.

Kronologi Munculnya Kritik Hadis

 

Pada masa Rasulullah saw, kritik atas hadis tidaklah begitu besar. Keberadaan Rasul di tengah-tengah mereka sudah dianggap cukup untuk menjadi nara sumber atas persoalan-persoalan agama. Pada masa pemerintahan khulafa'urrasyidin, kritik hadis mulai terlihat mencuat.
Terbukti dengan semakin berhati-hatinya para sahabat dalam menerima hadis hal ini sebagaimana yang terjadi dengan Abu Bakar ra, saat ditanya tentang bagian warisan seorang nenek. Begitu juga Umar saat bertanya kepada Abu Musa al-Asy‘ari tentang keabsahan anjuran mengetuk pintu sebanyak tiga kali saat bertamu. Bahkan Ali bin Abi Thalib tidak akan menerima hadis dari seseorang, sebelum ia bersumpah. Begitu juga dengan Aisyah yang begitu cerdas dan kritis atas setiap hadits yang disampaikan para sahabat. Hal ini mengindikasikan bahwa para sahabat begitu antusias untuk memelihara sunnah Rasul.
Ketika permulaan masa tabi‟in, geliat kritik hadis semakin besar. Hal ini disebabkan munculnya fitnah yang menyebabkan perpecahan internal umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya para pemalsu hadis untuk mendukung golongan tertentu. Iklim yang tidak sehat ini menuntut para kritikus hadits agar lebih gencar dalam meneliti keadaan para perawi. Mereka lalu melakukan perjalanan untuk mengumpulkan sejumlah riwayat, menyeleksi dan membandingkannya, hingga akhirnya mampu memberikan penilaian atas setiap hadis.
Kritik atas hadis yang mencakup sanad dan matan tidak hanya berkutat di satu kota seperti di Madinah. Akan tetapi menjalar ke seluruh pelosok negeri Islam seperti: Makkah, Yaman, Irak, Mesir, Syam, Khurasan, Bukhara, Naisabur dan sebagainya. Di berbagai negeri inilah bermunculan para kritikus hadis sepanjang masa. Mereka senantiasa mengorbankan waktu hanya untuk membersihkan hadis-hadis dari kepalsuan, kelemahan dan cacat lainnya. Setelah abad ketiga berakhir, aktifitas kritik hadits ini mulai terlihat lebih metodologis dan sistematis yang ditandai dengan lahirnya karya-karya besar ulama seputar hadits dari segala sisinya. Sehingga sampai saat ini karya-karya fenomenal itulah yang menjadi referensi utama dalam menilai sebuah hadis.
Pada awalnya, kritik hadis hanya ditulis di pinggiran buku-buku hadits seperti: musnad, jawami, sunan dan lainnya. Ulama yang mencoba mengkritisi beberapa hadis, hanya meletakkan komentarnya di bagian akhir atau catatan kaki dalam berbagai buku induk hadis. Kemudian, cara ini dirasakan kurang efektif dan tidak cukup luas untuk mengupas kelemahan dan cacat yang terdapat dalam hadis, sehingga menuntut para ulama hadis untuk menuliskan komentar-komentar mereka dalam satu karya tersendiri. Metode kritik hadis ini terus berkembang pesat, ditandai dengan lahirnya beberapa karya ulama tentang kritik sanad hadis. Kritikan tersebut ditulis dalam kitab tersendiri dan memuat seluruh riwayat yang dimiliki oleh masing-masing perawi. Hal ini dilakukan agar penilaan atas hadis benar-benar objektif sebagaimana yang dilakukan Imam Ahmad dalam karyanya: Kitâbul Ilal fi Ma ‟rifati l Rijâl, atau: Musnad al-Mu Allal karya Ya‘qub bin Syaibah.
Selanjutnya, penulisan kritik hadis menjadi lebih sistematis dengan dilakukannya penelitian atas sanad secara terpisah dari matan. Hal ini digagas oleh pakar kritik hadis seperti Ibnu Abi Hatim dalam bukunya: al-Jarh wa Ta’dîl, dan Ilal yang begitu detail dalam melacak keabsahan hadis dari aspek matan dan perawinya. Setelah sejumlah peninggalan ulama tersebut ditelaah kembali oleh para ulama mutaakhirîn seperti al-Mizzi, Dzahabi, Ibnu Hajar dan lainnya, mereka kemudian meletakkan materi-materi kritikan dalam satu buku tersendiri tanpa memuat sanadnya secara lengkap. Kemudian mereka mendiskusikan (munaqasyah) komentar-komentar ulama hadis, hingga dapat memberikan penilaian akhir pada sebuah hadis.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Rasyid Rizani, Pokok-pokok Masalah dalam Kritik Sanad dan Matan. PDF. Muhammad Ali Qasim al-Umri. Dirâsât fi Manhaji An-Naqdi Inda al-Muhadditsîn. Darunnafais: Yordan. Cet. I, 2000.
Kronologi Munculnya Kritik Hadis 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Ketika permulaan masa tabi‟in, geliat kritik hadis semakin besar. Hal ini disebabkan munculnya fitnah yang menyebabkan perpecahan internal umat Islam. Pada masa Rasulullah saw, kritik atas hadis tidaklah begitu besar. Keberadaan Rasul di tengah-tengah mereka sudah dianggap cukup untuk menj...



Advertisement

No comments:

Post a Comment