.

Filsafat Perennial; Agama dan Tradisi

 

Filsafat perennial juga bisa disebut sebagai tradisi (baca definisi lain di sini). Tradisi dalam pengertian yang hakiki. Nasr, dalam hal ini merumuskan:
Tradition as used in its technical sense in the work, as in all our other writings, means truths or principles of a divine origin revealed or unveiled to mankind and, in fact, a whole cosmic sector through various figures envisaged as messengers, prophets, avatâras, the Logos or other transmitting agencies, along with all the ramifications and applications of these principles in different realms including law and social structure, art, symbolism, the sciences, and embracing of course Supreme Knowledge along with the means for its attainment.
Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa yang dimaksud dengan tradisi adalah kesejatian-kesejatian, atau prinsip-prinsip dari Yang Asal Ilahi (The Divine Origin) yang diwahyukan atau dibeberkan kepada manusia bahkan keseuruh wilayah kosmis melalui berbagai pigur pilihan seperti Rasul, Nabi-Nabi, Avatar, Logos, dan lain-lain. Kesejatian tersebut juga mencakup pengetahuan tertinggi (supreme knowledge), sekaligus cara-cara untuk mendapatkannya.
Dalam pengertian yang lebih universal, tradisi dapat juga dipandang meliputi prinsip-prinsip yang mengikat manusia dengan langit, yaitu agama. Sementara dari itu sendiri, yang berfungsi mengikat manusia dengan Yang Asal. Dari sudut pandang ini, dalam pengertian yang lebih kongkrit, tradisi dapat dianggap sebagai aplikasi prinsip-prinsip tersebut, tradisi mengimplikasikan adanya kesejatian-kesejatian yang berkarakter supraindividual yang berakar pada hakikat Realitas, sebagaimana dikatakan: “Tradisi bukanlah mitologi kekanak-kanakan dan usang, tetapi sebuah ilmu yang benar-benar nyata.” Tradisi, seperti halnya juga agama, terdiri atas dua unsur utama: kesejatian (truth) dan kehadiran (presence). Ia berkenaan dengan subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui, dan ia berasal dari sumber dan sekaligus tempat kembali segala sesuatu. Dengan begitu ia mencakup segala sesuatu, ibarat “Nafas Yang Maha Pengasih” yang menurut tradisi selalu terkait dengan unsur-unsurnya, berupa wahyu, agama, yang sakral, ide-ide ortodoksi, otoritas, kontinuitas dan regularitas transformasi kesejatian, dengan kehidupan eksoterik, esoterik dan spritual, juga dengan sains dan seni. warna dan nuasa makna tradisi paling jelas terdapat dalam hubungan langsung dengan masing-masing unsur tersebut, yang selanjutnya akan menyinari wilayah-wilayah kategori lain.
Dalam setiap seruan kembali kepada tradisi, yang telah berlangsung semenjak beberapa dekade, pengertian tradisi lebih diarahkan kepada hikmah perennial (perennial wisdom) dibanding dengan yang lain, yang terdapat dalam jantung semua agama, dan yang tidak lain dari Sophia yang dipandang sebagai mahkota dan puncak segala perspektif sapiental di Barat maupun Timur. Hikmah abadi ini merupakan elemen utama penyusunan tradisi, sehingga tradisi tak mungkin dilepaskan darinya: sophia perennis di Barat, agama Hindu menyebutnya sanatâna dharma dan dikalangan Muslim menyebutnya al-Hikmah al-Khâlidah (atau jâvidân khirad dalam bahasa Pesia).
Dalam literatur Cina dikenal istilah Taoisme.Tao yang secara harfiah berarti jalan. Ia tak lain adalah asas kehidupn manusia yang harus diikuti jika ia ingin natural sebagai manusia. Tao adalah hakekat alam semesta dan melampaui alam semesta. Tao adalah sebelum adanya alam semesta ini. Dari sudut etis dan ontologis, Kofusianisme akan menyebut realitas terakhir dan tertinggi adalah Surga, tetapi Taoisme menyebutnya Tao. Tao melebihi surga, Tao mencakup segala sesuatu. Segala pemenuhan yang ada dialam ini dilakukan oleh Tao. Yang dilakukan secara spontan dan tanpa sengaja. Dalam Islam ada al-din yang secara harfiah berarti “ikatan” yang harus menjadi dasar dalam beragama bagi seorang Muslim (yang pasrah). Namun berbagai nama dan bungkus tersebut, tetap bukanlah merupakan tujuan, melainkan lebih merupakan jalan agar manusia bisa terbebas dari belenggu-belenggu dunia material yang cenderung menyengsarakan dan bisa mencapai kehidupan primordial yang merupakan kehidupn alami manusia. Filsuf besar Sadr al-Din Syirâzi yang lebih populer dengan nama Mulla Sadra (w.164), mengidentikkan pengetahuan yang benar dengan hikmah perennial, yang telah ada sejak permulaaan sejarah mnusia.
Konsepsi Islam tentang universalitas wahyu bergerak dari tangan-ketangan, dengan ide kebenaran primordial yang ada dan akan senantiasa ada, sebuah kebenaran tanpa sejarah. Bahasa Arab al-din yang merupakan kata paling pantas untuk menerjemahkan istilah tradisi ini, tidak dapat dipisahkan dari ide permanen dan hikmah yang terus menerus, Sophia Perennis yang dapat juga diidentikkan dengan philosophia prennis sebagaimana dipahami oleh tokoh seperti Coomaraswamy. Karena itu bagi, Steuco philosophia prennis tidak lain adalah Philosophia Priscorium, yakni filsafat kuna yang antik, tetapi dibawah satu panggilan baru. Steuco menjelaskan bahwa hikmah (wisdom) yang secara murni berasal dari Ilahi, yaitu pengetahuan suci (sacred knowledge) yang diberikan Tuhan kepada Adam, yang bagi sejumlah besar orang, pengetahuan itu secara bertahap dilupakan dan dianggap sebagai sebuah mimpi yang masih bertahan secara sempurna dalam prisca theologia. Agama dan filsafat yang benar ini yang bersifat theosis (orientasi ketuhanan) dan bertujuan pada pencapaian pengetahuan suci, telah ada sejak permulaan sejarah kehidupan manusia dan dapat dicapai baik melalui ekspresi kebenaran secara historik dalam aneka tradisi ataupun melalui intuisi intelektual dan kontemplasi “filosofis”.
Dari ulasan sekilas di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat perennial sedikitnya bisa didekati dari tiga sudut: epistemologis, ontologis, dan psikologis. Secara epistemologis filsafat perennial membahas makna, substansi dan sumber kebenaran agama serta bagaimana kebenaran itu berproses mengalir dari Tuhan Yang Absolut, dan pada gilirannya tampil dalam kesadaran akal budi manusia serta mengambil bentuk dalam tradisi keagamaan. Sedang dari pendekatan ontologis, filsafat perennial berusaha menjelaskan adanya sumber dari segala yang ada (being quo being), bahwa segala wujud ini sesungguhnya bersifat relatif, ia tak lebih sebagai jejak, kreasi atau pun cerminan dari Dia yang Esensi dan Substansi-Nya di luar jangkauan nalar manusia. Manusia hanya mampu menangkap bayang-bayang-Nya atau pun mencoba mendefinisikan lewat sifat dan nama-nama-Nya, tetapi tidak mungkin nalar manusia mampu membuat batasan atau definisi tentang Dia, karena difinisi itu sendiri berarti pembatasan. Adapun melalui pendekatan psikologis, filsafat perennial berusaha mengungkapkan apa yang dimaksud “wahyu batiniah”, “agama asli”, “hikmah khâlidah”, “kebenaran abadi,” “sophia perennis”, yang terukir dalam lembaran hati seseorang yang paling dalam yang senantiasa rindu pada Tuhan dan senantiasa mendorong seseroang untuk berfikir dan berprilaku yang benar. Dengan kata lain, secara psikologis Filsafat Perennial mempertahankan pandangan bahwa dalam diri setiap orang terdapat “atman” yang pada dasarnya merupakan pancaran dari “Brahman” atau, dalam bahasa Bibel, “manusia itu diciptakan menurut gambar tuhan”. Maksudknya adalah bahwa secara intrinsik dan alamiah Tuhan telah menanamkan “benih” iman dan Islam pada diri setiap insan, hanya saja “benih” itu adakalanya tertimbun kafir) sehingga tidak bisa tumbuh mekar, tetapi meskipun demikian kandungan iman dan Islam tersebut tetap tidak akan mati.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Yosep Umar Hadi, “Taoisme” dalam Mudji Sutrisno (penyunting), Jelajah hakikatPemikiran Timur, Seri Filsafat Driyakara, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993. S.H. Nasr, “Mulla Sadra as Source for History of Muslim Philosophy” dalam Islamic Studies 3/3/, September, 1964. Yuliani Liputo, Tauhid; Sains: Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sain Islam, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994. Sutejo, Spiritualitas dan Seni Ilam, Bandung: Mizan, 1993.
Filsafat Perennial; Agama dan Tradisi 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh prinsip-prinsip dari Yang Asal Ilahi (The Divine Origin) yang diwahyukan atau dibeberkan kepada manusia bahkan keseuruh wilayah kosmis melalui berbagai pigur pilihan seperti Rasul, Nabi-Nabi, Avatar, Logos, dan lain-lain. Filsafat perennial juga bisa disebut sebagai tradisi (baca definisi lain di sini ). Tradisi dalam pengertian yang hakiki. Nasr, dalam hal i...


Advertisement
Post a Comment