.

Pendekatan Teologis Normatif dalam Penelitian Sosial dan Agama

 

Secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani, theos dan logos yang berarti ilmu ketuhanan. Istilah teologi dalam bahasa Yunani tersebut, dalam tradisi Islam dikenal dengan Ilmu kalam yang berarti perkataan-perkataaan manusia tentang Allah.
Pengertian harfiah tersebut dibantah oleh Karel A. Steenbrink yang mengatakan bahwa teologi kurang cocok bila dikatakan sebagai ilmu kalam yang dikenal dalam agama Islam. Di sisi lain beberapa pakar ilmu kalam yang mencoba memberikan definisi tentang teologi atau ilmu kalam diantaranya:
Terlepas dari definisi yang dilontarkan pakar tersebut, setidaknya ada tiga segi teologi yang perlu diperhatikan; teologi aktual yaitu yang melahirkan keprihatinan iman dalam wujud tingkah laku sehari-hari; teologi intelektual, yaitu teologi yang melahirkan pemikiran keagamaan berjilid-jilid yang hanya dipahami oleh para alim di bidang ini; dan teologi spiritual yang melahirkan perilaku mistik.
Dalam makna yang sederhana pendekatan teologis normatif dalam memahami agama adalah sebuah upaya dalam memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiris dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya. Menurut Amin Abdullah yang sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata berpendapat bahwa teologi sebagaimana kita pahami, tidak bisa tidak pasti mengacu kepada agama tertentu.
Eric J. Sharpe juga seperti yang dikutip Abudin Nata berpendapat bahwa loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, yakni bahasa sebagai pelaku dan bukan sebagai pengamat adalah merupakan ciri yang melekat pada bentuk pemikiran teologis.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendekatan teologi dalam studi agama adalah merupakan pendekatan iman untuk merumuskan kehendak Tuhan berupa wahyu yang disampaikan kepada para Nabinya agar kehendak Tuhan itu dapat dipahami secara dinamis dalam konteks ruang dan waktu. Secara umum, pendekatan teologis dalam studi agama bertujuan untuk mencari pembenaran dari suatu ajaran agama atau dalam rangka menemukan pemahaman keagamaan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan secara normatif idealistic.
Pendekatan teologi dalam pemahaman agama merupakan pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Dalam keadaan demikian terjadilah proses saling mengkafirkan saling menyalahkan dan seterusnya. Antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai, yang ada hanyalah ketertutupan dan terjadilah pengkotak-kotakan.
Di sisi lain, sebagaimana diketahui bahwa salah satu segi pendekatan teologi yakni segi intelektual, pendekatan ini telah banyak melahirkan ilmu-ilmu keagamaan yang mantap, baik objek maupun metodologinya. Ilmu-ilmu keagamaan tersebut antara lain ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fiqh, ilmu akhlak/tasawuf dan ilmu kalam yang masing-masing mamiliki ilmu cabang atau ilmu bantunya.
Walaupun dalam perkembangannya pendekatan teologis dalam pemikiran agama membawa manfaat yang besar bagi perkembangan pemahaman terhadap agama yang melahirkan beberapa disiplin ilmu agama, namun menurut Amin Abdullah pendekatan teologi semata-mata tidak dapat memecahkan seluruh masalah esensial pluralitas agama saat ini. Terlebih-lebih lagi kenyataan demikian harus ditambahkan bahwa doktrin teologi pada dasarnya memang tidak pernah berdiri sendiri, terlepas dari jaringan institusi dan atau kelembagaan sosial kemasyarakatan yang mendukung keberadaannya.
Walaupun pendekatan teologis dalam pemahaman agama tidak dapat menjawab semua persoalan yang dihadapi manusia, bukan berarti pendekatan teologi ini tidak perlu digunakan. Tanpa adanya pendekatan teologis, keagamaan seseorang akan mudah cair dan tidak jelas identitas dan perkembangannya.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Imam Suprayogo, Metodologi Penelitian Sosial dan Agama, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. Abednego, BA. Seputar Teologi Operatif, Yogyakarta: Kanisius, 1994. Karel A. Steenbrik, Pesantren, Madrasah dan Sekolah Pendidikan Agama Islam dalam Kurun Modern, Jakarta: LP3ES, 1986. Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999.Amin Abdullah, Studi Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Pendekatan Teologis Normatif dalam Penelitian Sosial dan Agama 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Eric J. Sharpe juga seperti yang dikutip Abudin Nata berpendapat bahwa loyalitas terhadap kelompok sendiri, komitmen dan dedikasi yang tinggi serta penggunaan bahasa yang bersifat subyektif, Secara harfiah, teologi berasal dari bahasa Yunani, theos dan logos yang berarti ilmu ketuhanan. Istilah teologi dalam bahasa Yunani ters...

Gunakan Browser Super Kencang Gratis, Klik di Sini


Advertisement

No comments:

Post a Comment