.

Pengantar; Asal Usul Bahasa

 

Pembahasan tentang asal-usul bahasa, alih-alih menyimpulkan kapan bahasa pertama kali digunakan oleh manusia, para ahli bahas justru sepakat bahwa tidak seorangpun mengetahui secara pasti kapan bahasa awal mula ada, di mana, bagaimana membuat dan siapa yang mengawalinya.
Ungkapan yang lazim mengatakan bahwa sejarah bahasa dimulai sejak awal keberadaan manusia. Dengan demikian sejarah bahasa berlangsung sepanjang sejarah manusia. Ada sedikit informasi dari para peneliti yang menyimpulkan bahwa bahasa muncul pertama kali lebih 3000 SM. Inipun dianggap kesimpulan yang spekulatif dan tanpa bukti yang kuat.
Berbeda dengan aliran-aliran primitive tersebut di atas, para filsuf Yunani kuno, seperti Pytagoras, Plato dan kaum Stoika berpendapat bahwa bahasa mmuncul karena “keharusan batin” atau karena “hukum alam” . Disebut keharusan batin karena bahasa hakikatnya adalah perwujudan atau ekspresi dunia batin penggunanya. Lihat saja bagaimana bahasa seseorang ketika sedang marah, bahagia, gelisah dan sebagainya. Semuanya tergambar dalam bahasa yang diucapkan.
Pendapat yang cukup masuk akal dan menjadi dasar pemahaman orang tentang makna bahasa sampai saat ini muncul dari filsuf seperti Demokritus, Aristoteles dam kaum Epikureja yang mengatakan bahwa bahasa adalah hasil persetujuan dan perjanjian antar anggota masyarakat. Sebab sifat dasar manusia adalah keinginannya berinteraksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Untuk itu mereka memerlukan sarana atau alat komunikasi. Tetapi pertanyaannnya adalah bagaimana orang melakukan perundingan atau persetujuan atas sesuatu sementara mereka belum memiliki alat untuk itu. Apakah hanya mengggunakan isyarat dengan anggota badan? Sayangnya teori ini berhenti sampai di sini.
Kendati teori tentang asal-usul bahasa masih kabur dan demikian beragam, dari yang bersifat mitos, religious, mistis sampai yang agak ilmiah. Secara garis besar terdapat tiga perspektif mengenai asal-usul bahasa, yakni teologik, naturalis dan konvensional. Aliran teologik umumnya menyatakan bahwa kemampuan berbahasa merupakan anugerah Tuhan untuk membedakannya dengan makhluk lain. Dalam al-Quran Q.S. 2:31 Allah dengan tegas memerintahkan Adam untuk memberi nama benda-benda (tidak menghitung benda-benda).
Para penganut aliran ini berpendapat kemampuan Adam untuk memberi nama benda disebut tidak saja sebagai peristiwa linguistik pertama kali dalam sejarah manusia, tetapi juga peristiwa social yang membedakan manusia dengan semua makhluk ciptaan-Nya. Yang lain. Tak bisa diingkari bahwa bahasa kemudian menjadi pembeda yang sangat jelas antara manusia (human) dengan makhluk yang bukan manusia (non-human). Tentu saja pendapat ini bersifat dogmatis dan karenanya tidak perlu dilakukan kajian secara ilmah dan serius tentang sal-usul bahasa. Karena bersifat teologik, maka aliran ini terkait dengan keimanan seseorang. Bagi yang beragama Islam perintah Allah kepada Adam a.s. di atas harus diterima sebagai kebenaran, karena tersurat dengan jelas di dalam kitab suci al-Quran.
Sisi positif aliran ini adalah kebenarannya bersifat mutlak dan karenanya tidak perlu diperdebatkan karena berasal dari Allah swt. Tetapi sisi negatifnya, aliran ini menjadikan ilmu pengetahuan tentang bahasa tidak berkembang. Sebab tidak lagi ada kajian atau penelitian tentang asal-usul bahasa. Padahal penelitian merupakan aktivitas ilmiah yang sangat penting untuk menjelaskan dan mencari jawaban atas berbagai fenomena alam, social, dan kemanusiaan termasuk fenomena bahasa. Lebih dari itu penelitian merupakan aktifitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Tidak pernah ada ilmu pengetahuan berkembang tanpa penelitian. Hampir semua ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dibarengi dengan kegiatan penelitia secara intensif, misalnya ilmu kedokteran, biologi, fisika dan lain-lain.
Di antara pandangan-pandangan yang dapat diterima dalam persoalan asal-usul bahasa adalah pandangan yang mengatakan bahwa penciptaan manusia fisiologis berbeda dengan penciptaan hewan. Manusia dilengkapi dengan perangkat suara, otot dan syaraf yang memungkinkannya untuk membuat bahasa, saling berbagi informasi melalui bahasa dan sekaligus mengembangkannya.
Pendapat yang mengatakan bahwa bahasa asal-usul bahasa merupakan buatan manusia atau hasil kesepakatan dan kesepakatan, mereka mendasarkan kepada alasan-alasan yang dapat anda lihat di sini
Referensi Makalah®
Pengantar; Asal Usul Bahasa 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Sisi positif aliran ini adalah kebenarannya bersifat mutlak dan karenanya tidak perlu diperdebatkan karena berasal dari Allah swt. Tetapi sisi negatifnya, aliran ini menjadikan ilmu pengetahuan tentang bahasa tidak berkembang. Sebab tidak lagi ada kajian atau penelitian tentang asal-usul bahasa. Pembahasan tentang asal-usul bahasa, alih-alih menyimpulkan kapan bahasa pertama kali digunakan oleh manusia, para ahli bahas justru sepaka...


Advertisement
Post a Comment