.

Biografi Abu Yazid al-Bustami; Bayazid

 

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga dikenal dengan Bayazid. Dia dikenal sebagai salah seorang sufi kenamaan Persia abad ke-III dari Bistam wilayah Qum, lahir pada tahun 874 M dan wafat pada usia 73 tahun.
Ayah Abu Yazid al-Bustami adalah seorang pemimpin di Bistam dan ibunya seorang yang zahid, sedangkan kakeknya seorang Majusi yang memeluk Islam dan menganut madzhab Hanafi. Ibunya juga seorang zahid, dan Abu Yazid al-Bustami amat patuh kepadanya.
Sungguhpun orang tuanya sebagai pemuka di Bistam, Abu Yazid al-Bustami hidup sederhana dan sangat menaruh kasih sayang kepada fakir miskin. Abu Yazid tidak pernah makan buah melon karena dia tidak tahu bagaimana cara Rasul memotongnya, ia khawatir menyalahi sunnah Rasul. Abu Yazid al-Bustami adalah seorang ahli sufi yang terkenal di Persia sekitar abad ketiga hijriyah. Ia disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan faham fana’dan baqa. Sebelum ia mendalami tasawuf ia mempelajari ilmu fiqhi terutama mazhab Hanafi. Ia memperingatkan manusia agar tidak terpedaya dengan seseorang sebelum melihat sebagaimana ia melakukan perintah dan meninggalkan larangan Tuhan, menjaga ketentuan-ketentuan dan melaksanakan syari’at-Nya.
Abu Yazid al-Bustami jarang keluar dari Bistam, dan ketika kepadanya dikatakan bahwa orang yang mencari hakikat salalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, ia menjawab: “Temanku (maksudnya Tuhan) tidak pernah bepergian dan oleh karena itu akupun tidak bergerak dari sini.” Sebagian besar dari waktunya ia gunakan untuk beribadat dan memuja Tuhan.
Perjalanan Abu Yazid al-Bustami untuk menjadi seorang sufi memakan waktu puluhan tahun. Sebelum membuktikan dirinya sebagai seorang sufi, ia terlebih dahulu menjadi seorang fakih dari Mazhab Hanafi. Salah seorang gurunya yang terkenal adalah Abu Ali al-Sindi. Ia mengajarkan ilmu tauhid, ilmu hakikat, dan ilmu lainnya kepada Abu Yazid. Hanya saja ajaran sufi Abu Yazid tidak ditemukan dalam buku.
Proses menjalani kehidupan zuhud selama 13 tahun, Abu Yazid al-Bustami mengembara di gurun-gurun pasir di Syam, hanya dengan tidur, makan, dan minum yang sedikit sekali. Pengikut al-Bustami kemudian mengembangkan ajaran tasawuf dengan membentuk suatu aliran tarikat bernama Taifuriyah yang diambil dari nisbah al-Bustami yakni Taifur. Pengaruh terikat ini masih dapat dilihat dibeberapa dunia Islam seperti Zaousfana’’, Maghrib (meliputi Maroko, al-Jazair, Tunisia), Chittagong dan Bangladesh. Makam al-Bustami terletak ditengah kota Biston dan dijadikan objek ziarah oleh masyarakat. Sebagian masyarakat mempercayai sebagai wali atau orang yang memiliki kekeramatan. Sultan Moghul, Muhammad Khudabanda memberi kubah pada makamnya pada tahun 713 H/1313 M atas saran penasehat agama sultan bernama Syaikh Syafaruddin.
Abu Yazid al-Bustami mengatakan “Dua belas tahun lamanya aku menjadi penempa; besi bagiku. Kulempar diriku dalam tungku riyadhah. Kubakar dengan api mujahadah. Kuletakkan di atas alas penyesalan diri sehingga dapatlah kujumpai sebuah cermin diriku sendiri. Lima tahun lamanya aku menjadi cermin diriku yang selalu kukilapkan dengan bermacam-macam ibadah dan ketaqwaan. Setahun lamanya aku memandang cermin diriku dengan penuh perhatian, ternyata diriku kulihat terlilit sabu takabbur, kecongkakan, ujub, riya’, ketergantungan kepada ketaatan dan membanggakan amal. Kemudian aku beramal selama lima tahun sehingga sabuk itu putus dan aku merasa memeluk Islam kembali. Kupandang para mahluk dan aku lihat mereka semua mati, sehingga aku kembali dari jenaah mereka semua. Aku sampai kepada Allah dengan pertolonganNya tanpa perantara mahluk”.
Pengalaman Abu Yazid al-Bustami yang ucapannya (pada saat sukr) kadang-kadang sulit dipahami oleh orang awam, menyebabkan sebagian ulama menentangnya, sehingga ia sementara waktu pernah mengasingkan diri di Bistam. Ia pun meninggal di tempat pengasingannya.260H. /874M. makamnya yang terletak di tengah kota itu, banyak diziarahi pengunjung. Pada tahun 713 H/1313 M.,di atas makamnya dibangun sebuah kubah atas perintah Sultan Mongol.
Kepribadian Abu Yazid al-Bustami sangat menonjol di kalangan kaum sufi Persia. Tidak banyak sufi yang mengesankan dan sekaligus membingungkan orang-orang sezamannya dan zaman-zaman sesudahnya. Dia yang memulai memperkenalkan konsep ittihad atau penyatuan asketis dengan Tuhan, penyatuan tersebut menurutnya dilalui dengan beberapa proses, mulai fana’ dalam dicinta, bersatu dengan yang dicinta, dan kekal bersamanya. Jadi wajar jika al-Bistami dianggap oleh Nicholson, sebagaimana yang dikutip oleh Lammen, sebagai pendiri tasawuf dengan ide orisinil tentang wahdatul wujud di timur sebagaimana theosofi yang merupakan kekhasan pemikiran Yunani.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Amin Syukur, Menggugat Tasawuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Abu al-‘A’la al-Afifi, Fi al-Tasawwuf al-Islamiyah wa Tarikhihi, (Kairo: Lajnah Taklif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1969). M.M. syarif, A History of Muslim Philosophy, (Otto Harrassowitz: Wiesbaden, 1966). Abuddin Nata, Ilmu Kalam Filsafat dan Tasawuf, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001). Wahid Bakhsh Rabbani, Islamic Suifism the Science of Flight, (Kuala Lumpur: Zafar, 1992). Team Penyusun Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1994).
Biografi Abu Yazid al-Bustami; Bayazid 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Pengalaman Abu Yazid yang ucapannya (pada saat sukr) kadang-kadang sulit dipahami oleh orang awam, menyebabkan sebagian ulama menentangnya, sehingga ia sementara waktu pernah mengasingkan diri di Bistam. Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga dikenal dengan Bayazid. Dia dikenal sebagai salah seorang sufi kenamaan Pers...


Advertisement
Post a Comment