.

Implementasi Metode al-Hikmah dalam Dakwah

 

Impelementasi atau penerapan pelaksanaan metode dakwah bi al-hikmah telah dilakukan oleh Nabi saw dalam menyebarkan Islam, dan perintah tersebut berdasar pada firman Allah swt QS. Al-Nahl (16): 125
Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai menjelaskan tiga implementasi metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Pertama, terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah. Yang kedua, terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mauizah, yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedangkan yang ketiga, terhadap ahl al-kitab dan penganut agama-agama lain yang diperintahkan adalah jidal (perdebatan dengan cara yang terbaik), yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. Tiga cara implementasi sekalgus metode dakwah tersebut ditempuh dalam menghadapi manusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya.
Disebutkan dalam ayat tadi bahwa metode al-hikmah adalah pertama, kemudian kedua, adalah al-maui’zah, dan ketiga al-jadl, menunjukkan bahwa metode al-hikmah sangat penting dalam pelaksanaan dakwah, dan yang demikian ini sejalan dengan ayat lain yang juga menggunakan term al-hikmah, yakni QS. Al-Jum’ah (62): 2.
Dari ayat tersebut, ditemukan sekurang-kurangnya tiga impelmentasi metode dakwah menurut yang dijelaskan oleh Muhatdi dan Safei, yakni sebagai berikut ;
  1. Metode yatlū ‘alayhim āyatih. Dalam istilah lain diartikan sebagai proses komunikasi. Strategi penyampaian pesa-pesan Alquran kepada umat memiliki konsekuensi terpelihanya hubungan insani secara sehat dan bersahaja, sehingga dakwah tetap memberikan fungsi maksimal bagi kepentingan hidup dan kehidupan. Di sinilah proses dakwah perlu mempertimbangkan dimensi-dimensi sosiologis agar komunikasi yang dilaluinya dapat berimplikasi pada peningkatan kesadaran iman.
  2. Metode yuzakkihim, yakni strategi dakwah yang dilakukan melalui proses pembersihan sikap dan perilaku. Proses pembersihan ini dimaksudkan agar terjadi perubahan individu dan masyarakat sesuai dengan watak Islam sebagai agama kemanusiaan. Oleh karena itu, dakwah mengembang misi kemanusiaan, sekaligus memelihara keutuhan Islam sebagai agama rahmatan li al-‘ālamīn.
  3. Metode yu’allimu humul kitābah wa al-hikmah. Strategi ini dapat dilakukan melalui proses pendidikan, yakni proses pembebasan manusia dari berbagai penjara kebodohan yang sering kali melilit kemerdekaan dan kreativitas. Pendidikan yang dimaksud di sini adalah proses pencerahan untuk menghindari keterjebakan hidup dalam pola jahiliah yang sangat tidak menguntungkan, khususnya bagi masa depan umat manusia. Yang terakhir ini karena berkenaan dengan masalah pendidikan maka sebagaimana pula yang telah disinggung bahwa metode al-hikmah ini memang sasarannya disesuaikan dengan tingkat kecerdasan, yakni para cendekiawan, yang memiliki kemampuan berfikir tinggi diajak dengan cara al-hikmah.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, vol.VII (Jakarta: Lentara Hati, 2006). Asep Saeful Muhtadi dan Agus Safei, Metode Penelitian Dakwah (Cet.I; Bandung: Pustaka Setia, 2003).
Implementasi Metode al-Hikmah dalam Dakwah 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Pertama, terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan hikmah. Yang kedua, terhadap kaum awam diperintahkan untuk menerapkan mauizah, Impelementasi atau penerapan pelaksanaan metode dakwah bi al-hikmah telah dilakukan oleh Nabi saw dalam menyebarkan Islam, dan perintah ter...


Advertisement
Post a Comment