Skip to main content

Pembagian Amtsal al-Quran

Oleh: Mushlihin, S.Pd.I, M.Pd.IPada: February 16, 2012

Pembagian amtsal di dalam al-Quran, dapat dibagi menjadi tiga yaitu: Musarrahah, al-Karinah dan al-Marsalah. Untuk lebih jelasnya penulis akan memaparkan sebagai berikut:
Amtsal Musarahah, ialah yang didalamnya dijelaskan dengan lafaz matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih. Amtsal seperti ini banyak ditemukan dalam al-Quran, diantaranya firman Allah mengenai orang munafik pada QS. Al-Baqarah (2): 27-20
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar), atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir,sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir”.
Di dalam ayat-yat ini membuat dua perumpamaan (masal) bagi orang munafik; masal berkenaan dengan api (nari) dalam firman-Nya ”seperti orang yang menyalakan api”, karena di dalam api terdapat unsur cahaya; dan masal yang berkenaan dengan air (ma’i), ”atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit....”, karena didalam air terdapat materi kehidupan, dan wahyu yang turun dari langitpun bermaksud untuk menerangi hati dan menghidupkannya. Allah juga menyebutkan kedudukan dan fasilitas orang munafik dalam dua keadaan. Disatu sisi mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk penerangan dan kemanfaatan; mengingat mereka memeperoleh kemanfaatan materi dengan sebab masuk Islam, namun disisi lain Islam tidak memberi pengaruh ”nur”-nya terhadap hati mereka karena Allah menghilangkan cahaya (nur) yang ada dalam api itu. ”Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka”. Dan membiarkan unsur ”membakar” yang ada padanya. Inilah perumpamaan mereka yang berkenaan dengan api.
Amtsal Kaminah, yaitu yang didalamnya tidak disebutkan dengan jelas lafaz tamsil (pemisahan), tetapi ia menunjukkan makna-makna yang indah, menarik, dalam kepadatan redaksinya, dan mempunyai pengaruh tersendiri bila dipindaahkan kepada yang serupa dengannya. Diantara contohnya adalah ayat QS. Al-Baqarah (2): 68.
Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".
Amtsal Mursalah, yaitu kalimat-kalimat bebas yang tidak menggunakan lafaz tasybih secara jelas. Tetai kalimat-kalimat itu berlaku secara masal. Diantara Contohnya: QS. Yusuf (12): 51, yang artinya: ”Sekarang ini jelaskan kebenaran itu”. QS.al-Najm (53): 58, yang artinya ”Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain dari Allah”. QS. Yusuf (12): 41 yang artinya ”Telah terputuskan perkara yang berdua menanyakannya (kepadaku).
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Abdu al-Rahman Jalaluddin al-Suyuti, al-Itqan fi Ulum al-qur’an Juz II. (Program Maktabah al-Syamilah). Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: Jumanatul ’Ali Art, 2005). Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005).
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik referensi halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar