.

Biografi Amien Rais

 

Amien Rais dilahirkan di Surakarta, tanggal 26 April 1944, anak kedua dari enam orang bersaudara, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah.
Ayahnya, Suhud Rais adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah, semasa hidupnya bekerja sebagai Kepala Pendidikan Agama pada kantor Departemen Agama Wilayah Surakarta dan juga sebagai guru agama serta aktivis dakwah Muhammadiyah merangkap sebagai Ketua Majelis Pendidikan Pengajaran Muhammadiyah. Sedangkan ibunya, Sudalmiyah selama 20 tahun menjadi Ketua Aisyiyah di Surakarta dan mengajar di SGKP (Sekolah Guru Kepandaian Putri) dan juga sebagai Kepala SGKT (Sekolah Guru Taman Kanak-kanak) Muhammadiyah.   
Amien Rais tumbuh dari komunitas keagamaan yang semi urban (the semi urbanized religious groups), Kampung Kepatihan Kulon, Solo, Jawa Tengah. Secara sosio-budaya, komunitas demikian sangat mementingkan rasionalitas, hubungan-hubungan impersonal, berorientasi pada prestasi meriktokrasi. Tetapi di sisi lain, unsur-unsur gemeinscaft-nya seperti nilai egalitarian, solidaritas kelompok, kolektivitas dan perkauman masih relatif kuat. Dengan kata lain, solo adalah sebuah sosok masyarakat transisional dari bentuk gemeinscaft  ke bentuk gesselscaft.
Lingkungan pendidikan dan pengalamannya di organisasi juga merupakan faktor yang membentuk kepribadiannya. Jenjang pendidikan dilaluinya sejak Taman Kanak-kanak hingga sekolah lanjutan tingkat atas, semuanya di perguruan Muahammadiyah. Hal ini disebabkan obsesi ibunya untuk menjadikan Amien sebagai seorang kiyai, ustadz atau ulama yang terkemuka. Karenanya, ia pun aktif pada organisasi-organisasi kepemudaan Muhammadiyah, termasuk kepanduan  “Hizbul Wathon “. Kecintaannya pada organisasi diawali dari keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon tersebut. Ia dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin satu regu, regu yang dipimpinnya selalu memenangkan berbagai perlombaan. Disinilah Amien kecil mulai menyadari kekuataan kebersamaan dan makna kepemimpinan.
Hasrat belajarnya sangat tinggi dan hal ini terlihat ketika ia tengah menempuh Jenjang SMP, sekolah rangkap dilakukannya; disamping sekolah umum, Amien Rais juga mengikuti pendidikan di Pesantren Mamba’ul Ulum (sekarang menjadi Madrasah Aliyah Negeri/ MAN) dan juga nyantri di Pesantren Al-Islam, Solo. Saat di bangku SMP, Amien sudah terbiasa menulis artikel di beberapa majalah dan koran Solo.Hingga konon saat dibangku SMA tulisannya mendapat tanggapan serius dari petinggi militer Jawa Barat.
Setelah tamat SMA, Ibunya menginginkan Amien melanjutkan studinya ke Akademi Tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta (kemudian menjadi IKIP Muhammadiyah, sekarang Universitas K.H. Ahmad Dahlan) dan melanjutkan ke Al-Azhar, Mesir. Sementara ayahnya lebih memilih Universitas Gajah Mada (UGM). Akhirnya Amien memilih UGM, ia kemudian diterima di dua fakultas yaitu Fakultas Ekonomi dan Fakultas Fisipol, namun ia memilih Fisipol karena ia mempunyai hasrat menjadi seorang diplomat. Untuk tidak mengecewakan ibunya, Amien mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kalijaga, Yogyakarta. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah. Selama menjadi mahasiswa, ia aktif pada organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan berhasil mendirikan oraganisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di samping kegandrungannya berorganisasi, Amien Rais juga sudah mulai aktif menulis artikel.
Pada tahun 1968 Amien menyelesaikan studinya di UGM, ia lulus dengan nilai A, dengan judul skripsi; “Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat”?. Pada tahun yang sama, Amien memperoleh beasiswa untuk program Master di University of Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat yang diselesaikan pada tahun 1974 dengan tesis mengenai Politik Luar Negeri Mesir di bawah Anwar Sadat yang dekat dengan Moskow dan akhirnya menyandang gelar MA., ia memperoleh sertifikat studi tentang Soviet dan Eropa Timur. Setelah pulang ke tanah air sebentar, ia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program doktor di University of Chicago, AS dengan mengambil bidang studi Timur Tengah. Ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1981, dengan disertasi berjudul “The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise, Demise, and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran, Keruntuhan dan Kebangkitannya kembali).
Penelitian untuk menyusun disertasinya dilakukan di Mesir dalam waktu sekitar satu tahun. Selama berada di Mesir, waktunya dimanfaatkan juga untuk menjadi mahasiswa luar biasa di Departemen Bahasa Universitas Al-Azhar, Kairo. Dengan demikian ia pun dapat mewujudkan harapan ibunya untuk kuliah di Universitas Al-Ashar, Mesir. Dan meski ia sudah menyandang gelar doktor masih saja mengambil studi di Post Doctoral George Washington University dan UCLA  Amerika Serikat, (1988-1989).
Dalam beberapa hal, kevokalan pemikiran Amien Rais sangat dipengaruhi oleh perkenalan dan pengamatannya terhadap gerakan-gerakan Islam radikal di Timur Tengah, khususnya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang menjadi obyek penelitian disertasinya. Tulisan-tulisannya yang muncul pada tahun 1980-an atau setelah ia kembali dari Amerika, menunjukkan adanya korelasi positif antara pemikirannya dan pemikiran-pemikiran yang berkembang dikalangan kelompok Islam radikal di Timur Tengah.    
Sepulang dari Studi formalnya di Negara Paman Sam, Amien mengabdikan diri pada almamaternya; FISIP UGM, Yogyakarta. Di samping itu, ia juga tercatat sebagai staf pengajar di Pasca sarjana UGM, dan Direktur Pusat Pengkajian dan Studi Kebijakan (PPSK). Dedikasinya yang tinggi pada bidang keilmuan, membuat Amien yang pernah menjabat wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini, diangkat sebagai ilmuan senior BPPT (Badan Pengkajian dan Pengemabangan Teknologi) serta anggota Dewan Riset Nasional pada Kelompok V dan Ketua I Litbang Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI).  Pada akhir tahun 1990 bersama 49 kawannya menandatangani deklarasi berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan diberi kepecayaan sebagai Asisten I Ketua Umum ICMI (periode 1990-1995), hingga periode selanjutnya ia dipercayakan memegang amanah menjadi Ketua Dewan Pakar ICMI, sebelum akhirnya ia mengundurkan diri karena kritikannya yang tajam atas proyek eksplorasi tambang emas Busang di Kalimantan Timur. Konsekuensi pengunduran dirinya juga terjadi, lantaran ia mendesak pemerintah untuk meninjau kembali kesepakatan antara pemerintah dengan PT. Freeport Indonesia dalam proyek penambangan Freeport di Tembagapura, Irian Jaya.  
Sebelumnya dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum PP. Muhammadiyah dikukuhkan pada juli 1994 menjadi Ketua Umum PP. Muhammadiyah sehubungan dengan meninggalnya K.H. Azhar Basyir, M.A. (Ketua Umum PP. Muhammadiyah pada waktu itu). Kedudukannya sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah hingga tahun 2000 terpaksa dilepaskannya dan digantikan oleh Syafi’ie Ma’arif karena tuntutan reformasi dan penumbangan rezim Soeharto yang menuntut keterlibatannya secara total. Selain itu pelepasan jabatannya sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah karena desakan teman-temannya agar ia segera memimpin partai politik untuk memperteguh penegakan reformasi.
Sosok Amien Rais dalam kancah perpolitikan Nasional dikenal sebagai tokoh yang dianggap paling konsisten dalam menegakkan keadilan dan demokrasi yang dikemas dalam profetis amar ma’ruf nahi mungkar. Perjuangan Amien Rais untuk terjadinya reformasi atau perubahan tersebut semata-mata adalah tugas intelektual, tugas seorang agamawan atau juga tugas seorang muslim pada umumnya. Dengan demikian, Amien Rais dengan tanpa beban dan tidak gentar sedikit pun terhadap berbagai resiko yang mungkin timbul akibat berbagai ungkapannya yang lugas dan apa adanya.
Sosok Amien Rais sebenarnya sudah mulai dikenal sebelum zaman reformasi, ia dikenal lewat tulisan dan ulasannya yang kritis di media massa saat ia masih berada di bangku kuliah. Sikap kritis tersebut mengantarkannya memperoleh “Zainal Zakes Award 1967” yakni sebuah hadiah jurnalistik bagi mahasiswa yang kritis.
Meski pernyataannya terdengar galak namun Amien Rais sesungguhnya adalah orang yang bersahaja dan anti kekerasan. Semboyan “reformasi damai” merupakan bagian dari penjabaran konsep high politic-nya. Sikap anti kekerasannya terbukti pada keputusan yang diambilnya untuk membatalkan rencananya; (people power) pengerahan sejuta massa di Monas pada tanggal 21 Mei 1998, dalam rangka menuntut pengunduran diri Soeharto. Amien Rais beralasan bahwa keputusannya itu semata-mata untuk menghindari jatuhnya korban karena disinyalir akan ada pihak yang mengganggu rencana itu.
Kepedulian Amien Rais terhadap Bangsa dan Negara dapat dilhat pada beberapa hasil penelitiannya yang diaplikasikan melalui karya tulis yang banyak beredar dalam khazanah perbukuan baik posisinya sebagai penulis, editor maupun memberi kata pengantar sejumlah buku. Minat dan kemampuannya dalam tulis-menulis mengarahkan dirinya menjadi pemimpin umum pada beberapa majalah. Dan karena ketekunan dan gencarnya menyeruakan kebenaran, kritis dan vokal terhadap krisis sosial, ekonomi dan politik, oleh majalah UMMAT, Amien Rais dinobatkan sebagai ‘TOKOH 1997 ’ dan kemudian mendapatkan penghargaan berupa ‘UII Awards’ dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, atas komitmennya menempuh perjuangan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan pada tanggal 31 Mei 1998 dianugerahi Reformasi Awards dari kampus IPB, serta dikukuhkan menjadi Guru Besar Ilmu Politik UGM pada 10 April 1999.
Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak terlepas pula dari peran sang istri, yang merupakan sumber ispirasi dan motivasinya, di mata Amien Rais ia adalah wanita yang luar biasa. Kusnasriyanti (istri Amien Rais) adalah seorang ibu rumah tangga biasa, untuk mengisi kesibukannya ia aktif mengasuh Taman Kanak-kanak ‘Budi Mulia’ yang berada di sebelah rumahnya, bersama pengurus Aisyiyah, ia juga membuka kedai sederhana “Warung Sala- Moslem Chinese Food” di dekat rumahnya di Gandok (Condongcatur, Depok, Yogyakarta) yang diminati banyak mahasiswa.
Dari hasil pernikahan Amien Rais dan Kusnasriyanti yang menikah pada tanggal 9 Februari 1969, dikaruniai lima orang anak; tiga putra dan dua putri. Nama-nama mereka diambil dari al-Qur’an dan dikaitkan dengan kenangan dan peristiwa yang menyertai kelahirannya. Anak yang pertama diberi nama Ahmad Hanafi, kemudian Hanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Taznim Fauzia dan yang terakhir Ahmad Baihaqy.
Demikianlah sosok Amien Rais sebagai seorang tokoh reformis yang komitmen, lugas dan apa adanya yang menjadikan dirinya sebagai seorang tokoh yang dikagumi dan merupakan public figure. Dari uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa karakter seorang Amien Rais terbentuk dari didikan orang tua, keluarga, pendidikan, dan organisasi. Menurut Almond dan Verba, karakter seorang tokoh politik ditentukan oleh berbagai agen sosialisasi politik (agent of political socialization) yang membentuk antara lain keluarga, sekolah, organisasi, kontak-kontak politik langsung atau tidak serta aspek-aspek lainnya. Sosialisasi politik adalah proses penerusan atau pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sistem, nilai, norma dan keyakinan yang dimiliki oleh suatu generasi dapat diturunkan kepada generasi berikutnya melalui beberapa media seperti keluarga, latar belakang budaya, organisasi, pendidikan dan sebagainya. 
Referensi Makalah®
Kepustakaan:  
Sidarta Gautama dan Aries Budiono, Moralitas Politik dan Pemerintahan Yang Bersih Menurut Empat Tokoh, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1999. Ahmad Bahar, Amien Rais: Gagasan dan Pemikiran Menggapai Masa Depan Indonesia Baru, Yogyakarta: Pena Cendikia, 1998. Dedy Djamaluddin Malikdan Idi Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam Indonesia: Pemikiran dan Aksi Politik Abdurrahman Wahid, M. Amien Rais, Nurcholish Madjid dan Jalaluddin Rakhmat, Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998. Lab. Ilmu Politik FISIP-UI, Menggempur Sistem Politik Orde Baru, Bandung: Mizan, 1998. Amien Rais, Membangun Politik Adiluhung: Membumikan Tauhid Sosial, Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Bandung: Zaman Wacana Mulia, 1998. Arief Afandi (Ed.), Islam Demokrasi Atas-Bawah: Polemik Strategi Perjuangan Umat Model Gusdur dan Amien Rais, dalam Fachry Ali, High Politics dan Demokratisasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997. Suara Hidayatullah, Edisi 07/X/Rajab 1418 H.  Affan Gaffar, Budaya Politik: Makna dan Perwujudan dalam Pemikiran dan Budaya Politik, Jakarta: Badan Pelatihan DEPDAGRI, 1997.
Dapatkan makalah tentang Amien Rais dan pemikirannya di sini .
Biografi Amien Rais 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Amien Rais dilahirkan di Surakarta, tanggal 26 April 1944, anak kedua dari enam orang bersaudara, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah. Amien Rais dilahirkan di Surakarta, tanggal 26 April 1944, anak kedua dari enam orang bersaudara, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aga...


Advertisement
Post a Comment