.

Guru: Antara Pendidikan dan Kesejahteraan; Refleksi Hari Guru 2011 (2)

 

Pilihan menjadi guru bagi setiap orang tentu dengan sebuah alasan. Jika kemudian pilihan itu telah dilakoni hingga sekarang, tentu saja karena setiap orang pada hakikatnya ingin bertahan dengan pilihan itu. Bertahan pada satu kecintaan yang dilematis: mengabdi sebagai guru dan kesejahteraan ketika menjadi guru.
Guru sebagai gelar telah eksis sejak sejarah peradaban manusia ada. Namun, guru sebagai profesi yang memiliki nilai peluang untuk mendapatkan kesejahteraan di Indonesia dirasakan ketika pada tahun anggaran 2009, pemerintah akhirnya memenuhi amanat Undang-Undang Dasar 1945, yaitu dengan mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pada tataran perjuangan kesejahteraan, mungkin problem guru sedikit teratasi. Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri. Seolah ingin berkata, ’’Saya adalah guru.’’ Presitius karena di tengah sulitnya mencari lahan pekerjaan, profesi guru kemudian jadi incaran.
Minat yang begitu besar menjadi guru saat ini tentu saja sebuah kegembiraan. Apalagi hal itu dikaitkan dengan keluhan bertahun-tahun negara ini tentang kurangnya tenaga guru yang profesional dan terdidik. Akan tetapi apakah keinginan seseorang menjadi guru disebabkan karena guru adalah penentu baik buruknya keberlangsungan sebuah peradaban?, atau karena guru telah berada diposisi “sejahtera” tanpa peduli akan “khittah” seorang guru? Berbagai pertanyaan itu menjadi catatan penting.
Mari kita sama-sama merefleksikan satu hal saja, tentang betapa sulitnya hari ini kita mencari guru sejati. Guru yang benar-benar menjadi “guru”. Sehingga tak perlu abdi negara lain “cemburu” dengan sosok guru yang banyak liburnya dan ditunggu “sertifikasi”.
Guru yang benar-benar guru adalah yang memiliki kemampuan awal mengajar. Filosofi mengajar harus kita garisbawahi masih dimiliki oleh guru-guru yang kini telah memasuki senja. Filosofi mereka adalah bagaimana muridnya berhasil. Filosofi itu telah mereka kerjakan bertahun-tahun tanpa mereka memperdulikan apakah pendapatan sesuai dengan pekerjaan. Di berbagai pelosok desa di tanah air, guru-guru yang memiliki filosofi itu masih terus melakukan aktivitasnya tanpa (barangkali) mereka mengerti apa itu sertifikasi guru. Kata “barangkali” masih berada dalam kurung karena kalau hari ini, yang ingin menjadi guru dengan filosofi membuat “menjadi” sudah jarang bahkan mungkin tidak ada, berarti guru yang telah berusia senja di atas gagal. Setidaknya gagal menjadikan muridnya menjadi guru yang berfilosofi seperti dirinya. Atau ada penyebab lain?, ideologi?, sistem?, atau memang kiamat sudah dekat?
Orientasi yang keliru ketika pemerintah membentuk paradigma memilih profesi guru akan berdampak pada hasil yang diperoleh, bukan mutu dan hasil kinerja guru. Peningkatan kesejahteraan guru, khususnya guru yang telah lulus program sertifikasi profesi memunculkan sentimen dari berbagai kalangan. Perolehan tunjangan sertifikasi dua kali standar gaji pokok, memunculkan perasaan cemburu. Bukan hanya sesama guru se profesi yang berstatus tenaga honorer atau guru swasta dari yayasan yang “miskin’, namun banyak kelompok PNS tenaga teknis/struktural yang dilanda cemburu karena beda pendapatan.
Meningkatnya pendapatan guru yang sejalan dengan beban edukatif yang disandangnya, adalah “jasa” dari gerakan guru paska reformasi yang berani memperjuangkan hak-haknya secara terbuka atas prinsip solidaritas. Kerangka peningkatan kesejahteraan menghilangkan aura guru yang ikhlas dan layak menjadi guru.
Memperingati hari Guru besok, admin mengajak semua guru sadar bahwa guru bukanlah robot kurikulum dan berbagai proyek-proyek berbiaya mahal yang mengatasnamakan gagasan peningkatan kualitas pendidikan.
Semua bakti guru akan diukir dalam sanubari...
Referensi Makalah®
*Refleksi Admin
Guru: Antara Pendidikan dan Kesejahteraan; Refleksi Hari Guru 2011 (2) 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Jika dulu guru berjalan dalam kesunyian, kini guru berjalan dengan tubuh tegak berdiri. Seolah ingin berkata, ’’Saya adalah guru.’’ Presitius karena di tengah sulitnya mencari lahan pekerjaan, profesi guru kemudian jadi incaran. Pilihan menjadi guru bagi setiap orang tentu dengan sebuah alasan. Jika kemudian pilihan itu telah dilakoni hingga sekarang, tentu saja kar...


Advertisement
Post a Comment