.

Latar Belakang Pemikiran al-Maududi

 

Selama kurang lebih 11 tahun Al-Maududi mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya yang bernama Ahmad Hasan. Ayahnya seorang Sufi yang sangat shaleh dan taat beragama serta ketat dalam memegang ajaran Islam, telah menanamkan benih-benih kesalehan kepada Al-Maududi. Sehingga pola pemikiran Al-Maududi telah dipengarahui oleh pola pemikiran ayahnya. Ahmad Hasan (1855-1919) ayah Al-Maududi pernah mengecap pendidikan di Aligirah Universitas yang didirikan oleh Ahmad Khan (1817-1898) seorang pembaharu Islam di India.
Ketika berusia 14 tahun dia mendapatkan pendidikan agama secara tradisional dan pendidikan umum di Madrasah Fauqaniyah, dan melanjutkan pendidikan tingginya di Dar al-Ulum Hyderabad salah satu lembaga pendidikan  tinggi yang mencetak ulama-ulama India. Ketika Al-Maududi sedang belajar di perguruan tinggi Dar al-Ulum di Hydrabad, ayahnya sakit kemudian meninggal, setelah itu pendidikan Al-Maududi terhenti secara formal.
Sepeninggal ayahnya, Al-Maududi bekerja di suatu penerbitan di India, sambil bekerja dia juga mempelajari sastra tafsir, mantiq dan filsafat secara otodidak yang berlangsung sejak tahun 1916 hingga 1928. Setelah keadaan ekonominya memadai dia memperdalam ilmu-ilmu agama secara tutorial kepada para ulama-ulama 
Bahkan menurut Al-Maududi, bahwa pemikirannya sangat dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan Syeh Waliyullah dan pemikiran tokoh tersebut berperang penting dalam pembentukan pemikirannya.
Menurut admin, boleh jadi pemikiran tokoh-tokoh di atas, diperoleh dan dipelajari dari ulama-ulama India ketika Al-Madudi masih belajar secara formal, baik di Madrasah Fauqaniyah dan di Dar al-Ulum Serta ketika dia belajar agama pada ulama-ulama India secara tutorial, ditambah pengaruh pemikiran ayahnya yang sudah bersentuhan dengan pembaharu India misalanya Ahmad Khan
Pada tahun 1919, ketika Al-Maududi berumur 16 tahun  di India timbul gerakan khilafah dengan tujuan mendukung kelangsungan khilafah Islamiyah pada dinasti Usmaniyah yang berpusat di Istanbul  yang dipimpin oleh Muhammad Ali (1878-1931) dan Abul Kalam Azad (1888-1958). Al-Maududi menggabungkan diri dengan gerakan tersebut.
Pada tahun 1925, ketika Al-Maududi berumur 22 tahun seorang tokoh dari gerakan kebangunan Hindu, Swami Shradhanand, dibunuh oleh seorang Ektremis Islam yang berkeyakinan bahwa salah satu tugas agama bagi setiap Muslim ialah membunuh orang-orang kafir.
Peristiwa tersebut kemudian menyulut perdebatan terbuka dan sengit; dalam perdebatan itu antara lain dilemparkan tuduhan bahwa Islam adalah agama yang disiarkan dengan pedang (kekerasan). Ketika itu, seorang tokoh Islam Muhammad Ali Jauhar, dalam suatu pidatonya dengan menangis menghimbau  apakah tidak ada di antara tokoh-tokoh Islam yang sanggup menjawab tuduhan itu.
Al-Maududi tergerak oleh tangis itu dan merasa terpanggil untuk memenuhi imbauan itu, dia menulis sejumlah artikel dan diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul “Perang Dalam Islam”. Al-Maududi menjelaskan sikap Islam terhadap peperangan/kekerasan, disamping itu dia juga mulai memperkenalkan butir-butir pikirannya yang berkembang menjadi konsepsi Islam tentang kemasyarakatan dan kenegaraan.
Potensi yang dimiliki Al-Maududi dalam bidang tulis menulis (kewartawanan) dan pengaruh pemikiran tradisional yang diperoleh Al-Maududi baik dari ayahnya maupun dari ulama-ulama India serta pengalamannya ketika menggabungkan diri pada gerakan khilafah Islamiyah telah memberikan inspirasi  dalam menulis artikel yang pada tahun 1927 diterbitkan dalam satu buku dengan judul “Perang Dalam Islam”
Pada tahun 1930 telah terjadi Peristiwa politik yang sangat mempengaruhi sikap pikiran Al-Maududi. Peristiwa tersebut adalah gerakan kemerdekaan India khususnya masalah hari depan  hubungan antara umat Hindu dan Umat Islam selepas India  dari penjajahan Inggris. Gerakan kemerdekaan tersebut telah memberikan tawaran kepada Umat Islam India.  Namun Al-Maududi menentang keras tawaran yang diberikan baik dari tawaran partai Kongres yang dipimpin oleh Mahatma Gandhi maupun tawaran dari Liga Muslim yang dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah.  
Dengan sikapnya yang menentang masuknya Umat Islam India dalam satu negara tunggal India yang akan didominasi umat Hindu (tawaran dari Partai Kongres) dan penolakannya terhadap gagasan mendirikan negara nasional Islam (tawaran dari Liga Muslim). 
Al-Maududi berpendirian bahwa sebagai jalan keluar harus diadakan revolusi yaitu usaha gradual dan bertahap, tanpa menggunkan kekerasan untuk mengadakan transformasi kehidupan umat Islam. 
Pada tahun 1940-an muncul wacana baru di India tentang pemisahan antara umat Islam India dan Umat Hindu dalam suatu negara. Sebahagian umat Islam menginginkan terwujudnya suatu negara terpisah bagi umat Islam India dan sebahagian yang lain tetap menginginkan suatu negara India yang mencakup umat Islam dan umat Hindu dalam satu negara India.
Menghadapi adanya kedua aspirasi politik di atas, Al-Maududi mempunyai persektif jauh kedepan. Dia memformulasikan adanya tiga tantangan yang harus ditangani dengan baik bila salah satu aspirasi politik tersebut terwujud. (1) Apa yang harus dilakukan oleh orang-orang Islam yang tinggal di India bila terjadi perpecahan (2) Apa yang harus dilakukan bila India tidak mengalami perpecahan (3) Apa yang harus dilakukan untuk mencegah negara muslim baru menjadi non muslim dan mengarahkannya menjadi negara Islam yang sebenarnya. Untuk menangani ketiga tantangan tersebut, Al-Maududi mempersiapkan diri dengan suatu gerakan yang terorgansir dengan baik yaitu Jamiah Islamiyah didirikannya pada tahun 1941 dan menjadi pemimpinnya selama kurang lebih 30 tahun
Banyak faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Jamiah Islamiyah. Namun faktor yang sangat besar pengaruhnya adalah terjadinya ketegangan politik yang semakin mencekam di India, setelah Liga Muslim mencetuskan Resolusi Lahore, pada tahun 1940, Resolusi itu menuntut Pakistan sebagai tanah air muslim sebagai sebuah negara terpisah dari India.
Liga Muslim yang mencetuskan resolusi pembentukan Pakistan, menurut analisa Al-Maududi, sebenarnya bukanlah partai Islam, tetapi partai sekuler. Partai ini mencantumkan Nasionalsme Muslim sebagai asasnya dan bukannya Islam. Bagi Al-Maududi ini merupakan bukti yang menunjukkan ketidak-Islaman partai yang dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah dan Liaquat Ali Khan, kedua tokoh tersebut berpendidikan barat dan tidak mengerti Islam.
Dari beberapa hal di atas dapatlah dipahami bahwa latar belakang pemikiran Al-Maududi tidak terlepas dari situasi dan kondisi lingkungan di mana Al-Maududi itu berada.
Menurut penulis, bahwa pemikiran Al-Maududi merupakan kombinasi pemahaman Islam yang ortodoks, sikap politik yang fundamentalis  dan tidak mau kompromi kepada barat, hal itu disebabkan karena pola pendidikan Al-Maududi bersifat tradisional yang tidak terpengaruh dengan pola pemikiran barat. Di samping itu, pemikirannya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh tokoh-tokoh India seperti Muhammad Ali, Abul Kalam Azad, Muhammad Iqbal Nu’man bahkan dari luar seperti Hasan Al-Banna yang dianggap sebagai inspirator pemikirannya.
Adanya fenomena sosial-politik yang terjadi di India telah memberikan peluang kepada Al-Maududi untuk bangkit melawan pengaruh pemikiran barat yang dianggapnya tidak sesuai dengan pola yang diterapkan oleh Rasulullah dan Khulafa rasyidin (Al-Quran dan hadits)       
Referensi Makalah®
*Berbagai sumber
Latar Belakang Pemikiran al-Maududi 4.5 5 Mushlihin Al-Hafizh Ketika berusia 14 tahun dia mendapatkan pendidikan agama secara tradisional dan pendidikan umum di Madrasah Fauqaniyah, dan melanjutkan pendidikan tingginya di Dar al-Ulum Hyderabad salah satu lembaga pendidikan tinggi yang mencetak ulama-ulama India. Selama kurang lebih 11 tahun Al-Maududi mendapatkan pendidikan langsung dari ayahnya yang bernama Ahmad Hasan. Ayahnya seorang Sufi yang s...


Advertisement
Post a Comment