.

Material Makalah; Konsep Hulul Bag. I

 

Kata al-hulul adalah bentuk masdar dari kata kerja halla yang berarti tinggal atau berdiam diri. Secara terminologis kata al-hulul diartikan dengan paham bahwa Tuhan dapat menitis ke dalam makhluk atau benda. Di samping itu, al-hulul berasal dari kata halla yang  berarti menempati suatu tempat (halla bi al-makani). Jadi pengertian hulul secara garis besarnya adalah menempati suatu tempat.
Sebagaimana diketahui bahwa paham al-hulul dalam tasawuf, yang pertama kali dikemukakan oleh Husain ibn Mansur al-Hallaj. pada abad ke 9 (ke-III H). Paham al-hulul inilah yang diajarkan al-Hallaj sebagai bentuk tersendiri dalam persatuan Tuhan dengan hamba (ittihad).
Menurutnya bahwa manusia dapat ittihad, bersatu dengan Tuhan, dan Tuhan mengambil tempat dalam tubuh manusia tertentu, yaitu manusia yang telah dapat melenyepakan sifat-sifat kemanusiannya melalui fana. Sebab menurut al-Hallaj, manusia itu mempunyai sifat dasar yang ganda, yaitu sifat ketuhanan dan sifat kemanusiaan (nasut), demikian pula Allah, juga mempunyai sifat dasar ketuhanan (lahut), inilah kedua sifat saling mengambil tempat. Apabila sifat-sifat kemanusiaan itu telah dapat dilenyapkan melaui fana dan sifat-sifat ketuhanan dikembangkan, maka akan tercapailah persatuan atau ittihad (menyatu) dengan Tuhan dengan bentuk hulul.
Sebagaimana telah digambarkan terdahulu bahwa al-Hallaj penganut paham hulul dan paham itulah merupakan pokok ajarannya yang ia kembanmgkan pada masa hidupnya. Dikatakan bahwa hulul merupaka salah satu bentuk kemanunggalan antara Allah swt dan manusia. Dalam bukunya yang berjudul kitab al-Tawazin, ia mengemukakan teori tentang kejadian manusia, bahwa tatkala Allah swt dalam kesendiriannya (Fil ‘ama), ia melihat dirinya sendiri (Tajalli al-Haqq Li Nafsihi). Lalu  terjadilah dialog antara Allah dan diriNya tanpa kata-kata atau huruf. Allah swt melihat ketinggian dan kemuliaan diriNya, cinta yang disifatkan tak ada bandingannya.
Cinta ini merupakan energi yang menjadi sebab wujud selain wujud Allah swt sendiri. Karena cinta itu Allah swt mengeluarkan “gambaran” diriNya (صورة من نفسه) yang mempunyai segala sifat dan namaNya. al-Hallaj berpendapat bahwa “gambaran” diri Allah swt itu adalah Adam, setelah Allah menciptakan Adam dengan cara seperti itu, maka Allah memuliakan dan mengagungkannya serta mencintainya, karena  itu, pada diri Adam Allah swt muncul dalam bentukNya.
Menurut al-Hallaj bahwa bersatunya antara orang yang cinta dengan yang dicintai adalah persatuan dimana sifat kemanusiaan orang yang cinta itu hilang dan diganti dengan sifat ketuhanan. Ketika manusia hilang sifat kemanusiaanya, maka yang tinggal adalah sifat ketuhanan pada dirinya. Pada saat itulah Tuhan masuk (bersatu) dengan dirinya, sebagaimana digambarkan dalam syair berikut:
Tuhan mengalir di antara kerinduan hati Laksana air mata mengalir di pelupuk mata. Tuhan berdiam di dalam hati nurani  Sebagaimana ruh mengambil tempat dalam tubuh. Yang dian tidak akan bergerak kecuali Tuhan yang menggerakkan
Kendatipun Tuhan berada di tempat yang tersembunyi.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa rasa cinta yang mendalam kepada alat merupakan syarat utama untuk mencapai hulul, di mana Allah mengambil tempat pada diri manusia.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, al-Hallaj berpendapat bahwa Allah swt mempunyai aspek al-lahut dan al-nasut, sehingga Adam As. sebagai gambaran Allah swt mempunyai aspek al-nusut dan  al-lahut. Itu artinya bahwa dengan potensi lahut yang ada pada manusia dapat bersatu (ittihad) dengan Tuhan, dan Tuhan dengan potensi (sifat) nasut yang ada pada Tuhan, ia dapat mengambil bentuk pada manusia atau hambanya.
Al-Hallaj memberikan tafsiran terhadap ayat  34  surah al-Baqarah yang berbunyi:
وإذ قلنا للملائكة اسجدوا لأدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين
Ketika kami berkata kepada Malaikat-malaikat: sujudlah kepada Adam, mereka sujud kecuali Iblis, yang enggan dan merasa dirinya (takabbur) sehingga menjadi golongan Kafir.
Dalam menafsirkan sujud pada ayat tersebut di atas, menurut al-Hallaj bahwa Allah  swt  memberi perintah kepada Malaikat, Iblis untuk sujud kepada Adam, karena menurutnya pada diri Adam as Allah swt menjelma sebagaimana ia menjelma kedalam tubuh Nabi Isa as.  
Teori Lahut dan Nasut ini ia anggap Tuhan sebagai gambaran pada diriNya yang ia ciptakan Adam as, dan Isa al-Masih, dengan segala sifat dan kebesaranNya. Konsepsi ini pula yang dituangkan al-Hallaj dalam ucapannya yang berbunyi:
سبحان من أظهر نا سوته - سر سنا لا هوته الناقب ثم بدا في خلقه ظاهرا - في صورة إلا كل والشارب حتى لقد عاينه خلقه - كلحظة الحاجب بالحاجب
Maha suci dzat yang menampakkan sifat nasutnya, kemanusiaanNya, menyikapkan rahasia (takbir) ketuhanannya, kemudian tampaklah ia bagi makhluknya, dalam bentuk manusia yang makan dan minum. Sehingga dapat dilihat oleh manusia sekejab tabir yang terbuka.
Kemanunggalan manusia dan Allah swt dalam bentuk hulul tersebut merupakan tingkatan tertinggi dalam paham tasawwuf al-Hallaj. Terjadinya hulul itu, manusia terlebih dahulu harus menghilangkan aspek-aspek al-nasut dengan jalan fana. Untuk mencapai fana seseorang sufi harus meniti sejumlah maqam (tahap-tahap latihan kerohanian), apabila aspek al-nasut telah hilang, maka tinggal pada diri manusia (sufi) itu hanyalah aspek lahutnya  saja. Ketika itulah aspek al-nasut Allah swt bersatu dengan aspek al-lahut manusia.
Al-Hallaj sebagai pencetus pamam hulul, ia telah mengaku dirinya bersatu dengan Tuhan, dan Tuhan mengambil tempat pada tubuhnya sebagaimana kata syairnya di bawah ini:
مزجت روحك فى روحي كما - تمزج الجمرة بالماء الزلال. فإذا امسك شيء مسني - فإذا أنت آنا في كل حال. أنا من أهوي ومن أهوي أنا- نحن روحان حللنا بدنا. فإذا أبصرتني أبصرته - وإذا أبصرته أبصرتنا.
Jiwamu disatukan dengan jiwamu sebagimana anggur disatukan dengan air suci. dan jika ada sesuatu yang menyentuh engkau, ia menyentuh aku pula dan ketika itu dalam tiap hal engkau adalah aku, aku adalah dia yang kucintai adalah aku. Kami adalah dua jiwa yang bertempat dalam satu tubuh, jika engkau lihat aku engkau lihat dia engkau lihat kami.
Admin mohon maaf, referensi makalah tentang hulul ditutup sementara. Jika anda ingin membaca kelanjutannya komplit dengan kepustakaan material ini, silahkan klik di sini
Referensi Makalah®
Material Makalah; Konsep Hulul Bag. I 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Kata al-hulul adalah bentuk masdar dari kata kerja halla yang berarti tinggal atau berdiam diri. Secara terminologis kata al-hulul diartikan dengan paham bahwa Tuhan dapat menitis ke dalam makhluk atau benda. Kata al-hulul adalah bentuk masdar dari kata kerja halla yang berarti tinggal atau berdiam diri. Secara terminologis kata al-hulul diarti...



Advertisement

No comments:

Post a Comment