.

Thoha Husein Tentang Kisah Al-Qur'an

 

Dalam pandangan dan keimanan setiap muslim, kisah dan kejadian-kejadian sejarah yang tertera dalam al-Quran dilihat dari sudut pandang realitanya adalah benar adanya dan bahwasannya ambivalensi dari apa yang dihasilkan dari sebuah kajian sejarah yang bersifat absolut dengan kisah-kisah yang dibawa oleh al-Quran tidaklah akan terjadi. Sebagai contoh pemaparan terminologi “al-malik” dan “fir'aun” dalam al-Quran, kita dapatkan bahwa al-Quran membedakan antara keduanya. Kata “al-malik”
Dalam al-Quran identik dengan penguasa mesir (non pribumi) pada masa Nabi Yusuf di era Hexos, adapun penguasa Mesir (pribumi) pada masa Nabi Musa identik dengan sebutan “fir'aun” (sebuah julukan terhadap penguasa mesir semenjak era Akhnathon). Pemilahan pemakaian dua terminologi diatas sangatlah tepat dan akurat dengan hasil penelitian seorang pakar dalam bahasa Mesir kuno yang bernama Sir Alan Gardiner dalam sebuah prasasti yang ditemukannya.18 Disamping hal ini juga sebagai penguat akan unsur-unsur I'jaz yang terkandung didalam al-Quran, dimana kalaulah kita mau meneliti lebih jauh kepada Taurat akan banyak kita dapatkan kontradiksi fakta antara hakikat-hakikat sejarah dengan substansi kandungan yang terdapat didalamnya. Sebagai contoh: dalam pemakaian terminologi “fir‘aun” sebagaimana yang tertera diatas dimana kita dapatkan Taurat memakai kata “fira'un” disaat ia harus memakai kata “almalik” dan demikian pula sebaliknya.
Ilmu sejarah dengan segala perangkat dan metodologi yang dimilikinya sangatlah memungkinkan untuk tidak dapat sampai kepada sebagian fakta-fakta sejarah yang tertera didalam al-Quran. Kelemahan ilmu sejarah untuk mengetahui dan membuktikan fakta-fakta sejarah yang tertera di dalam al-Quran dalam pandangan kami tidaklah berarti menafikan keotentikan al-Quran, bahkan sesungguhnya apa yang dikonfirmasikan oleh al-Quran dalam konteks diatas merupakan sebuah nilai tambah bagi ilmu sejarah itu sendiri.     
Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî” merupakan sebuah contoh kongkrit dari problematika diatas. Beliau berpendapat bahwasannya kisah Ibrahim dan Ismail  yang tertera didalam al-Quran merupakan sebuah mitos dan kisah fiktif yang dibuat-buat oleh Yahudi demi sebuah kepentingan politik tertentu dan dimanfaatkan oleh Islam dalam rangka kepentingan yang sama. Pendapat ini, sebagaimana yang beliau ungkapkan, merupakan hasil dari sebuah pembuktian yang bersifat absolut. Adapun postulat yang dijadikan sandaran oleh beliau dalam hal ini adalah bahwasannya para cendikiawan telah bermufakat bahwa bangsa Arab terbagi menjadi dua golongan. Salah satunya adalahGolongan Qahthâniyyah (berdomisili di Yaman);
Dalam sebuah penelitian baru disebutkan bahwasannya bahasa “Qahthâniyyin” berbeda dengan bahasa “‘'Adnâniyyin”. Atas dasar itulah, dikatakan bahwasanya penisbatan bahasa “‘Adnâniyyin” terhadap bahasa Arab yang digunakan oleh “Qahthâniyin” adalah sebagaimana penisbatan bahasa Arab terhadap bahasa-bahasa samiyah (semit) lainnya. Jikalah kisah Ibrahim dan Ismail sebagaimana yang diceritakan oleh al-Quran benar adanya, dan bahwasannya Ismail (kakek moyang ‘Adnâniyyin) beserta segenap anak cucunya pernah belajar bahasa Arab dari golongan “Qahthâniyyah”, maka bagaimana mungkin terjadi kontradiksi yang sangat mencolok dan mendasar antar bahasa Arab golongan “‘Adnâniyyah” dan golongan “Qahthâniyyah”?. Atas dasar itulah beliau berpendapat, bahwa dalam konteks di atas kita dihadapkan kepada dua tawaran, antara menerima kisah tersebut apa adanya dan menolak pembuktian yang bersifat absolut, atau malah sebaliknya. Dalam hal ini masih menurut beliau tidak ada alternatif lain kecuali menolak kisah dan menerima pembuktian yang (dianggap) bersifat absolut.
Muhammad Ahmad ‘Arfah, ketika meng-counter pendapat Thoha Husein diatas menyatakan:
Al-Quran tidak pernah menyinggung kisah belajarnya Nabi Ismail bahasa Arab dari Qahthâniyah, melainkan yang tersebut di dalamnya adalah keberadaan Ibrahim dan Ismail disamping hijrah dan pembangunan Ka‘bah yang dilakukan oleh keduanya, adapun mereka yang mengatakan bahwasannya Ismail belajar bahasa Arab dari Qahthâniyyah adalah para sejarawan bahasa.
Pembuktian yang menyatakan bahwasannya telah terdapat perbedaan yang cukup mendasar antara bahasa ‘Adnâniyyah dengan Qahthâniyyah hanyalah sebatas menafikan belajarnya Ismail dan anak cucunya bahasa Arab dari Qahthâniyyah, dan bukanlah berarti penafian terhadap kisah secara keseluruhan.
Pernyataan bahwasannya dibalik kisah Ibrahim dan Ismail ada konspirasi kepentingan antara Yahudi, kaum musyrik Makkah dan Islam baik yang bersifat politik maupun agamis tidaklah dapat dibuktikan dengan teks-teks sejarah yang otentik dan akurat; hal ini baru sebatas dugaan-dugaan saja.
Lebih dari pada itu bahwa gagasan Thoha Husein dalam konteks diatas kalaulah kita mau lebih kritis dan teliti ternyata hanyalah sebatas penjiplakan dari buah pemikiran seorang missionaris berkebangsaan Inggris dalam usahanya untuk meragukan keotentikan dan keorisinilan substansi al-Quran dalam sebuah buku yang berjudul “Dhail Maqâlah fi al Islam”.
Demikianlah Thoha Husein dalam bukunya “Fî al-Syi‘r al-Jâhilî”, sebuah karya beliau yang banyak menimbulkan polemik dalam kancah pemikiran Mesir pada tahun1926-an, disamping masih banyak lagi terobosan pemikiran yang beliau gelindingkan dalam wacana pemikiran Mesir yang masih erat kaitannya dengan tema pembahasan makalah ini. Seperti pernyataannya bahwa ayat-ayat kisah dan sejarah dalam al-Quran hanyalah terdapat pada ayat-ayat Madaniyyah saja dalam kapasitas untuk menguatkan pandangannya bahwa keadaan sosial masyarakat Makkah saat itu sangatlah rendah dan bahwasannya Muhammad banyak terpengaruhi dengan kultur Ahli Kitab saat beliau berada di Madinah. Pernyataan ini kalaulah kita rujuk kepada asbab nuzûl ayat sangatlah tidak akurat, bahkan sesungguhnya ayat-ayat kisah dan sejarah dalam Al-Qur'an malah lebih banyak kita dapatkan pada ayat-ayat Makkiyyah, seperti dalam surat al-‘'A‘raf, Yûnus, Hûd, Al-Kahfi, Maryam, Thâhâ, Yûsuf dan al-Syu‘arâ’, dimana kesemua surat tersebut sangatlah penuh dan kental dengan ayat-ayat kisah dan sejarah.
Referensi Makalah®
*Dikutip dari berbagai sumber
Thoha Husein Tentang Kisah Al-Qur'an 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Dalam al-Quran identik dengan penguasa mesir (non pribumi) pada masa Nabi Yusuf di era Hexos, adapun penguasa Mesir (pribumi) pada masa Nabi Musa identik dengan sebutan “fir'aun” Dalam pandangan dan keimanan setiap muslim, kisah dan kejadian-kejadian sejarah yang tertera dalam al-Quran dilihat dari sudut pandang real...


Advertisement
Post a Comment