.

Sekilas Sejarah Emansipasi Wanita

 

Kata emansipasi berasal dari bahasa latin yaitu “Emancipacio”, yakni pembebasan dari tangan kekuasaan.
Di zaman Romawi, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua, sama dengan sangat baik. Emansipasi kaum wanita perjuangannya sejak abad ke-14 untuk memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti kaum laki-laki.
Dalam sejarah jauh sebelum peristiwa tersebut, Islam sudah mencanangkan atau mencetuskan persamaan hak di antara sesama manusia. Dengan demikian emansipasi wanita di dalam pembangunan sudah dikenal sebelumnya, akan tetapi disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Wanita pada saat itu dididik tentang bagaimana berbakti kepada suaminya. Bahkan menurut adat pada saat itu, kedudukan atau derajat wanita dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki kebebasan sebagaimana yang dimiliki oleh kaum laki-laki, baik itu kebebasan untuk keluar rumah, kebebasan untuk menuntut ilmu di sekolah, kebebasan untuk bekerja di luar rumah, dan lebih-lebih menduduki jabatan di dalam masyarakat semua itu tidak dimiliki kaum wanita.
Dalam kaitannya dengan emansipasi wanita di Indonesia yang dicetuskan oleh R.A. Kartini dengan melihat kondisi di tengah-tengah masyarakatnya ini pertanda bahwa generasi muda atau generasi penerus itu tidak diberi kesempatan untuk berkembang dan maju, tetapi mereka hanya dipaksa menerima segala apa yang menjadi warisan nenek moyangnya.
Keadaan masyarakat yang demikian itulah yang dialami oleh R.A. Kartini, sebagai seorang gadis yang dilahirkan di lingkungan kaum priyayi, merasakan keadan itu lebih berat daripada yang dialami oleh gadis-gadis di kalangan awam. Keberuntungan R.A. Kartini ini dilahirkan dari lingkungan keluarga yang telah terpandangan maju, mulai dari kakeknya yang bernama Pangeran Ario Tjondronegoro, paman-pamannya dan bahkan ayahnya sendiri termasuk yang berpendirian maju. Mereka sangat cinta akan ilmu pengetahuan dan berkeinginan agar bangsanya dapat maju serta dapat menikmati ilmu pengetahuan. Pendirian yang demikian itu diwujudkan pula di dalam keluarganya. Olehnya itulah Kartini dapat disekolahkan, dapat menikmati bangsa pendidikan sederajat kaum pria.
Keadaan sudah tidak bisa dielakkan lagi akhirnya R.A. Kartini melanjutkan pendidikannya dan bercita-cita untuk membebaskan kaumnya dari belenggu adat istiadat masyarakatnya, akan tetapi hal ini merupakan celaan dari golongan bangsawan lainnya.
Karena Kartini hidup di lingkungan keluarga yang telah maju, maka jiwa kemajuan yang ada pada keluarganya itu ternyata dapat diwarisi oleh Kartini. Jiwa kemajuan yang ada pada dirinya itu makin lama makin bertambah subur. Lebih-lebih setelah ia menikmati bangku sekolah, banyak membaca sejarah tentang perjuangan kaum wanita dibelahan dunia yang secara historis sama dengan keadaan masyarakat yang masih terisolir dengan adat istiadat, akan tetapi mereka telah melangkah jauh, jika dibandingkan kaum wanita yang ada di Indonesia secara langsung melihat keadaan masyarakat dan nasib yang dialaminya sendiri.
Dalam melihat masyarakatnya itu, banyaklah hal-hal yang pusat perhatiannya, seperti soal nasib kaum wanita, pendidikan, kesenian, kesehatan dan sebagainya. Jelaslah bahwa Kartini adalah seorang yang memiliki pandangan dan pengetahuan yang amat luas dan beraneka ragam.
Olehnya itu hendak memajukan bangsanya dalam segala lapangan yaitu masyarakat yang pada waktu itu sangat membutuhkan uluran tangan dari pemimpin-pemimpinnya. Kartini juga menyadari bahwa pekerjaan yang dihadapinya itu amat sukar dan banyak penghalangnya. Seperti yang dikatakannya dalam sebuah suratnya, antara lain ia berkata:
Saya tahu tentang jalan yang saya tempuh itu, sukar banyak duri dan onaknya dan lubang-lubangnya. Jalan itu berbatu-batu, berlekuk-lekuk, licin, jalan itu belum dirintis. Dan biarpun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa bahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumi Putera merdeka dan berdiri sendiri. Sudah senang benarlah hati saya bila ibu bapak gadis lainnya, yang hendak berdiri sendiri pula, tiada dapat lagi mengatakan: “belum ada seorang jua pun orang kita yang berbuat demikian”.
Dari isi surat tersebut jelaslah bahwa tekad Kartini yang bulat walaupun ia sudah mati dan belum berhasil dalam melaksanakan cita-citanya, tetapi sudah membuka dan merintis jalan ke arah apa yang ia cita-citakan, yakni membebaskan kaumnya dari belenggu kebodohan yang diakibatkan oleh pengaruh adat yang sangat kokoh, sehingga bagi seorang wanita untuk menuntut ilmu pengetahuan dianggap tabu atau melanggar adat.
Kalau kita tidak mengetahui suatu keemasan bagi kaum wanita di Eropa, tentulah wanita tidak dapat mengajukan pertimbangan kepada suaminya. Tapi tindakan Rasulullah bukan muncul dari pengaruh lingkungan, tapi merupakan tindakan Nabi.
Abbas Mahmud al-Aqqad menukil sebuah peristiwa dari sebuah buku yang ditulis oleh orang Barat, yang membicarakan tentang wanita Eropa pada zaman dahulu. Penulis buku tersebut mengisahkan bahwa Ratu Blancflour mendatangi suaminya, Raja Pepin menanyakan tentang bantuan orang-orang Lorein. Raja Pepin marah lalu memukul isterinya atau permaisurinya sehingga beberapa cecer darah keluar dari hidungnya.
Peristiwa seperti ini bukan satu-satunya kata-kata seperti itu selalu diucapkan seorang suami yang tidak menghargai isterinya sebagai pendamping hidupnya dalam mendidik anak-anaknya.
Jadi fenomena yang lebih besar dari sikap Rasulullah dalam menghormati persamaan hak ini, beliau sama sekali tidak merasa rendah diri memenuhi keperluannya sendiri dalam rumah bukan melaksanakan kebutuhan isteri dan keluarganya.
Selanjutnya sekiranya bila kaum wanita itu berpendidikan sudah barang tentu ia akan lebih cakap dalam mendidik putera-puterinya dan mengurus rumah tangganya, serta lebih jauh lagi akan semakin majulah bangsanya. Olehnya itu perjuangan R.A. Kartini adalah gambaran cita-cita dan perjuangan kaum wanita dan rakyat Indonesia.
Pejuang pejuang utama tentang emansipasi kaum wanita antara lain ialah Lady Astor dan E. Pankhust. Keduanya berasal dari Inggris. Pada sekitar abad ke-19 atau tepatnya pada tahun 1879 lahirlah seorang puteri Indonesia, yang akhirnya menjadi pejuang utama dalam emansipasi, yakni Rade Ajeng Kartini.
Pada prinsipnya, dengan adanya emansipasi wanita ini baik di negara lain maupun di Indonesia banyak menunjukkan kemajuan, baik dalam bidang pendidikan, sosial budaya, ekonomi, dan masih banyak lapangan kerja yang digeluti oleh kaum ibu dan wanita. Namun satu hal yang perlu diingat kita sebagai kaum wanita dalam menjalankan tugas harus sesuai dengan kemampuan, apalagi tugas sebagai ibu rumah tangga harus dinomor satukan sebab, anak-anak kita butuh kasih sayang, sehingga putera-puteri kita menjadi generasi yang handal dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi disertai dengan iman yang kuat itulah harapan kita semua.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Mas’ud Khasan Abdul Qohar, Kamus Istilah Pengetahuan Populer, Yogyakarta: Bintang Pelajar, t.th. Tashadi, R.A. Kartini, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Buku Terpadu, 1985. Sa’id Hawwa, Ar-Rasul Muhammad saw., diterjemahkan oleh Kathur Suhardi, Solo: Pustaka Mantiq, 1992.
Sekilas Sejarah Emansipasi Wanita 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Dengan demikian emansipasi wanita di dalam pembangunan sudah dikenal sebelumnya akan tetapi disesuaikan dengan kemampuan mereka. Kata emansipasi berasal dari bahasa latin yaitu “ Emancipacio ”, yakni pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi, membebaskan seo...


Advertisement
Post a Comment