.

Material Makalah; Maf'ul Muthlaq

 

Para ahli Nahwu mengungkapkan bahwa al-maf’ul al-muthlaq sebagai mashdar yang manshub yang disebut sesudah fi’il dan lafal al-maf’ul al-muthlaq tersebut. Al-Sayyid Ahmad al-Hasyimiy mengungkapkan tentang Al-maf’ul al-muthlaq, yaitu:
المفعول المطلق – مصدر يأتي به لتأكيد عامله أو بيان نوعه أو عدده
Terjemahnya:
Al-maf’ul al-muthlaq – mashdar yang dimunculkan dengannya untuk menguatkan ‘amil-nya menerangkan macamnya dan bilangannya.
Melihat kedua pendapat yang dikemukakan di atas, dipahami bahwa Al-maf’ul al-muthlaq itu adalah mashdar yang disebut untuk menguatkan ‘amil-nya, macamnya, serta bilangannya. Jadi, dapatlah diketahui perbedaannya dengan mengemukakan contoh di bawah ini:
فهمت الدرس فهما عميقا . Kata فهما عميقا yang disebut sesudah ‘amil-nya bertujuan untuk menguatkan ‘amil itu sendiri bahwa betul ia memahami pelajaran itu dengan pemahaman yang mendalam.
تتجمل جمال المرأة . Kata جمال المرأة yaitu menerangkan macamnya. Hal ini karena mashdar itu adalah kata majemuk yang disandarkan kepada isim sesudah mashdar itu sendiri.
أزورك مرتين . Kata مرتين yaitu menerangkan tentang bilangan ziarah seseorang yang berziarah.
Menyangkut tentang mashdar pada al-maf’ul al-muthlaq, dapat pula diganti dengan mashdar yang lain dari suatu ‘amil al-maf’ul al-muthlaq. Untuk itu di bawah ini dapat dikemukakan seperti berikut:
  1. Mashdar itu harus sinonim dalam makna, contoh قمت وقوفا 
  2. Isim mashdar, contoh تكلم كلاما
  3. Mashdar musyarik dalam lafal, contoh اصطبرت صبرا
  4. Sifatnya, contoh سرت أحسن السير
  5. Dhamir yang kembali kepadanya, contoh اجتهدت اجتهادا لم يجتهده غيره
  6. Yang menunjuk kepada bilangannya, contoh ضربته ثلاث ضربات
  7. Yang menunjuk kepada macamnya, contoh لا تخبط خبط عنواء
  8. Yang menunjuk kepada alatnya, contoh ضربته عصا
  9. Yang menunjuk kepada أي وما الإستفهاميتان , contoh أي عيش تعيش
  10. Yang menunjuk kepada أي – وما – ومهما الكرطسيات
  11. Isim isyarah yang menunjuk kepada mashdar, contoh ضربته ذلك الضرب
  12. Lafal كل – ونعم – وأي الكمالية مغافات الى المصادر , contoh-contoh:
لاتميل كل ميل, وسيعت يعس السعي, وقاتل أي قاتل, واجتهاد أي اجتهاد
Jika dianalisis beberapa contoh yang dikemukakan di atas, menunjukkan bahwa mashdar sangat menentukan Al-maf’ul muthlaq itu, terutama jika ia tidak menjadi obyek yang manshb secara langsung.
Menyangkut hal tersebut di atas, dapat dilihat pada mudhaf ilaih dari sifat yang menjadi pengganti al-maf’ul muthlaq tersebut di atas. Ia disebut dari ’amil-nya itu sendiri. Seandainya ia tidak diulang dari fi’il-nya, maka sifat itu tidak dapat dikatakan sebagai pengganti dari al-maf’ul muthlaq.
Di samping itu, seandainya tidak ada mashdar yang disebut di dalam suatu kalimat, maka dapatlah dikatakan bahwa kalimat seperti itu adalah tamyiz, karena persis sama kalau seseorang mengatakan: أنا منفردا .
Pada أي وما الإستفهاميتان , seandainya tidak ada mashdar yang menjadi mudhaf ilaih, maka kalimat tersebut menjadi maf’ul bih muqaddam.
Yang lebih jelas lagi adalah isim isyarat, lafal كل سو بعض سو أي الكمالية yang disandarkan kepada mashdar. Kesemuanya itu dapat menjadi al-maf’­ul bih, seandainya tidak ada mashdar yang mudhaf ilaih. Semua lafal tersebut dapat berada pada kalimat yang lain, seperti dapat dikatakan:
اشتريت كل كتب جديدة.
أعطيتك بعض المقالات النافعة.
اقبلت أي حديعة جميلة عند سفرنا فوق الجبل.
Jadi studi tentang mashdar pada al-maf’ul al-muthlaq dapat diketemukan dari berbagai macam mashdar pengganti dan mashdar yang mudhaf ilaih, sehingga tampaklah alimat tersebut bahwa ia adalah al-maf’ul al-muthlaq.
Kepustakaan:
Mustafa M. Nuri, Diktat Pelajaran Bahasa Arab (Qawa’id Muthala’ah) Intermediate, Ujungpandang: IAIN Alauddin, 1977. Al-Sayyid Ahmad al-hasyimiy, al-Qawa’id al-Asasiyyah li al-Lugah al-‘Arabiyyah (Mishr: Mathba’ah al-Sa’adah, 1938. George Merry ‘Abd al-Masih, Mu’jam Qawa’id al-Lugah al-‘Arabiyyah fiy Jadwal wa Lauhat, Riyadh: Sahat Riyadh al-¢ulhiy, 1989.
Material Makalah; Maf'ul Muthlaq 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Melihat kedua pendapat yang dikemukakan di atas, dipahami bahwa Al-maf’ul al-muthlaq itu adalah mashdar yang disebut untuk menguatkan ‘amil-nya, macamnya, serta bilangannya. Jadi, dapatlah diketahui perbedaannya dengan mengemukakan contoh di bawah ini: Para ahli Nahwu mengungkapkan bahwa al-maf’ul al-muthlaq sebagai mashdar yang manshub yang disebut sesudah fi’il dan lafal al-maf’ul al-...


Advertisement
Post a Comment