.

Sejarah Bangsa Mongolia dan Kehancurannya

 

Kehidupan bangsa mongol tetap sederhana, mereka adalah bangsa normal yang berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain, mengembala kambing dan hidup dari hasil buruan, sebagaimana umumnya bangsa yang normal. Bangsa mongol memiliki watak yang kasar, suka berperang dan berani menghadapi maut dalam mencapai keinginannya.
Kelebihan bangsa mongol dibanding dengan bangsa yang lainnya adalah kepatuhan mereka terhadap pimpinannya, mereka menganut agama Syamanisme, menyembah binatang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit.
Dalam perkembangan selanjutnya di luar dugaan, tidak sedikit diantara mereka masuk Islam bahkan pemimpin mereka ada yang memeluk Islam salah satunya adalah Timur Lenk.
Ada beberapa faktor kekalahan dan kehancuran umat Islam bukan hanya semata akibat dari faktor eksternal, tetapi juga tidak terlepas dari faktor internal umat Islam antara lain:
Pergolakan dalam Kekuasaan
Di Bagdad setelah Khalifah kesembilan (al-Wasiq), Khalifah Abbasiyah lebih banyak bergeliman dengan pergolakan dalam negeri, sehingga membawa negara pada kondisi yang lemah, seperti dimanfaatkannya khalifah oleh menteri-menteri yang ambisi dan korup untuk kepentingan pribadinya, serta banyaknya daerah-daerah yang melepaskan diri dan membentuk kerajaan kecil yang merdeka.
Kerajaan-kerajaan itu di antaranya: Thahiriyah (820-872 M), Shafawiyah (868-901 M), Transokzania (873-998 M), Azerbaijan (878-930 M), Buwaihi (932-1055 M), Ghaznawiyah (962-1189 M), Saljuk (1037-1299).
Faktor Sosial dan Moral
Pada sisi lain faktor sosial dan moral juga memainkan peran penting dalam hal keruntuhan ini, misalnya faktor sosial yakni adanya percampuran darah antara yang menakluk­ kan dan yang ditaklukkan yang mengakibatkan tidak adanya domisasi dalam posisi maupun kualitas. Dari segi moral,khalifah dan pembesar-pembesar negara bersenang-senang dengan gundiknya, istana diramaikan dengan tari, nyanyian dan khamar, keadaan rakyat tidak dihiraukan.
Faktor Ekonomi
Dari segi ekonomi adalah menurunnya pendapatan negara disebabkan semakin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyak kerusuhan yang menggangu stabilitas perekonomian rakyat, kehidupan Khalifah, pejabat semakin mewah dari hasil korup­sinya. Dengan demikian kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara menadi lemah.
Konflik Agama
Akibat kekecewaan orang-orang persia, mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran agama mereka, seper­ti ajaran mannisme, zoroasterisme, dan mazdakisme. Disamping komplik antar agama tersebut juga terjadi komplik antara aliran dalam ajaran Islam yakni antar Sunni dan Syiih.
Keempat kondisi tersebut itulah yang dialami oleh umat Islam ketika bangsa Mongol mengadakan penyerangan ke negara-negara Islam, dan tidak seorangpun diantara mereka merasa pentingnya persekutuan umat Islam untuk membentengi serangan-serangan termasuk serangan bangsa Mongol tersebut yang menjadi faktor eksternal kehancuran Islam.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Hasan Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam, Juz IV, Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Mishriyah, 1979. Usman Said, et al., Sejarah Kebudayaan Islam, Ujungpandang, Proyek Pembinaan PTA/ IAIN, 1981. Phillip K. Hitti, The Arab A. Short History, diterjemahkan oleh U. Hutagalung & Op Sihombing dengan judul, Dunia Arab Sejarah Ring­kas, Bandung: Sumur. t.th.. Sayed Amir Ali, The Spirit of Islam, diterjemahkan oleh HB. Yassin dengan judul, Api Islam, Bandung: Bulan Bintang,1978.
Sejarah Bangsa Mongolia dan Kehancurannya 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Kelebihan bangsa mongol dibanding dengan bangsa yang lainnya adalah kepatuhan mereka terhadap pimpinannya, mereka menganut agama Syamanisme, menyembah binatang, dan sujud kepada matahari yang sedang terbit. Kehidupan bangsa mongol tetap sederhana, mereka adalah bangsa normal yang berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain, mengembala...


Advertisement

No comments:

Post a Comment