji al-Qran, Hadis Nabi, dan ilmu-ilmu lain. Pada mulanya ia belajar pada Abu Hasyim ‘Abdullah ibn Muhammad al-Hanafiyyah. Selanjutnya, ia banyak menimba ilmu pengetahuan di Mekah dan mengenal ajaran Syi’ah di Madinah. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Bashrah dan berguru pada Hasan al-Bashriy. Washil bin Atha termasuk murid yang cerdas dan berani di antara sekian banyak murid Hasan al-Bashriy. Ia tidak segan-segan berbeda pendapat dengan siapa pun juga, sekalipun membawa dampak harus berpisah dengan orang yang dicintainya, yaitu gurunya, Hasan al-Bashriy, lantaran perbedaan pandangan dengannya mengenai pelaku dosa besar. Setelah itu, Washil bin Atha membentuk majlis tersendiri dan mendapat pengikut yang pesat dalam wa…

Biografi Hasyim Asy'ari; Pendiri Pesantren Tebuireng

Hasyim Asy’ari dilahirkan dalam lingkungan kiyai di dekat kota Jombang Jawa Timur tanggal 14 Januari 1871 M. bertepatan dengan tahun 1287 H. Tidak didapatkan tanggal hijrahnya dan wafat di desa Tebuireng tanggal 25 Juli 1947 M. bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1366 H., mendekati umur 79 tahun. Hasyim Asy’ari adalah keluarga kiyai. Kakek buyutnya adalah Kiyai Shihab pendiri dan pengasuh pesantren Tambak beras. Kakeknya, Kiyai Usman yang menjadi pendiri dan pengasuh pesantren Gedang, tokoh tarekat yang memiliki banyak murid. Sedangkan ayahnya Hasyim Asy’ari yang berasal dari Demak adalah pendiri dan pengasuh pesantren Keras Jombang. Bahkan Asad Syihab mengatakan nasab Hasyim Asy’ari dari garis ayahnya sampai kepada keluarga Alu Syaiban dari keturunan para da’i Arab Muslim yang datang ke Indonesia pada abad ke 4 H., untuk menyebarkan Islam ke Asia Selatan dan mendirikan bangunan pusat agama Islam dan kesultanan-kesultanan Islam yang dikenal dengan kesultanan Alu’Adhamah Khan. Mereka…

Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan Ibnu Sina

Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur, maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita. Dalil aku dan kesatuan gejala kejiwaan Ibnu Sina, yaitu dalil kelangsungan (kontinuitas). Dalil ini mengatakan bahwa masa kita yang sekarang berisi juga masa lampau dan masa depan. Kehidupan rohani kita pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan kita yang kemarin, dan hubungan ini tidak terputus oleh tidur kita, bahkan juga ada hubungannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Kalau kita ini bergerak dalam mengalami perubahan, maka gerakan-gerakan dan perubahan tersebut bertalian satu sama lain dan berangkai-rangkai pula. Pertalian dan perangkaian ini bisa terjadi karena peristiwa-peristiwa jiwa merupakan limpahan dari sumber yan…

Objek Kajian Filologi

Setiap ilmu mempunyai obyek penelitian maka obyek filologi adalah obyek naskah dan teks. Oleh karena itu perlu dibicarakan hal-hal mengenai seluk beluk naskah, teks dan tempat penyimpangan naskah yaitu akan diuraikan sebagai berikut: Naskah dan Teks sebagaimana telah disebutkan pada tulisan sebelumnya, bahwa filologi berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu bangsa melalui kajian bahasa pada peninggalan dalam bentuk tulisan. Berita tentang hasil budaya yang diungkapkan oleh teks klasik dapat dibaca dalam peninggalan-peninggalan yang berupa tulisan yang disebut naskah. Dalam filologi istilah teks menunjukkan pengertian sebagai sesuatu yang abstrak, sedang naskah merupakan sesuatu yang kongkrit. Oleh karena itu pemahaman terhadap teks klasik hanya dapat dilakukan lewat naskah yang merupakan alat penyimpanannya. Jadi filologi mempunyai sasaran kerja yang berupa naskah. Untuk lebih muda memahami perbedaan keduanya yaitu naskah adalah tulisan yang baru diedit atau dibukukan. Sedangkan tek…

Hukum Islam di Filiphina

Ide kodivikasi hukum Islam, khususnya perseorangan Islam di Fhilipina, telah muncul dalam akta No. 787 Komisi Fhilipina tahun 1903. Namun aturan ini akhirnya digantikan oleh aturan yang termuat dalam akta No. 1283. Tujuannya adalah untuk mengubah serta memodifikasi Undang-Undang pokok sipil dan kriminal kepulauan Fhilipina agar sesuai dengan kondisis lokal orang Moro serta membuat Undang-Undang tersebut sesuai dengan praktik serta penggunaan budaya setempat. Pokok Undang-Undang yang telah diubah dan dimodifikasi tersebut kemudian berlaku terhadap semua tindakan yang salah satu pelakunya adalah orang Moro atau non-kristen. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan atauran serta prosedur bagi pengadilan suku (tribal ward court) lokal dalam melibatkan berbagai kepentingan. Pemerintah Fhilipina tampaknya paham betul sifat hukum pribadi Islam, sehingga aturan-aturan yang ada masa rezim persemakmuran (1935-1945) dan masa republik (sejak 1946) memberikan peluang bagi pengembangan dan penerapan h…

Pendapat Teolog tentang Fana'

Fana terbagi pada dua jenis, yaitu fana di dalam esensi sebagaimana lenyapnya es di dalam air. Dan fana di dalam sifat, sebagaimana enyapnya besi di dalam api. Pada peristiwa pertama, maka abdi akan menjadi Dia (hu-hu); pada yang kedua, ia menjadi seperti Dia ( ka anna hu-hu). Kembali pada persoalan semula, fana’ dan baqa’ menjadi perbincangan kalangan sufi sejak abad ke 9 (ke-3H). Orang yang diduga pertama kali mengunakan lafazd fana’ dengan pengertian sufi adalah Abu Yazid al-Busthamiy. Di samping itu ada juga yang menisbahkannya kepada Zun Nun al-Mishriy sebagai gurunya. Mengenai pemikiran fana’ ini ada yang mengatakan bahwa mulanya berasal dari India lewat persia. Kemudian masuk dunia Islam. Ada pula yang menyebutkan bahwa Abu Yazid memindahkan teori fana’ dari Ali al-Sindi lewat pengajaran thariqah Hindu. Sementara yang lain memperkirakan kemungkinan unsur-unsurnya dari kebudayaan luar kemudian membentuk dirinya dalam Islam. Ada kecendrungan banyak teolog pada pandangan terakhir …

Pengertian Fana; Pengantar

Kata fana’ diambil dari kata faniya-yafna-fana’, secara etimologis berarti hancur, hilang, sirna, lenyap, binasa, dan berakhir (habis) wujudnya. Secara umum ia dapat menunjukkan keadaan yang tidak langgeng, sehingga segala sesuatu yang telah berakhir eksistensinya dikatakan telah mencapai fana’. Orang yang fana ialah orang yang lenyap dari padanya bahagian-bahagian dalam arti tidak punya bahagian sama sekali. Dalam perspektif ilmu kalam (teologi), fana’ dimaksudkan sebagai sifat yang mustahil adanya bagi Allah, sebagai lawan dari baqa’ (sifat wajib) bagi Allah. Segala sesuatu yang eksistensinya hancur atau bakal hancur dinilai tidak sempurna dan akan fana. Semua yang ada di atas permukaan bumi bakal hancur (mengalami kefana’an). Sedangkan al-baqa’ sebagai pecahan dari kata baqiyah-yabqa’-baqa’ berarti al-dawam, terus menerus dan tetap. Sebagai lawan dari fana’, ia berarti tetap ada, ada terus, tidak hilang, tidak hancur, tidak sirna atau tidak lenyap. Menurut Murad Wahbah bahwa fana’…

Sejarah Masuknya Islam di Filiphina

Seperti halnya di Indonesia, ditemukan suatu pergumulan antara Kristen dan Islam untuk merebut hati rakyat yang melibatkan orang-orang Kristen spanyol dan Islam dalam konflik berdarah. Hal ini berlangsung cukup lama, bahkan ada yang mengatakan bahwa berlangsung sampai abad ke 19. Tidak ada informasi yang jelas kapan pertama kalinya Islam masuk di negeri ini. Namun sejarah Minahasa menyebutkan bahwa Islam masuk dari Johor di Malaysia dibawah oleh Sarif Kabungsuwan yang menetap bersama beberapa orang sahabatnya dan bergaul ditempat itu. Disebutkan dalam sejarah bahwa beliau menolak untuk mendarat dari perahunya kecuali orang pertama yang menjemputnya berjanji akan masuk Islam. Dari catatan tersebut dipahami bahwa masuknya Kabungsuwan serta pengislaman penduduk Mindanao, Filiphina, pada mulanya berlangsung secara damai. Setelah merasa memiliki kekuatan, dia mulai menaklukkan daerah-daerah sekitarnya dimana penduduknya masuk Islam karena takut akan kekuasaannya. Bangsa Spanyol yang menem…

Islam di Filiphina

Orang Islam Fhilipina adalah kelompok minoritas yang banyak mendapat perlakuan diskriminatif dari kelompok mayoritas yakni kristen. Orang kristen (khatolik) sebagai kelompok mayoritas menganggap bahwah orang-orang islam merupakan rakyat asing berusaha menguasai satu wilayah yang bukan miliknya. Salah satu peristiwa dramatis yang pernah terjadi di Fhilipina sekaligus mernjadi catatan sejarah suram umat Islam Fhilipina adalah terjadinya pembantaian sekitar 180 sukarelawan Islam pada tahuan 1968. Di samping beberapa peristiwa-peristiwa yang mengarah kepada diskriminasi terhdap umat Islam. Umat Islam Fhilipina tetap merupakan bagian integral di republik Fhilipina. Tetapi akar sejarah dan kebudayan mereka adalah bagian dari sejarah dan kebudayaan Islam. Kendatipun demikian, hingga saat ini sekalipun mereka mendapatkan perlakuan yang tidak seimbang dari pemerintah Fhilipina, mereka tidak henti-hentinya berjuang dan berdakwah untuk mempertahankan eksistensinya. Umat Islam di kedua wilayah y…

Biografi Ibnu Katsir

Nama kecil Ibnu katsir adalah Ismail sedang nama lengkapnya adalah Imad ad-Din Abu al-Fida’ Ismail Ibn Am Ibn Katsir Ibn Zara’ al-Bushra al Dimasyqi. Lahir di desa Mijdal dalam wilayah Bushra (Bashra) tahun 700 H/1301 M. Ia berasal dari keluarga yang terhormat , ayahnya seorang Ulama terkemuka di masanya, Syihab ad-Din Abu al-Hafsh Amr Ibn Katsir Ibn Dhaw ibn Zara’ al-Qusyairi, pernah mendalami mazhab Hanafi, kendati pun menganut mazhab Syafi’i setelah menjadi khatib di bushra. Dalam usia kanak-kanak setelah ayahnya meninggal ibn katsir diboyong kakaknya (kamal ad-Din Abd Wahhab) dari desa kelahirannya ke Damaskus. Di kota inilah dia tinggal hingga akhir hayatnya, dan karena kepindahannya ini , dia mendapat predikat ad-Dimasyqy (orang Damaskus) Di masa pemerintahan dinasti mamluk pusat-pusat studi islam seperti madrasah-madrasah dan masjid-masjid berkembang pesat. Perhatian para penguasa pusat di mesir maupun penguasa daera Damaskus sangat besar perhatiannya terhadap studi islam, ban…

Pengertian Filologi; Pengantar

Secara etimologi, filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Philein yang berarti cinta dan logos berarti kata. Pada kedua kata itu membentuk arti cinta kata atau senang bertutur. Makna ini kemudian berkembang menjadi senang belajar atau senang kebudayaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Filologi berarti ilmu tentang perkembangan ilmu kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau tentang kebudayaan berdasarkan bahasa dan sastranya. Secara terminologis disebut sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, budaya dan sejarah suatu bangsa melalui bahan tertulis. Dewasa ini istilah filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari nilai berdasarkan naskah-naskah tertulis, walaupun ahli filologi akhir-akhir ini mulai menyadari bahwa sedikit pengetahuan tentang linguistik umum, sudah bermanfaat bagi usaha mereka. Ilmu filologi tidak sama dengan ilmu linguistik. Jadi ahli bahasa Jawa kuno misalnya atau ahli bahasa Melayu klasik, tak perlu menjadi spesialis linguistik u…

Bentuk-bentuk Jadal dalam al-Quran

Ada beberapa bentuk jadal dalam al-Quran, yaitu: Bentuk jadal dalam al-Quran yang pertama, menyebutkan ayat ayat kauniah yang disertai perintah melakukan perhatian dan pemikiran untuk dijadikan dalil bagi penetapan dasar dasar akidah, seperti ketauhidan Allah dalam Uluhiyah-nya dan keimanan kepada malaikat malaikat, kitab kitab, rasul rasul-Nya dan hari kemudian. Perdebatan macam ini banyak diungkap dalam al-Quran. Misalnya Firman Allah, surah al-Baqarah ayat 21-22 "Wahai manusia sembahlah tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui". Bentuk jadal dalam al-Quran yang kedua, membantah pendapat para penantang dan lawan, serta mematahkan argument…

Pokok-pokok Ajaran Syiah Zaidiyah

Pokok-pokok ajaran Syi’ah Zaidiyah, terdiri dari beberapa hal. Diantaranya, meyakini seseorang dari keturunan Fathimah (puteri Nabi) yang melancarkan pemberontakan dalam membela kebenaran, dapat diakui sebagai imam, jika ia memiliki pengetahuan keagamaan, berakhlak mulia, berani, dan murah hati. Selanjutnya mereka mengatakan bahwa siapapun dari keturunan Ali bin Abi Thalib dapat menjadi imam, bisa lebih dari seorang dan bahkan tidak ada sama sekali. Jabatan imam dapat dikukuhkan berdasarkan kemampuan dalam memimpin dan dapat juga berdasarkan latar belakang pendidikan. Ajaran Syi’ah Zaidiyah mengenai kepemimpinan Khulafa al-Rasyidin, mengakui kekhalifahan Abu Bakr, Umar dan Utsman pada awal masa pemerintahannya, meskipun Ali bin Abi thalib dinilainya sebagai sahabat yang paling mulia. Dalam kaitan ini, terdapat konsep Syi’ah Zaidiyah yang berbunyi : جواز امامة المفضول مع وجود الأفضل . Yang dimaksud dengan المفضول adalah Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Usman. Sedangkan yang dimaksud dengan الأفضل…

Apakah Penggerak Pertama Wajibul Wujud?

Apakah penggerak pertama merupakan wajibul wujud?. Pertanyaan ini menjadi salah satu kajian filosof barat dan timur. Sheril Warner menuliskan: pemutar pertama tanpa putaran ini adalah wujud abadi, hal ini terjadi karena gerak yang terlahir darinya adalah abadi, dia juga mempunyai kesempurnaan menyatu karena gerak yang dimunculkan merupakan gerak yang koheren dimana koheren meniscayakan pada kebersatuan, akan tetapi menganggap wahidnya pemutar pertama adalah tidak mencukupi. Pemutar pertama mempunyai bagian yang tak bisa diterima pula yaitu dia tidak mempunyai jumlah. Pada hakekatnya dia tidak bisa pula mempunyai jumlah, karena pemutar yang melakukan geraknya secara abadi dan mutlak tidak bisa merupakan akibat dari yang terbatas, akan tetapi pemutar ini bukan merupakan jumlah tak terbatas, karena di dalam alam riil sama sekali tidak ada wujud yang tak terbatas. Pada kajian lain, dia menuliskan: Penggerak pertama, yaitu wujud sempurna yang telah menarik alam ke arahnya ini adalah apa …